Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kisah Heroik dr. Iqbal di Tragedi Kereta Bekasi Timur: Bernegosiasi dengan Maut di Tengah Himpitan Baja

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 04 Mei 2026 08:34 WIB
Kisah Heroik dr. Iqbal di Tragedi Kereta Bekasi Timur: Bernegosiasi dengan Maut di Tengah Himpitan Baja

Kabarmalam.com — Malam yang tenang pada Senin, 27 April 2026, seketika berubah menjadi medan perjuangan hidup dan mati bagi dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB. Dokter spesialis bedah yang memiliki rekam jejak panjang di zona konflik seperti Gaza dan Myanmar ini, tak pernah menyangka bahwa keahliannya akan diuji di tengah hiruk-pikuk Bekasi Timur.

Saat insiden memilukan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo pecah, dr. Iqbal sebenarnya sedang menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarganya di sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari lokasi. Namun, panggilan kemanusiaan jauh lebih kuat. Tanpa keraguan, ia meninggalkan momen pribadinya dan bergegas menuju pusat kekacauan.

Setibanya di lokasi, suasana sangat mencekam. Sebagai sosok yang terbiasa menangani Mass Casualty Incident, ia langsung dipercaya oleh Kementerian Kesehatan untuk menjabat sebagai Incident Commander, memimpin barisan tim medis di tengah situasi yang masih sangat cair dan penuh ketegangan.

Baca Juga  Tragedi Bekasi Timur: Upaya Pemulihan Mental Korban hingga Usulan Reorganisasi Gerbong Wanita

Menjaga Asa di Balik Himpitan Material Kereta

Fokus utama dr. Iqbal tertuju pada lima orang penumpang yang terjepit di antara rongsokan baja kereta. Kondisi mereka kritis; ruang gerak terbatas dan oksigen menipis. Luka fisik bukan satu-satunya ancaman, melainkan juga trauma psikis dan penurunan tanda vital yang drastis.

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana kondisi mereka mulai melemah. Saat pemeriksaan dilakukan, beberapa korban menunjukkan frekuensi nadi yang sangat mengkhawatirkan, menyentuh angka 180 kali per menit,” kenang dr. Iqbal saat berbagi cerita dengan tim Kabarmalam.com.

Dalam tekanan yang luar biasa itu, dr. Iqbal teringat pesan mendalam dari gurunya, Prof. Ariyono. Sebuah prinsip yang menjadi pegangannya selama sembilan jam proses evakuasi: bahwa kematian adalah sesuatu yang bisa ‘dinegosiasikan’ dengan malaikat pencabut nyawa, asalkan penanganan medis dilakukan dengan tepat dan cepat. Tekadnya bulat, jangan sampai ada nyawa yang hilang di depan matanya.

Baca Juga  Kisah Pilu Keluarga Arinjani: Sempat Berpencar Cari Keberadaan Sang Auditor Sebelum Kabar Duka Tiba

Keputusan Berani di Masa Kritis

Waktu terus bergulir hingga melewati masa emas atau golden time. Setelah enam jam upaya evakuasi oleh tim SAR menggunakan alat pemotong baja belum membuahkan hasil maksimal, dr. Iqbal mengambil langkah berani dengan menerapkan ‘Plan B’.

Melalui diskusi intens dengan pimpinan Basarnas, ia memutuskan untuk melakukan intervensi tindakan medis khusus berupa pemberian sedasi atau pembiusan langsung di lokasi reruntuhan. Langkah ini diambil agar korban tetap stabil dan tidak mengalami syok hebat saat proses pemotongan material berlangsung.

Selama hampir sembilan jam, dr. Iqbal memastikan aliran oksigen dan cairan infus tetap terjaga, mengubah area kecelakaan yang gelap dan sempit menjadi layaknya ruang UGD darurat dengan fasilitas seadanya namun standar penyelamatan yang maksimal.

Baca Juga  Aksi Cepat Raffi Ahmad Sambangi Lokasi Tragedi Tabrakan KA Argo Bromo di Bekasi Timur

Bagi dr. Iqbal, tragedi kereta Bekasi ini menjadi refleksi penting mengenai krusialnya sinergi antara tim penyelamat (rescue) dan tenaga medis di lapangan. Baginya, setiap detik adalah pertaruhan, dan koordinasi yang matang adalah kunci utama dalam memenangkan peperangan melawan maut.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid