Ikuti Kami
kabarmalam.com

Krisis Laut Merah: Houthi Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb Jika Donald Trump Halangi Perdamaian

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 19 Apr 2026 14:35 WIB
Krisis Laut Merah: Houthi Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb Jika Donald Trump Halangi Perdamaian

Kabarmalam.com — Ketegangan geopolitik di koridor maritim tersibuk dunia kembali memanas setelah kelompok Houthi di Yaman mengeluarkan ancaman untuk menutup total Selat Bab al-Mandeb. Langkah ekstrem ini disebut akan dilakukan jika kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus dinilai menjadi penghalang bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan tersebut.

Peringatan Keras dari Sanaa

Wakil Menteri Luar Negeri pemerintah Houthi, Hussein al-Ezzi, memberikan peringatan yang cukup provokatif terkait stabilitas jalur pelayaran internasional. Melalui pernyataan resminya, Al-Ezzi menegaskan bahwa kendali penuh atas Selat Bab al-Mandeb berada di tangan mereka, dan mereka tidak akan ragu untuk mengambil tindakan drastis jika kepentingan nasional mereka terusik.

Baca Juga  Trump Optimis Akhiri Ketegangan: AS Terima Proposal 10 Poin Iran dan Tunda Serangan Militer

“Jika Sanaa memutuskan untuk menutup Bab al-Mandeb, maka seluruh umat manusia dan jin akan benar-benar tidak berdaya untuk membukanya,” tulis Hussein al-Ezzi dalam sebuah pernyataan yang menghebohkan di platform X, sebagaimana dikutip dari laporan media internasional, Minggu (19/4/2026).

Al-Ezzi juga menambahkan bahwa pilihan terbaik bagi Donald Trump dan komunitas internasional saat ini adalah menghentikan segala bentuk kebijakan yang menghambat perdamaian di Yaman serta mulai menunjukkan rasa hormat terhadap hak-hak bangsa mereka.

Vitalitas Strategis Selat Bab al-Mandeb

Selat Bab al-Mandeb bukanlah sekadar perairan biasa. Wilayah ini merupakan titik tumpu utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, sekaligus menjadi pintu gerbang menuju Terusan Suez. Dengan lebar hanya sekitar 29 kilometer (18 mil) pada titik tersempitnya, selat ini membatasi lalu lintas laut menjadi dua jalur masuk dan keluar yang sangat ketat.

Baca Juga  Wali Murid Wajib Tahu! Begini Cara Daftar TKA SD-SMP 2026 Agar Tidak Ketinggalan

Sebagai salah satu jalur pengiriman komoditas paling krusial di dunia, gangguan di wilayah ini diprediksi akan mengganggu stabilitas ekonomi global. Jalur ini merupakan rute utama bagi pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari negara-negara Teluk menuju Mediterania, serta menjadi jalur distribusi komoditas penting menuju pasar Asia, termasuk pasokan minyak dari Rusia.

Kaitan dengan Eskalasi Konflik Regional

Munculnya ancaman ini tidak lepas dari dinamika konflik Timur Tengah yang semakin kompleks. Sebelumnya, sempat muncul secercah harapan ketika Iran membuka kembali Selat Hormuz pasca tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Momentum tersebut sempat disambut baik oleh pasar global dengan penurunan harga minyak yang signifikan.

Baca Juga  Trump Ngamuk! Tarif Impor Produk Korsel Melejit Jadi 25 Persen, Ini Alasannya

Namun, suasana kembali tegang setelah Donald Trump bersikeras untuk menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bentuk tekanan diplomatik hingga kesepakatan damai yang lebih luas tercapai. Respon Houthi ini seolah menjadi pesan balasan terhadap kebijakan Washington yang dianggap agresif. Jika ancaman ini benar-benar direalisasikan, dunia mungkin akan menghadapi krisis energi dan logistik yang jauh lebih parah dari sebelumnya.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul