Strategi Cerdas Mengonsumsi Ultra-Processed Food: Tak Selalu Buruk, Kuncinya Ada pada Porsi dan Nutrisi
Rabu, 24 Jun 2026 08:04 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah gempuran tren gaya hidup sehat, istilah Ultra-Processed Food (UPF) sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang. Kategori makanan ini kerap dicap sebagai biang keladi berbagai masalah kesehatan tubuh, sehingga banyak yang memilih untuk menghindarinya secara total. Namun, benarkah semua produk yang masuk dalam kategori UPF itu merugikan? Faktanya, realitanya tidak sesederhana itu.
Saat ini, produk pangan hasil olahan teknologi atau UPF telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan modern yang serba cepat. Mulai dari sereal sarapan, yoghurt, roti kemasan, hingga produk susu kental manis dan makanan beku (frozen food), semuanya menawarkan kepraktisan yang sulit diabaikan. Tantangannya kini bukan lagi soal menjauhi sepenuhnya, melainkan bagaimana kita mampu bersikap bijak dan memahami aturan main dalam mengonsumsinya.
Memahami Lebih Dekat Apa Itu Ultra-Processed Food
Secara definisi, UPF merujuk pada kelompok makanan dan minuman yang telah melewati serangkaian proses industri yang kompleks. Mengacu pada klasifikasi NOVA, pangan dalam kategori ini biasanya mengandung berbagai bahan tambahan seperti pengemulsi, pewarna, perisa, hingga pengawet. Tujuannya beragam, mulai dari memperpanjang masa simpan, menjaga konsistensi tekstur, hingga memperkuat cita rasa agar tetap stabil hingga ke tangan konsumen.
Namun, persepsi bahwa UPF identik dengan gizi buruk perlu diluruskan. Pakar teknologi pangan dari IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, menekankan bahwa kita tidak boleh menghakimi kualitas suatu produk hanya berdasarkan tingkat pemrosesannya saja. Menurutnya, penilaian yang adil harus mencakup analisis terhadap komposisi gizi serta bagaimana produk tersebut ditempatkan dalam pola konsumsi harian.
Titik Temu Antara Keamanan Pangan dan Kandungan Gizi
Satu hal yang sering disalahartikan adalah perbedaan antara keamanan pangan dan nilai gizi. Ambil contoh susu kental manis (SKM). Produk ini merupakan hasil olahan teknologi pangan yang telah memenuhi standar keamanan ketat dari BPOM. Artinya, secara teknis, produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Meski demikian, aman bukan berarti bisa dikonsumsi secara membabi buta tanpa melihat fungsinya.
SKM, misalnya, bukan diposisikan sebagai pengganti susu murni atau sumber gizi utama bagi anak-anak. Peruntukannya yang paling tepat adalah sebagai pelengkap atau topping untuk menambah kelezatan hidangan, seperti pada roti bakar, martabak, atau campuran minuman segar. Di sinilah letak kuncinya: produk UPF bisa tetap aman dan bermanfaat selama konsumen memahami porsi dan konteks penggunaannya dalam menu harian.
Keseimbangan Gizi dalam Pola Makan Total
Menilai sebuah produk pangan secara isolasi—hanya berdasarkan satu kandungan tertentu—sering kali menyesatkan. Prof. Purwiyatno menjelaskan bahwa manfaat atau risiko suatu makanan sangat bergantung pada porsi, frekuensi, dan keseimbangan pola makan secara menyeluruh. Sebuah produk UPF yang mengandung gula atau lemak tambahan tetap bisa menjadi bagian dari diet sehat selama diimbangi dengan asupan serat dari sayur, buah, serta protein yang cukup.
Strategi terbaik bagi konsumen adalah dengan membudayakan membaca label informasi nilai gizi pada kemasan. Dengan mengetahui kadar natrium, gula, dan lemak jenuh dalam sebuah produk, kita dapat menyesuaikan asupan tersebut dengan kebutuhan kalori harian masing-masing individu.
Kesimpulannya, ultra processed food tidak selamanya harus dimusuhi. Dengan pengetahuan yang tepat mengenai fungsi produk dan pengendalian porsi yang disiplin, produk-produk praktis ini tetap bisa dinikmati tanpa harus mengorbankan kualitas kesehatan jangka panjang. Hidup sehat tidak selalu berarti kaku, melainkan tentang bagaimana kita mengatur keseimbangan dengan cerdas.