Temuan Pilu Pasca Tragedi Little Aresha: Belasan Balita Alami Gangguan Tumbuh Kembang dan Masalah Gizi
Kamis, 21 Mei 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Kabar kurang sedap kembali datang dari penanganan dampak kasus daycare Little Aresha di Yogyakarta. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengungkapkan temuan yang cukup mengkhawatirkan terkait kondisi fisik dan psikis anak-anak yang pernah dititipkan di lembaga tersebut. Berdasarkan hasil skrining medis, belasan anak terdeteksi mengalami penyimpangan perkembangan yang memerlukan penanganan serius.
Kepala Bidang Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap 153 anak. Proses ini melibatkan tim psikolog klinis yang bekerja berdasarkan pedoman Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) untuk memetakan apakah tumbuh kembang anak sudah sesuai dengan standar usianya atau justru mengalami hambatan.
Identifikasi Gangguan Perkembangan
Hasil dari pemeriksaan tersebut menunjukkan angka yang patut menjadi perhatian. Dari total peserta skrining, tercatat 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan yang nyata, sementara 19 anak lainnya berada dalam kategori meragukan. Beruntung, 122 anak sisanya masih berada dalam kondisi perkembangan yang normal.
Aan memaparkan bahwa jenis penyimpangan yang ditemukan cukup beragam. Beberapa di antaranya menunjukkan gejala keterlambatan bicara atau speech delay. Selain itu, terdapat temuan gejala yang mengarah pada spektrum autis serta ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). “Anak-anak ini cenderung lebih hiperaktif dibandingkan rekan sebaya mereka, sehingga diperlukan rujukan medis lebih lanjut untuk penanganan yang tepat,” tuturnya dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta.
Catatan Masalah Gizi pada Korban
Selain aspek psikologis dan perkembangan saraf, tim nutrisionis juga melakukan pemantauan ketat terhadap status nutrisi anak melalui pengukuran antropometri. Dari 149 anak yang menjalani pemeriksaan pertumbuhan, ditemukan 18 anak yang mengalami masalah gizi, khususnya dalam kategori berat badan kurang dan gizi kurang.
Meskipun demikian, pihak Dinkes meminta masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan. Aan menegaskan bahwa kondisi ini merupakan tahap awal kekurangan gizi dan belum masuk ke kategori gizi buruk yang bersifat fatal. “Secara kasat mata mungkin tidak terlihat ada kekurangan, namun karena kita menggunakan standar antropometri yang akurat, ditemukan bahwa berat badan beberapa anak memang belum mencapai angka ideal,” tambahnya.
Langkah Antisipasi dan Rujukan Rumah Sakit
Sebagai langkah tindak lanjut, para korban kini mulai diarahkan ke Puskesmas setempat untuk mendapatkan pendampingan berkelanjutan. Dinkes Kota Yogyakarta berkomitmen untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses kesehatan yang optimal. Jika fasilitas di tingkat dasar dianggap tidak mencukupi, pemerintah telah menyiapkan skema rujukan ke rumah sakit yang lebih besar.
“Kami sudah berkoordinasi dengan RS Pratama, RSUD Kota Yogyakarta, hingga RSUP Dr Sardjito. Tim dokter spesialis anak dan psikolog di sana sudah siap siaga jika memang diperlukan penanganan medis tingkat lanjut,” tegas Aan menutup penjelasannya. Langkah ini diambil agar dampak negatif dari pengalaman mereka di daycare tersebut bisa diminimalisir dan anak-anak dapat kembali tumbuh dengan sehat.