Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Klaster Kapal Pesiar MV Hondius: Begini Nasib Kontak Erat Hantavirus di Jakarta

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 12 Mei 2026 05:34 WIB
Waspada Klaster Kapal Pesiar MV Hondius: Begini Nasib Kontak Erat Hantavirus di Jakarta

Kabarmalam.com — Di tengah sorotan global terhadap ancaman kesehatan yang muncul dari perjalanan internasional, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bergerak sigap melakukan pelacakan terhadap potensi sebaran Hantavirus. Baru-baru ini, seorang Warga Negara Asing (WNA) yang berdomisili di wilayah Jakarta Pusat teridentifikasi sebagai kontak erat dari klaster ‘mematikan’ yang berasal dari kapal pesiar mewah MV Hondius.

Kisah ini bermula dari laporan International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) Inggris yang diterima otoritas kesehatan Indonesia pada 7 Mei 2026 malam. Pria berusia 60 tahun tersebut bukan sekadar pelancong biasa; ia diketahui memiliki riwayat interaksi yang sangat dekat dengan pasien konfirmasi kedua dari klaster kapal pesiar tersebut, yang sayangnya telah dinyatakan meninggal dunia.

Kronologi Perjalanan dan Penelusuran Ketat

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, membeberkan narasi perjalanan yang cukup krusial. WNA yang bekerja di perusahaan asing di Indonesia ini sempat menginap di hotel yang sama dengan pasien meninggal saat singgah di St. Helena pada 24 April 2026. Tak hanya itu, keduanya berbagi ruang dalam satu penerbangan dari St. Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dengan posisi kursi yang berdekatan.

Baca Juga  Mimpi Buruk di Anfield: Hugo Ekitike Terpaksa Kubur Mimpi Piala Dunia 2026 Akibat Cedera Parah

“Respons kami sangat cepat. Begitu mendapatkan notifikasi pada pukul 21.55 WIB, keesokan harinya tim langsung terjun melakukan penyelidikan epidemiologi dan koordinasi lintas sektor,” tegas Andi. Langkah ini diambil guna memitigasi segala risiko kemungkinan transmisi di wilayah padat penduduk seperti Jakarta.

Kesadaran Tinggi dan Hasil Pemeriksaan Medis

Satu hal yang patut diapresiasi dari kasus ini adalah tingkat kewaspadaan sang WNA. Setibanya di Indonesia pada 30 April 2026 melalui rute Zimbabwe dan Qatar, ia secara proaktif melakukan karantina mandiri dan memilih untuk bekerja dari rumah (WFH). Sikap kooperatif ini dinilai sangat membantu pemerintah dalam mengontrol situasi.

Pada 9 Mei 2026, tim Kemenkes RI melakukan penjemputan untuk mengevakuasi yang bersangkutan ke RSPI Sulianti Saroso guna pemeriksaan spesimen secara menyeluruh. Kabar baik pun muncul dari meja laboratorium. “Hasil pemeriksaan PCR menyatakan yang bersangkutan negatif hantavirus. Lima spesimen yang kami ambil semuanya menunjukkan hasil negatif,” ungkap Andi dengan tegas.

Baca Juga  Horor di Tengah Samudra: Teror Hantavirus Hantam Kapal Pesiar MV Hondius, 3 Nyawa Melayang

Pemantauan Intensif di RSPI Sulianti Saroso

Meski secara medis dinyatakan negatif dan tidak menunjukkan gejala fisik atau asimtomatik, pihak rumah sakit tetap memutuskan untuk melakukan pemantauan di tempat. Langkah preventif ini diambil demi meningkatkan kewaspadaan publik, mengingat masa inkubasi virus ini bisa memakan waktu hingga lebih dari dua pekan.

“Kontak erat ini tinggal sendiri dan komunikasinya dengan orang lain sangat minim, didukung dengan pemahaman kesehatan yang sangat bagus,” lanjut Andi. Kondisinya kini akan terus dievaluasi setiap hari hingga ia benar-benar dinyatakan ‘bebas’ sepenuhnya dari ancaman Hantavirus.

Sebagai catatan tambahan, meskipun Hantavirus sebenarnya sudah terdeteksi di Indonesia sejak tahun 1991, tipe yang ditemukan di tanah air berbeda dengan yang dibawa oleh klaster MV Hondius. Oleh karena itu, kewaspadaan tinggi tetap menjadi prioritas utama bagi setiap pelaku perjalanan luar negeri yang masuk ke Indonesia.

Baca Juga  Horor di Beirut: Kesaksian Pilu Tenaga Medis Hadapi 'Hujan Bom' Israel yang Menyasar Bayi
Tentang Penulis
Wahid
Wahid