Ikuti Kami
kabarmalam.com

Benarkah Sarden Kalengan Bukan UPF? Begini Penjelasan Ahli Soal Pilihan Makanan Sehat

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 22 Mei 2026 07:34 WIB
Benarkah Sarden Kalengan Bukan UPF? Begini Penjelasan Ahli Soal Pilihan Makanan Sehat

Kabarmalam.com — Belakangan ini, jagat maya diramaikan oleh perbincangan hangat mengenai sarden kalengan. Banyak netizen yang mulai beralih mengonsumsi produk ini karena beredar klaim bahwa sarden dalam kemasan tidak termasuk dalam kategori Ultra Processed Food (UPF). Namun, di balik tren kepraktisan tersebut, para pakar kesehatan justru melayangkan pengingat penting bagi masyarakat.

Real Food Tetap Menjadi Standar Emas Kesehatan

Meski status klasifikasinya diperdebatkan, praktisi kesehatan dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa pilihan terbaik untuk tubuh tetaplah bahan pangan utuh atau real food. Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan ini, setiap produk olahan memiliki sisi misterius dalam proses produksinya.

“Kalau menurut saya, tetap yang paling sehat itu adalah real food. Karena kita tidak pernah tahu secara pasti bagaimana seluruh proses di balik sebuah produk makanan olahan dilakukan,” ungkap dr. Aru saat dihubungi oleh tim redaksi.

Baca Juga  Misteri di Balik Kepala Lele: Benarkah Berbahaya Dikonsumsi atau Sekadar Masalah Tekstur?

Ia menjelaskan bahwa makanan kemasan sering kali mengandung campuran atau zat tambahan yang sulit dipantau keamanannya secara mandiri oleh konsumen. Walaupun regulasi ketat sudah diterapkan oleh otoritas terkait, risiko adanya penyimpangan atau dampak jangka panjang dari bahan tambahan pangan tetap menjadi hal yang patut diwaspadai.

Ancaman Penyakit Metabolik di Usia Muda

Fenomena pergeseran pola konsumsi ke arah makanan instan ini rupanya berkorelasi erat dengan data epidemiologi saat ini. Gaya hidup modern yang serba cepat memicu lonjakan angka penyakit yang dulu identik dengan usia tua, kini justru menyerang generasi muda.

“Angka kejadian penyakit saat ini jauh lebih meningkat dibandingkan zaman dulu. Sekarang, orang di usia 30-an saja sudah banyak yang mengalami gangguan metabolik, seperti hipertensi dan diabetes,” jelas dr. Aru dengan nada prihatin. Ia menambahkan bahwa kasus diabetes dan hipertensi pada usia produktif kini mencapai angka yang mengkhawatirkan, sebuah tren yang dipicu oleh dominasi konsumsi makanan olahan.

Baca Juga  Pelajaran Berharga dari Tuban: Kisah Pemuda 26 Tahun yang Terjebak Ritual Cuci Darah Akibat Mi Instan

Dilema Kesibukan dan Pilihan Praktis

Kendati demikian, dr. Aru tidak menutup mata terhadap realitas sosial yang ada. Mengandalkan makanan sehat yang diolah sendiri dari bahan segar bukanlah perkara mudah bagi masyarakat perkotaan yang memiliki jadwal padat.

Faktor kesibukan, kurangnya waktu untuk berbelanja ke pasar, hingga keterbatasan energi untuk memasak membuat banyak orang akhirnya menyerah pada pilihan yang paling praktis. Sarden kalengan dan produk serupa menjadi solusi instan di tengah himpitan waktu. Namun, kesadaran akan risiko kesehatan tetap harus menjadi kompas utama dalam memilih apa yang masuk ke dalam tubuh kita.

Pada akhirnya, perdebatan apakah sarden kalengan masuk kategori UPF atau bukan mungkin penting secara teknis. Namun, bagi mereka yang memprioritaskan kesehatan jangka panjang, kembali ke alam dengan mengonsumsi ikan segar dan sayuran utuh tetaplah langkah yang paling bijaksana.

Baca Juga  Mengenal Tren Food Order: Benarkah Urutan Makan Bisa Menjinakkan Lonjakan Gula Darah?
Tentang Penulis
Wahid
Wahid