Ikuti Kami
kabarmalam.com

Trik Cerdas di Balik Kebiasaan Pesepakbola Menyemburkan Minuman: Bukan Sekadar Melepas Dahaga

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 25 Jun 2026 07:33 WIB
Trik Cerdas di Balik Kebiasaan Pesepakbola Menyemburkan Minuman: Bukan Sekadar Melepas Dahaga

Kabarmalam.com — Gelaran Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung adu taktik dan selebrasi gol yang spektakuler, namun juga memancing rasa penasaran penonton lewat berbagai kebiasaan unik para pemain di lapangan. Salah satu pemandangan yang paling sering tertangkap kamera adalah momen ketika para pesepakbola bintang menyemburkan kembali air yang baru saja mereka minum ke atas rumput hijau. Di tengah cuaca terik dan intensitas lari yang menguras fisik, mengapa mereka seolah ‘membuang’ cairan berharga tersebut alih-alih menelannya untuk menyegarkan tubuh?

Ternyata, aksi yang terlihat sederhana ini merupakan bagian dari strategi medis yang dikenal dengan istilah carbohydrate mouth rinse. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, SpKO, mengungkapkan bahwa fenomena ini bukanlah sekadar gaya-gayaan, melainkan teknik terukur untuk menjaga performa olahraga di level tertinggi.

Baca Juga  Aturan Baru Piala Dunia 2026: Hydration Break Bukan Sekadar Jeda Minum Biasa

Sains di Balik ‘Kebohongan’ pada Otak

Menurut dr. Dhika, teknik ini dilakukan dengan cara berkumur menggunakan larutan yang mengandung karbohidrat atau gula selama sekitar 5 hingga 10 detik, lalu meludahkannya kembali. Meski cairan tersebut tidak masuk ke dalam sistem pencernaan, efeknya langsung terasa pada sistem saraf pusat.

“Di dalam rongga mulut kita, terdapat reseptor atau struktur sel khusus yang mampu mendeteksi keberadaan karbohidrat. Begitu reseptor ini bersentuhan dengan zat gula, sinyal langsung dikirimkan ke otak, meskipun gula tersebut tidak sampai ditelan,” jelas dr. Dhika dalam keterangannya.

Respon otak terhadap sinyal ‘palsu’ ini sangat luar biasa. Otak akan memerintahkan tubuh untuk meningkatkan koordinasi gerak, memicu semangat, hingga membangkitkan motivasi ekstra bagi otot-otot yang mulai kelelahan. Ini adalah cara cerdas untuk memberikan dorongan energi psikologis dan neurologis tanpa harus membebani perut.

Baca Juga  Pesona Eks Wali Kota Sandra Cuevas di Piala Dunia 2026: Viral, Berani, dan Jadi 'Ikon' Baru Meksiko

Menghindari Perut Kembung di Tengah Laga

Lantas, mengapa mereka tidak menelannya saja agar mendapatkan kalori yang nyata? Jawabannya terletak pada kenyamanan fisik pemain. Menelan cairan dalam jumlah banyak saat sedang berlari dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan rasa tidak nyaman di perut, seperti kembung atau mual (begah). Dengan teknik mouth rinse, pemain mendapatkan manfaat stimulasi otak tanpa risiko gangguan pencernaan.

Namun, dr. Dhika memberikan catatan penting bahwa efektivitas teknik ini bergantung pada durasi aktivitas yang dilakukan. Strategi ini sangat ideal untuk durasi latihan fisik atau pertandingan yang berlangsung antara 30 hingga 60 menit, di mana cadangan gula dalam tubuh (glikogen) belum benar-benar habis.

Baca Juga  Mahakarya Tradisi di Jersey Jepang: Sentuhan Magis Sashiko Sambut Piala Dunia 2026

Kapan Pemain Harus Benar-benar Minum?

Meskipun efektif untuk ‘memancing’ semangat, teknik membohongi otak ini memiliki batasan. Untuk pertandingan yang berlangsung lama atau melebihi 90 menit, tubuh tetap membutuhkan asupan energi yang nyata.

“Untuk olahraga yang durasinya di atas 90 menit, cadangan gula memang harus diganti secara fisik, bukan sekadar dipancing atau dibohongi lewat kumur-kumur saja,” tambah dr. Dhika. Dalam kondisi tersebut, menjaga hidrasi tubuh dan mengganti asupan karbohidrat yang hilang menjadi kunci agar pemain tidak mengalami kelelahan ekstrem atau bonking.

Jadi, saat Anda melihat pemain idola Anda meludah di lapangan hijau pada sisa menit pertandingan, ketahuilah bahwa mereka mungkin sedang mengirimkan ‘sinyal darurat’ ke otak untuk tetap fokus dan bertenaga hingga peluit panjang dibunyikan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid