Ikuti Kami
kabarmalam.com

Skandal Fetish Diare di Singapura: Pria 36 Tahun Tipu Puluhan Siswa SMP demi Fantasi Menyimpang

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 25 Jun 2026 05:34 WIB
Skandal Fetish Diare di Singapura: Pria 36 Tahun Tipu Puluhan Siswa SMP demi Fantasi Menyimpang

Kabarmalam.com — Sebuah tabir gelap mengenai penyimpangan perilaku seksual baru saja terungkap di Singapura, menyeret seorang pria berusia 36 tahun bernama Chew ke balik jeruji besi. Kasus ini memicu kegemparan publik setelah terungkap bahwa puluhan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi korban manipulasi Chew demi memuaskan hasrat seksualnya yang tak lazim: melihat remaja laki-laki menderita sakit perut dan diare.

Majelis hakim di pengadilan setempat menjatuhkan vonis hukuman 6 tahun 1 bulan penjara terhadap Chew. Dalam persidangan, ia dinyatakan bersalah atas 11 dakwaan serius, yang meliputi penyamaran identitas, komunikasi seksual dengan anak di bawah umur, serta pemberian obat pencahar secara ilegal. Tak hanya itu, 17 dakwaan lainnya juga turut dipertimbangkan dalam menentukan masa hukuman bagi predator ini.

Modus Operandi: Manipulasi Berkedok Reuni Teman Masa Kecil

Aksi bejat yang dilakukan Chew bukanlah insiden tunggal, melainkan sebuah pola sistematis yang telah ia jalankan selama lima tahun, terhitung sejak 2018 hingga 2023. Target utamanya adalah remaja laki-laki yang masih duduk di bangku SMP, rata-rata berusia 13 hingga 15 tahun. Strategi yang ia gunakan terbilang sangat licin dan terencana dengan matang.

Baca Juga  Rahasia Jalan Kaki untuk Umur Panjang dan Berat Badan Ideal: Hindari 5 Kekeliruan Fatal Ini

Chew memulai pendekatannya melalui aplikasi WhatsApp dengan berpura-pura menjadi teman masa kecil korban saat masih di Sekolah Dasar (SD). Setelah berhasil membangun kepercayaan dan meyakinkan korban bahwa ia adalah sosok yang mereka kenal, Chew mulai melancarkan tipu dayanya. Ia berdalih sedang melakukan survei atau eksperimen sains untuk sebuah proyek sekolah formal.

Dengan alasan riset tersebut, Chew mengumpulkan data pribadi korban secara mendetail, mulai dari nama lengkap, institusi sekolah, tinggi badan, hingga foto-foto terbaru mereka. Tahap selanjutnya yang lebih mengusik nalar adalah permintaannya agar para korban menceritakan secara rinci pengalaman mereka saat mengalami keracunan makanan atau diare.

Gangguan Psikologis dan Eksploitasi Fisik

Laporan dari Institute of Mental Health (IMH) yang dibacakan dalam persidangan mengonfirmasi bahwa Chew mengidap gangguan fetish atau fetishistic disorder. Diungkapkan bahwa terdakwa mendapatkan kepuasan seksual yang mendalam saat mendengar atau melihat remaja laki-laki mengalami kram perut yang hebat dan proses buang air besar yang tidak terkendali.

Baca Juga  Euforia Arsenal Juara dan Sengatan 'Cognitive Dissonance' Fans Rival: Begini Kata Pakar

Kekejaman Chew mencapai puncaknya ketika ia mulai mengarahkan korban untuk mengonsumsi zat-zat tertentu. Dalam sebuah kasus yang memuakkan, seorang siswa diminta meminum berbagai cairan yang dikirimkan Chew langsung ke rumahnya. Korban, yang masih menganggap Chew sebagai kawan lamanya, menuruti perintah tersebut melalui panggilan video call.

Antara Januari hingga Agustus 2019, tercatat ada enam paket misterius yang dikirimkan Chew, berisi campuran minyak goreng dan soda kue. Selama interaksi video tersebut, Chew selalu menyembunyikan wajahnya dengan mematikan kamera. Setiap kali korban mulai merasakan reaksi pada perutnya, Chew mewajibkan mereka mengirimkan foto, menjawab kuesioner, hingga melakukan roleplay atau akting seolah-olah sedang kesakitan.

Residivis yang Tak Kenal Jera

Kasus ini akhirnya mulai terurai saat salah satu korban secara tidak sengaja bertemu dengan teman SD yang asli. Menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan selama bertahun-tahun, korban langsung mengonfrontasi Chew. Namun, yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa Chew tetap beraksi meskipun sempat ditangkap dan ponselnya disita polisi pada April 2020.

Baca Juga  Perjuangan Zeda Salim Bangkit dari Trauma KDRT: Antara Pemulihan di RSJ dan Tekad Bertahan Hidup

Bukannya bertaubat saat berstatus tahanan kota dengan jaminan, Chew justru kembali mencari mangsa baru pada tahun 2023. Ia memaksa korban lain untuk mengonsumsi jus prem dan obat pencahar dosis tinggi demi mendapatkan rekaman video yang ia inginkan. Salah satu korban bahkan mengalami muntah-muntah hebat dan dehidrasi parah akibat pil pencahar yang diberikan secara paksa oleh terdakwa.

Penuntutan menekankan bahwa gangguan kesehatan mental yang diidap Chew tidak bisa dijadikan tameng untuk mendapatkan keringanan hukuman. Hal ini dikarenakan Chew melakukan aksinya dengan kesadaran penuh akan konsekuensi hukum dan moral yang berlaku. Rekam jejak kriminalnya juga menunjukkan bahwa ia pernah dipenjara selama 3 tahun pada 2015 atas kasus serupa, menandakan adanya kecenderungan kekerasan seksual yang berulang dan berbahaya bagi masyarakat.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid