Tensi Memuncak di Teluk: Iran Perluas Blokade Selat Hormuz Hingga Perairan Uni Emirat Arab
Kamis, 21 Mei 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi ketegangan di kawasan Teluk kini memasuki fase yang semakin krusial. Teheran dilaporkan telah memperluas zona kendali maritimnya di Selat Hormuz, sebuah langkah berani yang kini menjangkau hingga ke perairan di selatan pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Wilayah ini sejatinya merupakan titik strategis yang menampung infrastruktur minyak vital, yang awalnya dirancang khusus untuk mengamankan distribusi energi dunia tanpa harus bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Sejak pecahnya konflik bersenjata yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat pada akhir Februari lalu, lalu lintas di Selat Hormuz praktis berada di bawah cengkeraman ketat Iran. Sebagai jalur pelayaran global yang menjadi urat nadi energi dunia, penutupan efektif jalur ini oleh Iran telah menciptakan guncangan pada stabilitas ekonomi internasional.
Dominasi PGSA dan Aturan Transit Baru
Langkah ekspansi ini diumumkan secara resmi oleh Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA), badan bentukan Iran yang bertugas mengelola jalur perairan tersebut. Melalui rilis resmi di media sosial, PGSA menguraikan yurisdiksi baru yang mencakup area mulai dari garis pantai Kuh-e Mubarak di Iran hingga wilayah selatan Fujairah di UEA. Selain itu, cakupan ini juga membentang dari ujung Pulau Qeshm hingga ke wilayah Umm Al-Quwain.
Bagi kapal-kapal internasional, aturan baru ini membawa implikasi serius. Setiap kapal yang berniat melakukan transit wajib melakukan koordinasi ketat dan mengantongi izin resmi dari PGSA. Teheran tidak main-main dengan kebijakan ini; mereka bahkan telah menetapkan struktur biaya pelayaran dan melayangkan ancaman tegas untuk menindak, bahkan menyerang, kapal mana pun yang berani melintas tanpa restu otoritas mereka.
PGSA menegaskan identitasnya sebagai satu-satunya badan hukum dan otoritas perwakilan Republik Islam Iran yang memegang kendali penuh atas manajemen jalur dan transit di seluruh area Selat Hormuz. Keberadaan badan ini semakin mempertegas ambisi Teheran untuk mengontrol jalur pelayaran global tersebut secara total.
Keretakan Hubungan Teheran dan Abu Dhabi
Perluasan blokade ini semakin memperkeruh hubungan diplomatik antara Iran dan Uni Emirat Arab yang sudah berada di titik nadir. Ketegangan ini memuncak setelah Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone terhadap negara-negara Teluk, sebagai respons atas agresi pihak barat. Iran bahkan menuding UEA memiliki peran aktif dalam mendukung operasi militer musuh, sebuah klaim yang dengan tegas dibantah oleh pihak Abu Dhabi.
Di sisi lain, UEA secara terbuka menentang dominasi sepihak Iran atas Selat Hormuz. Pemerintah Uni Emirat Arab menyerukan perlunya aksi kolektif internasional untuk menjamin kebebasan navigasi, mengingat pentingnya jalur ini bagi keamanan energi dunia. Namun, dengan kendali fisik yang kini semakin meluas ke wilayah kedaulatan maritim UEA, tantangan untuk menjaga stabilitas di kawasan Teluk tampaknya akan menjadi semakin berat bagi komunitas global.
Hingga saat ini, situasi di lapangan tetap dipantau ketat oleh berbagai kekuatan dunia, mengingat dampak ekonomi yang bisa ditimbulkan jika distribusi minyak melalui jalur ini benar-benar terhenti total akibat kebijakan sepihak Teheran.