Ikuti Kami
kabarmalam.com

Gebrakan Menkes Budi Gunadi: Menakar Ambisi RI Lepas dari Belenggu Impor Bahan Baku Obat

Wahid | kabarmalam.com
Rabu, 24 Jun 2026 19:34 WIB
Gebrakan Menkes Budi Gunadi: Menakar Ambisi RI Lepas dari Belenggu Impor Bahan Baku Obat

Kabarmalam.com — Tantangan besar masih membayangi sektor kesehatan Indonesia terkait kemandirian pemenuhan kebutuhan medis. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan realitas pahit bahwa akses terhadap obat-obatan di tanah air masih menemui jalan terjal lantaran ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan luar negeri.

Hingga saat ini, sekitar 70 hingga 80 persen bahan baku obat (Active Pharmaceutical Ingredient/API) masih harus didatangkan melalui jalur impor. Meski angka ini menunjukkan tren positif dibandingkan sebelumnya yang menembus angka 90 persen, Menkes menegaskan bahwa perjalanan menuju kedaulatan farmasi masih panjang.

Siklus Parasetamol: Ironi di Balik Produksi Lokal

Dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2026), Budi Gunadi memberikan analogi menarik mengenai rantai produksi parasetamol. Indonesia sejatinya telah mampu memproduksi benzena, yang merupakan bahan dasar utama. Namun, ironisnya, proses hilirisasi menjadi zat antara seperti cumene dan fenol hingga menjadi parasetamol siap pakai, justru belum tersedia di dalam negeri.

Baca Juga  Tragedi KRL Bekasi Timur: 14 Penumpang Meninggal Dunia, Ini Daftar Lengkap Rumah Sakit Rujukan Korban

“Apabila seluruh rantai produksi atau hilirisasi ini bisa kita bangun di Indonesia, maka belanja sektor kesehatan sebesar 12 hingga 13 persen itu tidak akan lari ke luar negeri, melainkan bisa ditranslasikan menjadi GDP di sektor kesehatan kita sendiri,” tutur Menkes dengan nada optimis.

Transformasi 35 Bahan Baku Obat Nasional

Pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi ini. Kabar baiknya, saat ini setidaknya sudah ada 35 jenis API yang berhasil diproduksi secara lokal. Menkes memberikan apresiasi khusus kepada tim di bawah arahan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan yang mulai memacu produksi dalam negeri.

Ambisi besar Kemenkes adalah mengubah pola konsumsi industri. Alih-alih hanya membeli produk jadi di ujung rantai, pabrik-pabrik farmasi didorong untuk menyerap bahan baku yang dihasilkan dari rahim industri lokal. Hal ini dilakukan agar ekosistem industri farmasi nasional tidak lagi sekadar menjadi ‘tukang bungkus’, melainkan produsen sejati.

Baca Juga  Rupiah Terpuruk, BPOM Waspadai Lonjakan Harga Obat dan Siapkan Strategi Mitigasi

Kemandirian Melalui Pabrik Plasma Darah

Selain obat-obatan kimia, sektor biofarmasi juga menjadi sorotan. Indonesia tengah mempercepat pembangunan pabrik pengolahan plasma darah pertama. Selama ini, produk-produk krusial seperti albumin, IVIG, serta faktor VIII dan IX yang sangat dibutuhkan pasien, sepenuhnya bergantung pada impor obat dari luar negeri.

Proyek strategis ini juga mendapat kawalan dari Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Fasilitas pengolahan plasma tersebut diproyeksikan mulai beroperasi pada 2027 dengan target kapasitas produksi mencapai 600 ribu liter per hari. Angka yang diharapkan mampu memutus rantai impor secara permanen.

Kolaborasi Strategis Demi Pertumbuhan Ekonomi

Guna mewujudkan visi besar ini, Kemenkes menggandeng berbagai pihak, mulai dari kementerian terkait, pelaku perdagangan, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sinergi ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga memberikan kontribusi riil terhadap target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok pada angka 8 persen.

Baca Juga  Wajah Baru Badan Gizi Nasional: Menkes Dukung 4 Langkah Strategis Perbaikan Program Makan Bergizi Gratis

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tengah serius berbenah. Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa integrasi dari hulu ke hilir adalah kunci utama agar kesehatan masyarakat tidak lagi bergantung pada dinamika pasar global yang fluktuatif.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid