Mengenal Serang Virus: Strain Hantavirus Lokal dari Banten dan Potensi Risikonya
Selasa, 12 Mei 2026 06:04 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah riuhnya pemberitaan mengenai wabah hantavirus yang melanda kapal pesiar MV Hondius beberapa waktu lalu, perhatian publik kini tertuju pada ancaman serupa yang berasal dari dalam negeri. Indonesia ternyata memiliki varian hantavirus lokal yang dikenal dengan nama Serang Virus (SERV). Sesuai namanya, virus ini pertama kali diidentifikasi oleh para peneliti di wilayah Serang, Banten, dan menjadi bagian dari keragaman mikroorganisme yang dipantau ketat oleh otoritas kesehatan.
Apa Itu Serang Virus?
Secara klasifikasi medis, hantavirus merupakan sekelompok virus yang bernaung di bawah keluarga Hantaviridae dan genus Orthohantavirus. Jika selama ini dunia lebih mengenal Seoul Virus (SEOV) sebagai varian yang umum tersebar di Asia, termasuk Indonesia, kemunculan Serang Virus memberikan gambaran baru mengenai kompleksitas zoonosis di tanah air.
Serang Virus ditemukan pada populasi tikus dan secara genetik memiliki kedekatan yang sangat erat dengan Seoul Virus. Namun, para ahli mengklasifikasikannya sebagai varian tersendiri karena adanya perbedaan genetik yang cukup signifikan. Dari sekitar 50 jenis Orthohantavirus yang teridentifikasi di seluruh dunia, sekitar 24 di antaranya diketahui memiliki potensi untuk menginfeksi manusia. Meski demikian, Serang Virus hingga saat ini masih dikategorikan sebagai virus yang ditemukan pada hewan pengerat dan belum terbukti melompat ke manusia.
Kemenkes: Belum Ada Temuan Kasus pada Manusia
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat untuk memberikan klarifikasi guna meredam kekhawatiran masyarakat. Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan satu pun kasus infeksi Serang Virus pada manusia di Indonesia.
“Untuk Serang itu belum ada, itu hanya menginfeksi tikus saja. Jadi tidak terjadi penularan dari tikus ke manusia di Indonesia,” ungkap dr. Andi dalam sebuah keterangan resmi. Meskipun risiko penularan langsung belum terdeteksi, pemerintah tetap menyiagakan sistem pemantauan melalui 21 rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging yang tersebar di 20 provinsi. Rumah sakit ini bertugas mendeteksi pasien dengan gejala yang mengarah pada tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), seperti demam tinggi yang disertai gangguan fungsi ginjal atau jaundice (penyakit kuning).
Perbedaan Serang Virus dan Wabah MV Hondius
Penting bagi masyarakat untuk membedakan antara ancaman lokal dengan kasus internasional yang sempat viral. Wabah yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius disebabkan oleh Andes Virus (ANDV), tipe hantavirus yang memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan banyak ditemukan di Amerika Selatan. Berbeda dengan varian lokal di Indonesia, Andes Virus dikenal memiliki kemampuan unik untuk menular antarmanusia.
Sebaliknya, kasus hantavirus yang pernah ditemukan pada manusia di Indonesia umumnya berkaitan dengan tipe HFRS jenis Seoul Virus. Perbedaan karakteristik ini membuat pendekatan penanganan dan mitigasi risiko di Indonesia lebih difokuskan pada pengendalian populasi hewan pengerat dan kebersihan lingkungan.
Langkah Pencegahan: Mewaspadai Tikus di Lingkungan Sekitar
Walaupun Serang Virus belum menginfeksi manusia, kewaspadaan terhadap hantavirus secara umum tetap menjadi prioritas. Penularan biasanya terjadi melalui kontak dengan kotoran, urin, atau air liur tikus yang terinfeksi. Oleh karena itu, dr. Andi Saguni mengimbau masyarakat untuk senantiasa menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Berikut adalah beberapa langkah mitigasi yang disarankan:
- Gunakan APD: Saat membersihkan area yang dicurigai menjadi sarang tikus, gunakan masker dan sepatu bot untuk menghindari kontak langsung.
- Kebersihan Pangan: Pastikan tempat penyimpanan hasil panen atau bahan makanan tertutup rapat agar tidak terjamah tikus.
- Pengelolaan Bangkai: Jika membasmi tikus, jangan membuang bangkainya sembarangan. Sangat disarankan untuk mengubur bangkai tikus guna mencegah pencemaran lingkungan.
- Cuci Tangan: Rutin mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di area yang berisiko tinggi populasi tikusnya.
Melalui pendekatan One Health, Kemenkes berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, BRIN, serta Kemenko PMK untuk memastikan pengawasan terhadap potensi penularan virus dari hewan ke manusia tetap berada di bawah kendali. Deteksi dini dan kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama agar kesehatan masyarakat tetap terjaga dari ancaman virus-virus baru.