Waspada Bahaya Karsinogenik: Mengapa Pipa PVC Dilarang untuk Mengukus Kue Putu?
Jumat, 26 Jun 2026 13:34 WIB
Kabarmalam.com — Suara siulan uap dari gerobak kue putu selalu berhasil membangkitkan nostalgia kuliner tradisional di tengah hiruk-pikuk kota. Namun, di balik aroma pandan yang menyeruak, tersimpan sebuah rahasia dapur yang cukup mengkhawatirkan. Belakangan ini, penggunaan pipa polyvinyl chloride (PVC) atau yang akrab dikenal sebagai paralon sebagai cetakan sekaligus alat pengukus kue putu semakin menjamur di kalangan pedagang karena dianggap lebih praktis dan awet dibandingkan bambu tradisional.
Sayangnya, di balik kemudahan tersebut, para pakar kesehatan memberikan peringatan keras. Material plastik jenis PVC ternyata menyimpan risiko besar jika digunakan tidak sesuai peruntukannya, terutama saat bersentuhan langsung dengan bahan makanan pada suhu yang sangat tinggi. Fenomena ini pun memicu perhatian serius mengenai standar keamanan pangan di tengah masyarakat.
Peringatan Pakar IPB: PVC Bukan untuk Memasak
Pakar Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Nuri Andarwulan, menegaskan bahwa material yang digunakan untuk kontak langsung dengan pangan tidak boleh sembarangan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memiliki aturan ketat mengenai persyaratan material yang aman bagi kesehatan manusia. Dalam konteks ini, pipa PVC berada di luar daftar material yang diizinkan untuk proses pengolahan makanan panas.
“Pipa PVC tidak diizinkan untuk kontak pangan (kalau untuk air diizinkan) dan sebagai alat untuk memasak yang kontak suhu tinggi,” ujar Nuri saat memberikan penjelasan mendalam mengenai risiko penggunaan material tersebut.
Ancaman Migrasi Kimia dan Logam Berat
Bahaya utama dari penggunaan pipa PVC sebagai media pengukus terletak pada stabilitas kimianya. Nuri menjelaskan bahwa ketika material plastik ini terpapar panas ekstrem secara berulang, akan terjadi proses migrasi atau perpindahan senyawa kimia dari plastik ke dalam adonan kue putu yang sedang dimasak.
Senyawa yang bermigrasi ini bukanlah zat sembarangan. Menurut penelitian, salah satu komponen yang bisa berpindah adalah logam berat. Paparan zat-zat kimia asing ini jika terjadi secara terus-menerus dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan kerusakan sistemik pada tubuh manusia.
Risiko Kanker dan Gangguan Hormon
Lebih lanjut, Nuri mengungkapkan bahwa dampak kesehatan yang ditimbulkan tidaklah main-main. Senyawa kimia yang lepas dari pipa PVC tersebut bersifat mengganggu kerja hormon dan yang paling fatal adalah bersifat karsinogenik. Sebagai informasi, karsinogen adalah zat yang secara langsung bertanggung jawab atas peningkatan risiko seseorang terkena penyakit kanker.
Oleh karena itu, masyarakat dan para pelaku usaha kuliner diharapkan kembali pada metode tradisional atau menggunakan material food grade yang telah teruji keamanannya. Mengganti bambu dengan pipa plastik mungkin terlihat seperti efisiensi, namun harga yang harus dibayar oleh kesehatan konsumen jauh lebih mahal dari sekadar penghematan modal usaha.