Waspada! Riset Ungkap Kaitan Golongan Darah dengan Risiko Penyakit Jantung, Mana yang Paling Rentan?
Kamis, 23 Apr 2026 14:34 WIB
Kabarmalam.com — Selama ini, banyak dari kita menganggap golongan darah hanyalah data medis formalitas yang diperlukan saat donor atau transfusi. Namun, fakta medis terbaru mengungkapkan sisi lain yang lebih krusial. Sejumlah ilmuwan menemukan bahwa klasifikasi golongan darah seseorang dapat menjadi indikator awal terhadap kerentanan mereka terhadap penyakit jantung, mulai dari serangan jantung hingga risiko stroke.
Dominasi Risiko pada Golongan Darah A, B, dan AB
Berdasarkan data yang dirilis oleh American Heart Association, masyarakat yang memiliki golongan darah A, B, atau AB ternyata harus lebih waspada. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki profil risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kegagalan fungsi jantung dibandingkan mereka yang bergolongan darah O. Sebuah studi komprehensif pada tahun 2020 mempertegas temuan ini dengan angka yang cukup signifikan.
Pemilik golongan darah A dan B tercatat memiliki probabilitas 8 persen lebih tinggi untuk terkena serangan jantung secara tiba-tiba. Tak hanya itu, ancaman gagal jantung juga membayangi dengan risiko yang meningkat hingga 10 persen. Kondisi ini dipicu oleh kecenderungan tubuh dalam merespons mekanisme pembekuan darah yang berbeda pada setiap individu.
Ancaman Pembekuan Darah dan Emboli
Selain masalah pada otot jantung, pemilik golongan darah non-O juga berhadapan dengan masalah vaskular lainnya. Laporan medis menunjukkan bahwa individu dengan golongan darah A dan B memiliki kemungkinan 51 persen lebih besar untuk mengalami trombosis vena dalam (DVT). Bahkan, risiko emboli paru—sebuah kondisi penyumbatan fatal di paru-paru—meningkat hingga 47 persen. Keduanya merupakan gangguan serius yang secara sistemik dapat memicu gagal jantung kronis.
Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Dr. Douglas Guggenheim, seorang ahli hematologi kenamaan dari Penn Medicine, memberikan penjelasan ilmiah di balik fenomena ini. Ia menyebutkan bahwa ada kaitan erat antara protein tertentu dalam darah dengan tingkat peradangan atau inflamasi dalam tubuh. Pada golongan darah A, B, dan AB, protein-protein tersebut cenderung memicu penebalan serta penyumbatan pada pembuluh darah vena maupun arteri.
“Secara sederhana, tubuh kita tampaknya telah berevolusi sedemikian rupa untuk beradaptasi dengan lingkungannya, namun mekanisme perlindungan ini terkadang membawa dampak samping berupa peningkatan risiko pembekuan darah,” ungkap Dr. Guggenheim seperti dilansir dari laman kesehatan global.
Sisi Lain Golongan Darah O: Tidak Sepenuhnya ‘Aman’
Meskipun golongan darah O sering dianggap memiliki ‘perisai’ lebih kuat terhadap serangan jantung, bukan berarti pemiliknya bisa bernapas lega sepenuhnya. Data menunjukkan bahwa kelompok O justru lebih rentan terhadap masalah perdarahan. Mereka seringkali mengalami kesulitan dalam pembekuan darah saat terjadi cedera berat atau pasca-persalinan pada wanita.
Di sisi lain, golongan darah AB juga menyimpan tantangan tersendiri. Selain masalah kardiovaskular, pemilik golongan darah ini sering dikaitkan dengan risiko gangguan kognitif. Hal ini mencakup penurunan kemampuan fokus, daya ingat, hingga kesulitan dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Gaya Hidup Tetap Menjadi Kunci Utama
Meskipun faktor genetik seperti golongan darah tidak bisa diubah, para ahli menekankan bahwa kendali utama kesehatan tetap berada di tangan kita. Gaya hidup sehat adalah senjata paling ampuh untuk menangkal segala risiko medis tersebut.
Dr. Guggenheim menegaskan bahwa tidak ada perlakuan medis khusus yang dibedakan hanya berdasarkan golongan darah. Pola makan yang seimbang, aktivitas fisik rutin, menghindari rokok, serta mengelola stres dengan baik tetap menjadi rekomendasi medis universal. “Tidak ada jaminan perlindungan mutlak hanya karena seseorang memiliki golongan darah tertentu. Menjaga jantung tetap sehat adalah tanggung jawab semua orang tanpa terkecuali,” pungkasnya.