Ikuti Kami
kabarmalam.com

Sentilan Keras Prabowo Subianto: Tak Ada yang Lebih Genting daripada Perut Lapar

Husnul | kabarmalam.com
Kamis, 25 Jun 2026 07:04 WIB
Sentilan Keras Prabowo Subianto: Tak Ada yang Lebih Genting daripada Perut Lapar

Kabarmalam.com — Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan sikap tegasnya dalam membela program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG). Di hadapan ribuan pasang mata, sang Kepala Negara melontarkan kritik pedas bagi mereka yang masih meragukan urgensi pemenuhan gizi bagi rakyat kecil. Baginya, perdebatan intelektual tak akan ada artinya jika di hadapan mereka terdapat perut-perut yang kosong.

Momen ini terekam saat Prabowo menghadiri Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII yang digelar di Gorontalo. Suasana sempat riuh ketika sekelompok massa membentangkan spanduk bertuliskan ‘Lanjutkan MBG’. Prabowo yang sedang memberikan sambutan pun sempat terhenti sejenak, memberikan atensi pada aksi spontan tersebut dengan nada yang hangat namun penuh penekanan.

Menantang Kritikus Turun ke Lapangan

Prabowo tidak menampik adanya gelombang kritik terhadap kebijakan Makan Bergizi Gratis. Namun, alih-alih berdebat di ruang seminar, ia menantang para pengkritik untuk langsung bertanya kepada akar rumput.

Baca Juga  Klarifikasi Kepala BGN Terkait Isu Liar Dana Makan Bergizi Gratis: Itu Hoax dan Fitnah!

“Ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan MBG. Seharusnya mereka datang ke sini, berdiri di hadapan petani dan nelayan, lalu tanyakan: apakah program ini perlu atau tidak? Tanya juga kepada anak-anak kita, mereka butuh atau tidak?” tegas Prabowo dengan suara baritonnya yang khas.

Sindiran untuk Kaum Intelektual ‘Gagap’ Realita

Dalam orasinya, Presiden juga menyentil kelompok yang ia sebut sebagai ‘orang-orang pintar’ yang menganggap ada isu lain yang lebih mendesak dibanding persoalan pangan. Menurut Prabowo, pandangan semacam itu sangatlah keliru dan tidak berpijak pada realitas kemanusiaan.

“Ada kaum intelektual yang bilang, ada hal yang lebih genting dari sekadar urusan perut lapar. Saya katakan, tidak ada yang lebih darurat daripada perut yang lapar. Jika tidak segera diisi, taruhannya adalah nyawa,” imbuhnya. Ia merujuk pada peringatan FAO dan PBB yang memprediksi krisis kelaparan global akan menghantui dunia, dengan angka penduduk terdampak yang melonjak dari 300 juta menjadi hampir 700 juta jiwa.

Baca Juga  Si Jago Merah Mengamuk di Kalideres, Gudang Besar di Prepedan Terbakar Hebat

Meski dunia sedang dihantui krisis, Prabowo bersyukur karena saat ini Indonesia justru mulai menunjukkan taringnya dengan melakukan ekspor pangan ke berbagai negara, sebuah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Gaya Bicara Blak-blakan: “Sopan tapi Maling”

Ada momen menarik saat Prabowo mengubah gaya bicaranya menjadi lebih halus dan kalem, seolah-olah menirukan gaya birokrat lama yang penuh janji manis namun minim aksi. Aksi teatrikal ini seketika memancing tawa dari para petani dan nelayan yang hadir.

Ia menekankan bahwa dirinya lebih memilih berbicara apa adanya dengan nada keras demi membela kepentingan rakyat, daripada bersikap santun namun mengkhianati amanah. “Kalian lebih senang tahu isi hati saya yang sebenarnya, bukan? Daripada bicara sopan-sopan tapi ujung-ujungnya korupsi, sopan tapi maling,” cetusnya yang disambut tepuk tangan riuh.

Baca Juga  Siasat Keji Pengasuh Ponpes di Pati: Korban Diancam 'Putus Jalur Ilmu' dan Takut Melawan Tuhan

Di akhir pidatonya, Prabowo menegaskan komitmennya untuk membawa Indonesia bangkit menjadi bangsa yang hebat. Meski ia menyadari ada pihak-pihak tertentu yang merasa terganggu dengan kebangkitan Indonesia di bawah kepemimpinannya, ia memastikan tidak akan mundur selangkah pun dalam menjalankan agenda pro-rakyat.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul