Ikuti Kami
kabarmalam.com

Wacana Penggunaan AI untuk Atasi Krisis Dokter di Daerah, Menkes Budi Gunadi: Sentuhan Manusia Tetap Utama

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 25 Jun 2026 19:34 WIB
Wacana Penggunaan AI untuk Atasi Krisis Dokter di Daerah, Menkes Budi Gunadi: Sentuhan Manusia Tetap Utama

Kabarmalam.com — Gelombang transformasi digital kini mulai merambah lorong-lorong fasilitas kesehatan di tanah air. Di tengah upaya pemerintah memperkecil kesenjangan akses medis, muncul wacana menarik mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat pelayanan kesehatan, khususnya di wilayah-wilayah yang masih minim tenaga ahli.

Usulan ini mencuat dari Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh. Ia memandang bahwa kehadiran teknologi pintar ini bisa menjadi solusi jitu bagi daerah-daerah terpencil yang hingga kini masih berjuang melawan krisis ketersediaan dokter. Namun, gagasan tersebut disambut dengan catatan penting oleh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.

Menjawab Akar Masalah: Bukan Sekadar Teknologi

Menanggapi usulan tersebut, Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa meskipun kemajuan teknologi adalah keniscayaan, kehadiran fisik seorang dokter di lapangan tetap menjadi kebutuhan yang fundamental. Baginya, teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti esensi dari profesi medis itu sendiri.

Baca Juga  Tragedi Kecelakaan di Tol Paspro: Gus Hilman Alami Patah Kaki, Dua Staf Meninggal Dunia

“Mungkin kita bisa mulai terlebih dahulu dengan optimalisasi telemedicine. Namun, yang secara fundamental harus kita jawab bersama adalah fakta bahwa kekurangan dokter itu nyata terjadi, terutama di daerah-daerah terpencil. Itulah masalah utama yang harus kita selesaikan,” ujar Budi Gunadi dalam keterangannya usai rapat kerja bersama Komisi IX DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

AI Sebagai Pelengkap, Bukan Pengalih Fokus

Pemerintah memang tidak menutup mata terhadap potensi besar Artificial Intelligence maupun inovasi digital lainnya. Menkes memandang teknologi-teknologi tersebut sebagai komplemen atau pelengkap yang mampu meningkatkan efisiensi layanan. Kendati demikian, ia mengingatkan agar euforia digitalisasi tidak mengaburkan fokus utama pemerintah.

“Prioritas utama kita tetap pada penambahan jumlah dokter dan memastikan distribusi mereka merata hingga ke pelosok. Jangan sampai kehadiran AI atau teknologi lainnya justru mengalihkan perhatian kita dari agenda besar memperbanyak jumlah tenaga medis,” imbuhnya dengan tegas.

Baca Juga  Intelligence Economy: Mengapa Sistem Pendidikan Kita Harus Berhenti Sekadar 'Menyuapi' Mahasiswa dengan Teori

Esensi Sentuhan Medis yang Tak Tergantikan

Salah satu alasan kuat mengapa teknologi belum bisa sepenuhnya mengambil alih peran dokter adalah aspek humanis dalam pengobatan. Budi menekankan bahwa interaksi langsung antara dokter dan pasien memiliki nilai klinis dan psikologis yang sangat krusial.

“Dunia medis bukan hanya soal data. Dokter dan tenaga kesehatan perlu melihat langsung, bahkan harus menyentuh pasien mereka untuk memberikan diagnosa dan perawatan yang tepat. Ada aspek kemanusiaan yang tidak bisa digantikan oleh algoritma manapun,” pungkas Menteri Kesehatan tersebut.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan terus berupaya mempercepat produksi dokter spesialis dan memperbaiki sistem distribusi agar masyarakat di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) tetap mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang layak tanpa harus bergantung sepenuhnya pada layar digital.

Baca Juga  Jeritan Korban Hanania Travel di Senayan: Kami Hanya Ingin Hak Kembali, Bukan Janji Palsu
Tentang Penulis
Wahid
Wahid