Misi Kemanusiaan di Tengah Gejolak: Golkar Puji Keberhasilan Pemerintah Pulangkan 9 WNI dari Israel
Minggu, 24 Mei 2026 19:34 WIB
Kabarmalam.com — Kepulangan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat tertahan oleh otoritas Israel menjadi angin segar di tengah ketegangan geopolitik global. Langkah taktis dan respons cepat pemerintah dalam menyelamatkan para aktivis kemanusiaan ini pun menuai pujian luas, salah satunya datang dari Partai Golkar yang memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan jalur diplomasi tersebut.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, menegaskan bahwa tindakan penyekapan yang dilakukan oleh Israel terhadap para aktivis dan jurnalis Indonesia adalah pelanggaran serius terhadap prinsip hukum humaniter internasional. Menurutnya, tidak ada alasan yang dapat membenarkan penahanan mereka yang sedang menjalankan misi mulia demi kemanusiaan.
Diplomasi Proaktif di Balik Pemulangan
Ace menilai pemerintah telah menunjukkan taringnya dalam melindungi warga negara di luar negeri. Melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Turki, langkah-langkah strategis dilakukan secara intensif untuk memastikan keselamatan para relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 tersebut.
“Kami melihat pemerintah sangat proaktif, terutama koordinasi melalui KBRI di Turki yang berhasil menjemput dan membawa pulang saudara-saudara kita yang disekap. Ini adalah bentuk nyata kehadiran negara,” ujar Ace saat ditemui di markas DPP Partai Golkar, Jakarta Barat.
Ia juga menambahkan bahwa para aktivis dan jurnalis yang terjun ke wilayah konflik seperti Gaza memerlukan proteksi ekstra. Tugas mereka bukan sekadar menyalurkan bantuan, melainkan menjadi mata dunia untuk mengabarkan realita yang sebenarnya terjadi di tanah Palestina.
Memastikan Hak dan Pemulihan Relawan
Pasca pemulangan ini, Golkar menekankan pentingnya pendampingan lanjutan bagi kesembilan WNI tersebut. Ace Hasan menyoroti kemungkinan adanya trauma atau kekerasan fisik yang dialami selama masa penahanan. Ia mendesak agar hak-hak mereka dipenuhi sepenuhnya, termasuk advokasi hukum jika terbukti terjadi tindakan di luar batas kemanusiaan oleh pihak Israel.
Di sisi lain, situasi di Timur Tengah yang kian dinamis akibat perseteruan antara Israel-Amerika Serikat melawan Iran turut menjadi perhatian. Keberadaan Board of Peace (BoP) sebagai instrumen perdamaian dianggap perlu dikaji ulang efektivitasnya dalam meredam konflik yang semakin tidak menentu.
Kronologi Penangkapan di Perairan Internasional
Drama penangkapan ini bermula pada Senin (18/5/2026), ketika pasukan angkatan laut Israel mencegat armada kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla secara paksa. Sejumlah relawan lintas negara, termasuk sembilan putra terbaik Indonesia, dibawa dan ditahan oleh otoritas setempat.
Setelah melalui tekanan diplomatik yang kuat, mereka akhirnya dibebaskan pada Kamis (21/5/2026) dan diterbangkan menuju Turki sebelum akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu sore. Suasana haru menyelimuti kedatangan mereka; lilitan keffiyeh dan kibaran bendera Palestina menyambut para pejuang kemanusiaan ini di terminal kepulangan.
Daftar 9 WNI yang Telah Kembali ke Tanah Air
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut adalah nama-nama relawan dan jurnalis yang berhasil dipulangkan:
- Herman Budianto Sudarson (GPCI-Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro
- Ronggo Wirasanu (GPCI-Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro
- Andi Angga Prasadewa (GPCI-Rumah Zakat) – Kapal Josef
- Asad Aras Muhammad (GPCI-Spirit of Aqso) – Kapal Kasr-1
- Hendro Prasetyo (GPCI-SMART 171) – Kapal Kasr-1
- Bambang Noroyono (Jurnalis Republika) – Kapal BoraLize
- Thoudy Badai Rifan Billah (Jurnalis Republika) – Kapal Ozgurluk
- Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis Tempo) – Kapal Ozgurluk
- Rahendro Herubowo (Tim Medis)
Keberhasilan pemulangan ini menjadi pengingat bahwa di tengah bara konflik Israel-Palestina, solidaritas kemanusiaan tetap berdiri tegak, didukung oleh diplomasi kedaulatan yang tak kenal menyerah.