Menkes Usul Pasien Tuberkulosis Masuk Program Makan Bergizi Gratis, STPI: Nutrisi Bukan Sekadar Tambahan, Tapi Terapi
Jumat, 26 Jun 2026 11:34 WIB
Kabarmalam.com — Wacana memperluas jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menyasar kelompok yang selama ini berjuang di garis depan melawan penyakit menular yang mematikan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini melontarkan usulan agar para pasien Tuberkulosis (TB) dimasukkan ke dalam daftar penerima manfaat program strategis tersebut.
Langkah ini disambut baik namun dengan catatan kritis dari berbagai pihak. Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia (STPI), dr. Donald Pardede, MPPM, menegaskan bahwa bagi seorang pasien TB, asupan makanan bukan sekadar pengganjal perut, melainkan instrumen medis yang menentukan hidup dan mati. Menurutnya, dukungan gizi merupakan bagian integral dari terapi yang secara langsung mempengaruhi efektivitas obat-obatan dalam tubuh.
Lebih dari Sekadar Menu Sekolah
Meskipun mengapresiasi inisiatif Menteri Kesehatan, Donald mengingatkan bahwa karakteristik pasien TB sangat berbeda dengan kelompok sasaran MBG lainnya seperti anak sekolah. Kebutuhan gizi mereka jauh lebih kompleks dan harus disesuaikan secara klinis.
“Kami sangat menghargai niat baik pemerintah. Namun, perlu diingat bahwa kebutuhan nutrisi pasien TB bersifat spesifik secara medis. Ini bukan sekadar replikasi menu harian biasa,” ungkap Donald dalam keterangannya. Ia merinci tiga fondasi utama yang harus dipenuhi jika usulan ini direalisasikan:
- Prioritas Ekonomi: Program harus difokuskan pada pasien dari kelompok ekonomi paling rentan yang paling berisiko mengalami gizi buruk.
- Standar Klinis: Komposisi kalori, protein, dan mikronutrien harus diformulasikan khusus untuk mempercepat pemulihan jaringan tubuh yang rusak akibat infeksi.
- Integrasi Layanan: Pemberian makanan harus berjalan beriringan dengan pendampingan minum obat dan pemantauan layanan kesehatan secara rutin.
Lingkaran Setan Malnutrisi dan TB
Indonesia saat ini masih menghadapi kenyataan pahit dengan angka kematian akibat TB yang mencapai 126 ribu jiwa per tahun. Jika dikonversi, setidaknya ada dua nyawa yang melayang setiap lima menit akibat penyakit ini. Masalahnya sering kali bukan hanya pada kuman, tetapi pada kondisi fisik pasien yang rapuh.
Malnutrisi dan TB menciptakan lingkaran setan yang mematikan. Gizi buruk melemahkan sistem imun, membuat bakteri TB lebih mudah merusak paru-paru. Sebaliknya, infeksi TB yang berat menyebabkan penurunan nafsu makan secara drastis, memperburuk kondisi gizi pasien. Dukungan nutrisi yang konsisten selama 6 hingga 12 bulan masa pengobatan diyakini mampu memutus rantai tersebut.
Inovasi Distribusi dan Bentuk Makanan
Tantangan lain yang muncul adalah efek samping pengobatan. Banyak pasien TBC yang mengalami mual hebat dan gangguan pencernaan, sehingga tidak mampu mengonsumsi makanan padat secara normal. STPI menyarankan agar bantuan tidak hanya berupa makanan siap saji, tetapi juga dalam bentuk makanan fortifikasi atau suplemen khusus.
Selain itu, mekanisme distribusi menjadi poin krusial. Mengingat adanya stigma sosial dan keterbatasan mobilitas, bantuan sebaiknya tidak hanya tersedia di puskesmas. Peran kader kesehatan yang mengantarkan langsung ke rumah pasien di daerah terpencil menjadi kunci agar program ini tidak salah sasaran dan benar-benar memberikan dampak nyata bagi angka kesembuhan nasional.
Belajar dari keberhasilan negara seperti India dan Tiongkok, dukungan nutrisi yang terstruktur telah terbukti mampu mendongkrak angka kesembuhan secara signifikan. Kini, publik menanti bagaimana pemerintah akan meramu usulan ini menjadi kebijakan yang tepat sasaran.