Tensi Memanas di Selat Hormuz: Iran Kecam Blokade Amerika Serikat Sebagai Pelanggaran Kedaulatan
Selasa, 14 Apr 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih setelah Amerika Serikat (AS) secara resmi memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran. Kebijakan agresif Washington ini memicu reaksi keras dari Teheran, yang menuding langkah tersebut sebagai bentuk pelanggaran fatal terhadap kedaulatan negara dan tatanan hukum internasional.
Protes Keras Teheran di Panggung PBB
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menyatakan bahwa blokade yang mulai dioperasikan pada Senin (13/04) tersebut adalah ancaman langsung bagi perdamaian global. Dalam sebuah surat resmi yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Iravani menegaskan bahwa tindakan Amerika tidak hanya mencederai kedaulatan Iran, tetapi juga secara terang-terangan melanggar prinsip-prinsip fundamental hukum laut internasional.
Teheran sebelumnya telah memberikan peringatan serius bahwa keamanan navigasi di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman tidak akan pernah terjamin selama tekanan militer dari pihak asing terus dilakukan. Situasi ini semakin diperparah setelah pembicaraan damai yang sempat berlangsung di Pakistan berakhir buntu tanpa ada kesepakatan konkret antara kedua belah pihak.
Ambisi Washington Menguasai Selat Hormuz
Di pihak lain, militer Amerika Serikat telah memulai penjagaan ketat terhadap seluruh lalu lintas kapal yang masuk maupun keluar dari wilayah pesisir Iran. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa blokade ini merupakan instrumen penekan agar Teheran bersedia membuka kembali Selat Hormuz, sebuah jalur maritim paling strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
“Dunia tidak boleh dibiarkan dalam posisi terperas oleh satu negara,” tegas Trump saat memberikan keterangan pers di Gedung Putih. Ia bahkan melontarkan ancaman militer yang sangat provokatif, dengan menyatakan bahwa setiap kapal perang Iran yang mencoba mendekati area blokade akan segera dieliminasi oleh kekuatan armada AS.
Ancaman Terhadap Stabilitas Ekonomi Global
Langkah sepihak Washington ini menimbulkan kekhawatiran besar bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 22 April mendatang akan hancur berantakan. Jika konflik terbuka pecah, dampaknya dipastikan akan mengguncang pasar energi global secara instan. Mengingat Selat Hormuz melayani sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia, setiap gangguan kecil di jalur ini akan memicu lonjakan harga yang signifikan.
Data perdagangan menunjukkan harga minyak sempat fluktuatif di kisaran 100 dolar per barel. Meski sempat ada harapan dialog baru akan tercipta, para analis memperingatkan bahwa fondasi perdamaian di kawasan tersebut saat ini sangat rapuh. Gangguan pada jalur distribusi energi di Selat Hormuz bukan hanya masalah politik regional, melainkan ancaman nyata bagi pemulihan ekonomi dunia yang tengah berjuang melawan ketidakpastian.