Ancaman di Balik Berat Badan: Mengapa Obesitas Kini Jadi Pemicu Utama Risiko Kanker?
Sabtu, 23 Mei 2026 14:34 WIB
Kabarmalam.com — Selama ini, masyarakat awam cenderung mengaitkan masalah obesitas hanya dengan ancaman penyakit jantung atau diabetes. Namun, sebuah fakta medis yang lebih mengkhawatirkan mulai mengemuka ke permukaan: kelebihan berat badan kini menjadi salah satu faktor risiko utama yang memicu perkembangan sel kanker di dalam tubuh manusia.
Dalam gelaran The 6th Siloam Oncology Summit yang berlangsung di Jakarta, Spesialis Penyakit Dalam Sub Spesialis Hematologi Onkologi Medik, dr. Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM, membedah kaitan erat antara indeks massa tubuh dengan keganasan medis tersebut. Berdasarkan penelitian terhadap 13 jenis kanker, ditemukan korelasi yang sangat kuat dengan kondisi obesitas.
Kaitan Erat Usia dan Indeks Massa Tubuh
Dr. Santi mengungkapkan sebuah data yang cukup mengejutkan mengenai demografi pasien. Menurutnya, prevalensi obesitas pada penderita kanker sangat tinggi, terutama pada kelompok usia lanjut. “Hampir 90 persen lebih pasien obesitas dapat ditemukan pada pasien kanker yang usianya menginjak 50 tahun ke atas,” tuturnya di hadapan para peserta seminar.
Penelitian yang dilakukan di wilayah Asia juga menyoroti bagaimana Body Mass Index (BMI) yang tinggi berbanding lurus dengan tingkat mortalitas atau kematian akibat kanker. Data tersebut memetakan jenis kanker apa saja yang paling sering muncul akibat akumulasi lemak berlebih, di antaranya:
- Pada Pria: Kanker usus, kanker hati (liver), dan leukemia.
- Pada Wanita: Kanker usus, kanker payudara, dan kanker uterus (rahim).
Mekanisme Biologis: Mengapa Lemak Memicu Kanker?
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana timbunan lemak bisa berubah menjadi pemicu tumor ganas? Secara patofisiologi, dr. Santi menjelaskan ada tiga pilar utama yang menjadi penyebabnya. Kondisi berat badan berlebih menciptakan lingkungan yang ideal bagi sel kanker untuk tumbuh melalui:
- Resistensi Insulin: Ketidakmampuan tubuh memproses insulin dengan baik yang memicu pertumbuhan sel abnormal.
- Inflamasi Kronis: Peradangan jangka panjang di dalam tubuh yang merusak jaringan sehat.
- Perubahan Metabolisme Hormon: Ketidakseimbangan hormon yang mengganggu fungsi organ.
“Kondisi inflamasi kronis ini menyebabkan perubahan pada fungsi imun tubuh. Sel T dan sel B yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melawan benda asing justru terdepresi atau melemah. Akibatnya, efektivitas sistem imun sebagai antitumor menurun drastis,” jelas dr. Santi lebih lanjut.
Langkah Preventif melalui Gaya Hidup
Fenomena ini menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap gaya hidup sehat. Menjaga berat badan ideal bukan lagi sekadar urusan estetika atau penampilan semata, melainkan sebuah investasi nyawa untuk menghindari risiko keganasan medis di masa depan.
Para ahli menyarankan agar deteksi dini dan pemantauan indeks massa tubuh dilakukan secara berkala. Dengan memahami bahwa obesitas adalah pintu masuk bagi berbagai penyakit kronis, diharapkan kesadaran publik terhadap kesehatan metabolik dapat meningkat demi menekan angka kematian akibat kanker di Indonesia.