Ikuti Kami
kabarmalam.com

Fenomena Mie Gunung di PRJ: Pakar Gizi Bedah Dampak dan Sinyal Tubuh Saat Menelan Porsi Jumbo

Wahid | kabarmalam.com
Rabu, 24 Jun 2026 08:36 WIB
Fenomena Mie Gunung di PRJ: Pakar Gizi Bedah Dampak dan Sinyal Tubuh Saat Menelan Porsi Jumbo

Kabarmalam.com — Keriuhan Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair selalu menyisakan cerita menarik, terutama soal tren kuliner yang ekstrem. Tahun ini, perhatian publik tersedot oleh sajian mie dengan porsi menggunung yang viral di media sosial. Visualnya yang melimpah ruah memang menggugah selera, namun di balik kenikmatan visual tersebut, tersimpan tantangan besar yang harus dihadapi oleh sistem metabolisme tubuh manusia.

Menyantap porsi besar dalam satu waktu mungkin terasa memuaskan secara psikologis, namun bagaimana sebenarnya respons biologis kita? Dokter spesialis gizi klinik, dr. Yaze, SpGK, memberikan sudut pandang profesionalnya. Menurutnya, tubuh manusia memiliki mekanisme adaptasi yang luar biasa, sehingga satu kali sesi makan besar tidak akan langsung merusak organ secara permanen. Meski demikian, tubuh akan memberikan rentetan sinyal sebagai tanda bahwa sistem pencernaan tengah bekerja ekstra keras.

Sinyal Tubuh yang Patut Diwaspadai

Saat Anda memutuskan untuk menghabiskan seporsi mie raksasa tersebut, dr. Yaze menjelaskan bahwa ada beberapa alarm alami yang akan menyala:

Baca Juga  Bukan Sekadar Malas, Ternyata Tidur Siang Adalah Kunci Jantung Sehat dan Umur Panjang

1. Sensasi Begah yang Menyesakkan

Ini adalah reaksi paling instan. Rasa penuh yang tidak nyaman di area perut terjadi karena lambung dipaksa meregang melampaui kapasitas normalnya untuk menampung volume makanan yang masif. Kondisi ini menuntut waktu pengosongan lambung yang lebih lama menuju usus halus. Selama proses ini, perut akan terasa kembung dan berat, sebuah pesan jelas bahwa kapasitas kesehatan tubuh sedang diuji oleh beban kerja pencernaan yang berlebihan.

2. Serangan Kantuk yang Hebat (Food Coma)

Fenomena mengantuk setelah makan besar, terutama makanan tinggi karbohidrat seperti mie, bukanlah hal yang aneh. Lonjakan gula darah yang cepat menciptakan efek sugar rush yang membuat Anda merasa bertenaga sesaat. Namun, tak lama kemudian, kadar gula akan merosot tajam (sugar crash), yang memicu rasa lemas dan kantuk berat. Selain itu, tubuh mengalihkan aliran darah secara besar-besaran ke sistem pencernaan, menyisakan sedikit energi untuk fungsi kognitif lainnya.

Baca Juga  Ancaman Tersembunyi di Balik Tren WFH: Saat Duduk Terlalu Lama Mengundang Saraf Kejepit

3. Rasa Haus yang Tidak Berkesudahan

Mie instan atau mie bumbu kuat biasanya mengandung kadar natrium atau garam yang sangat tinggi. Konsumsi garam berlebih ini mengganggu keseimbangan cairan dalam sel, sehingga otak mengirimkan sinyal haus yang kuat guna menetralkan konsentrasi natrium tersebut. Jika Anda merasa ingin terus minum setelah makan mie viral tersebut, itu adalah upaya tubuh untuk mencegah dehidrasi seluler.

4. Paradoks Rasa Lapar dan Keinginan Ngemil

Anehnya, makan dalam porsi raksasa tidak menjamin rasa kenyang yang tahan lama. Akibat fenomena sugar crash yang disebutkan sebelumnya, tubuh akan kembali mencari sumber energi cepat. Hasilnya, beberapa jam setelah makan besar, muncul keinginan kuat untuk mengonsumsi camilan manis. Ini adalah jebakan siklus pola makan yang bisa memicu kenaikan berat badan jika tidak dikendalikan.

Baca Juga  Jangan Dikupas! 5 Buah Ini Ternyata Menyimpan Nutrisi Paling Tinggi di Kulitnya

Siasat Menikmati Kuliner Tanpa ‘Menyiksa’ Tubuh

Menikmati euforia kuliner di PRJ tentu sah-sah saja. Dr. Yaze menekankan bahwa kuncinya bukan pada pelarangan total, melainkan pada manajemen porsi dan strategi makan yang cerdas. Beliau menyarankan agar pengunjung tetap selektif dalam memilih jajanan.

“Pilihlah dua atau tiga jenis makanan yang paling ingin dicoba, tidak perlu semua stan dikunjungi dalam satu hari. Strategi terbaik adalah dengan sharing atau berbagi porsi dengan teman atau keluarga. Dengan begitu, Anda tetap bisa merasakan sensasi kuliner viral tanpa membuat tubuh kewalahan,” jelasnya dalam sebuah sesi edukasi kesehatan.

Menjaga keseimbangan gaya hidup sehat di tengah gempuran tren makanan viral adalah bentuk apresiasi tertinggi terhadap tubuh sendiri. Menikmati makanan adalah tentang kualitas rasa, bukan sekadar kuantitas yang bisa membahayakan metabolisme dalam jangka panjang.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid