Ikuti Kami
kabarmalam.com

Polemik Warung Mi Babi Sukoharjo: Di Balik Penolakan Warga, Sang Pemilik Pilih Jalur Damai dan Alami Lonjakan Pembeli

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 19 Apr 2026 01:06 WIB
Polemik Warung Mi Babi Sukoharjo: Di Balik Penolakan Warga, Sang Pemilik Pilih Jalur Damai dan Alami Lonjakan Pembeli

Kabarmalam.com — Riuh polemik mengenai keberadaan Warung Mie dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Kabupaten Sukoharjo, kini memasuki babak baru yang lebih tenang namun penuh harap. Menanggapi gelombang penolakan yang datang dari segelintir warga setempat, sang pengelola, Jodi Sutanto, menyatakan sikap terbukanya untuk duduk bersama di meja diskusi guna menemukan jalan tengah yang mufakat bagi semua pihak.

Kehadiran destinasi kuliner non-halal tersebut memang sempat memicu dinamika sosial yang cukup panas di tengah masyarakat. Sejumlah spanduk bertuliskan nada protes keras sempat terpampang nyata di ujung gang menuju warung, menciptakan atmosfer ketegangan di kawasan yang biasanya tenang tersebut. Namun, alih-alih merespons dengan emosi, Jodi justru memilih pendekatan yang lebih diplomatis dan mengedepankan prinsip hukum yang berlaku di Indonesia.

Baca Juga  Ironi Jakarta Menuju Kota Global: Rano Karno Soroti Pembangunan Markas Satpol PP yang Terganjal Efisiensi

Mengedepankan Dialog dan Solusi Bersama

Jodi menegaskan bahwa pihaknya sangat menyambut baik jika pemerintah daerah, mulai dari tingkat kelurahan hingga kecamatan, bersedia turun tangan menjadi fasilitator. Baginya, penyelesaian masalah melalui jalur komunikasi jauh lebih elegan daripada membiarkan konflik berlarut-larut dalam ketidakpastian.

“Kami pada prinsipnya sangat terbuka (welcome). Siapa pun yang bersedia membantu proses mediasi, baik dari Pemda maupun aparat setempat, kami menyambutnya dengan tangan terbuka. Kita semua berharap ada win-win solution. Jika hanya diam-diam tanpa dialog, lalu tiba-tiba ada pergerakan massa, tentu suasananya menjadi tidak enak,” ungkap Jodi dengan nada tenang.

Ia menambahkan bahwa sebagai warga negara yang dilindungi undang-undang, ia tidak ingin terjebak dalam aksi premanisme yang justru akan memperkeruh suasana. “Kita hidup di negara hukum. Jika kita membalas dengan cara yang keras atau ‘gas-gasan’, apa bedanya kita dengan preman? Hal itu sama sekali tidak akan menyelesaikan akar permasalahan yang ada,” imbuhnya secara tegas.

Baca Juga  Gebrakan Diplomatik Israel: Michael Lotem Resmi Ditunjuk Sebagai Duta Besar Pertama untuk Somaliland

Efek Viral: Rasa Penasaran Publik Justru Meningkat

Sebuah fenomena menarik muncul di balik aksi penutupan akses jalan dengan gundukan tanah dan pemasangan spanduk penolakan tersebut. Alih-alih ditinggalkan pelanggan, warung mi babi milik Jodi justru mengalami lonjakan pengunjung yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Ternyata, pemberitaan yang masif di media sosial justru memicu rasa penasaran masyarakat luas untuk datang berkunjung.

“Justru dengan adanya kejadian kemarin yang viral, bisa saya katakan jumlah pengunjung naik. Banyak dari mereka yang datang karena merasa penasaran, ingin melihat langsung seperti apa lokasinya dan apa yang sebenarnya sedang terjadi,” terang Jodi menceritakan dampak tak terduga dari kisruh tersebut.

Baca Juga  Tragedi Kalideres: Polisi Gandeng POM TNI Usut Kecelakaan Maut Truk vs Motor

Hingga saat ini, pihak pengelola masih menunggu undangan resmi untuk melakukan pertemuan formal dengan pihak-pihak terkait di wilayah Sukoharjo. Harapannya, melalui komunikasi yang sehat dan transparan, keberlangsungan usaha kuliner tersebut tetap terjaga tanpa harus mengabaikan aspirasi serta kenyamanan warga sekitar yang tinggal di area tersebut.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul