Revolusi Terapi Jantung di Indonesia: Siloam Hadirkan Teknologi Ablasi AF Minim Radiasi Pertama di Asia Tenggara
Senin, 04 Mei 2026 09:34 WIB
Kabarmalam.com — Dunia medis Indonesia baru saja mencatatkan tinta emas di kancah regional. Siloam International Hospitals resmi memperkenalkan metode mutakhir dalam menangani Atrial Fibrilasi (AF), sebuah gangguan irama jantung yang sering kali menjadi ‘pembunuh senyap’ bagi penderitanya. Terobosan ini melibatkan teknik ablasi dengan paparan radiasi minimal atau bahkan nol, menjadikannya layanan kesehatan pertama di Asia Tenggara yang mengadopsi teknologi presisi tingkat tinggi tersebut.
Atrial Fibrilasi bukanlah persoalan sepele. Gangguan ini merupakan salah satu penyebab utama stroke iskemik dan gagal jantung di seluruh dunia. Data menunjukkan bahwa hampir 40 persen kasus stroke berkaitan erat dengan kondisi jantung yang tidak beraturan ini. Di Indonesia sendiri, tantangannya jauh lebih berat karena tren pasien AF cenderung berusia lebih muda dibandingkan rata-rata global, sementara kesadaran akan deteksi dini masih sangat minim.
Loncatan Teknologi Medis di Siloam Hospitals TB Simatupang
Menjawab tantangan tersebut, Siloam Hospitals TB Simatupang melalui Tim Aritmia yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), FIHA, melakukan gebrakan dengan mengimplementasikan teknologi Intracardiac Echocardiography (ICE). Teknologi ini memungkinkan dokter memvisualisasikan struktur jantung dari dalam secara real-time tanpa harus bergantung sepenuhnya pada sinar-X konvensional.
Langkah revolusioner ini dipamerkan dalam sebuah live case yang diikuti oleh para ahli jantung internasional. Prosedur ini menggunakan pendekatan Minimal Fluoroscopic AF Ablation, sebuah teknik isolasi sumber sinyal listrik abnormal di serambi jantung dengan paparan radiasi yang sangat rendah. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi keselamatan pasien dan tenaga medis yang biasanya terpapar risiko radiasi dalam jangka panjang.
Metode C.A.R.E: Standar Baru Penanganan Aritmia
Konsultan Aritmia Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Budi Ario Tejo, SpJP(K), FIHA, menjelaskan bahwa pihaknya mengacu pada pedoman global terbaru yang dikenal dengan prinsip C.A.R.E. “Kami fokus pada Comorbid and Risk Factor Control, Avoid Stroke, Reduce Symptom, dan Evaluation and Dynamic Reassessment,” ungkapnya saat ditemui dalam ajang Siloam Cardiac Summit di Jakarta Selatan.
Menurut dr. Budi, tujuan utama dari prosedur ini adalah mengembalikan kualitas hidup pasien. Atrial fibrilasi sering kali membuat penderitanya merasa cepat lelah, berdebar-debar, hingga sulit beraktivitas normal. Dengan teknologi pemetaan 3D dari sistem CARTO™ 3 dan ekosistem VARIPULSE™, dokter dapat bekerja dengan presisi yang jauh lebih akurat, efisien, dan konsisten.
Mengejar Target ‘Zero Fluoroscopy’
Salah satu keunggulan utama dari penggunaan ICE adalah kemampuannya untuk menekan kebutuhan penggunaan sinar-X hingga titik terendah. “Bahkan bisa sampai dengan zero fluoroscopy atau tanpa radiasi sama sekali,” tegas dr. Budi. Keamanan ini sangat krusial, mengingat radiasi berlebih dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan di masa depan.
Selain itu, prosedur ini sangat adaptif. Pasien dapat menjalani terapi baik dalam kondisi sedasi dalam maupun tetap sadar, tergantung pada kebutuhan klinis masing-masing. Integrasi antara teknologi jantung mutakhir dan keahlian tangan para dokter spesialis di Siloam menempatkan fasilitas ini sejajar dengan pusat jantung kelas dunia.
Kolaborasi Global dan Alih Teknologi
Kesuksesan ini tidak lepas dari sinergi internasional. Siloam menjalin kolaborasi erat dengan Fuwai Hospital dari China, yang dikenal sebagai pusat penanganan aritmia terbesar dengan volume tindakan yang masif. Kehadiran Prof. Ligang Ding dari Fuwai Hospital dalam pengembangan layanan ini memastikan adanya transfer pengetahuan dan teknologi yang berkelanjutan.
“Kami mendatangkan ahli dari luar negeri untuk memastikan alih teknologi berjalan maksimal, terutama untuk prosedur ablasi yang sangat minim radiasi ini,” tutup dr. Budi. Dengan hadirnya inovasi ini, masyarakat Indonesia kini tidak perlu lagi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan gagal jantung atau gangguan irama jantung yang aman dan berstandar internasional.