Menanti Rekonsiliasi 11 Juli: Ruben Onsu Tantang Transparansi Sarwendah Soal Hak Asuh dan Nafkah
Kamis, 25 Jun 2026 21:35 WIB
Kabarmalam.com — Pusaran konflik pascaperceraian antara Ruben Onsu dan Sarwendah kini memasuki babak baru yang krusial. Sebuah undangan pertemuan yang dilayangkan pihak Sarwendah dijadwalkan berlangsung pada 11 Juli mendatang, menjadi harapan bagi kedua belah pihak untuk mengakhiri drama berkepanjangan terkait hak asuh anak dan tanggung jawab nafkah yang kian memanas.
Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, Ruben Onsu menyatakan kesiapannya untuk hadir dalam agenda mediasi tersebut. Namun, di balik kesediaan tersebut, terselip sebuah catatan kritis. Pihak Ruben menilai bahwa solusi dari segala keributan ini sebenarnya sangat sederhana: konsistensi dalam menjalankan poin-poin yang telah disepakati dan tertuang dalam dokumen pascacerai.
Mencari Titik Temu di Tengah Ketidakpastian
Minola Sebayang menegaskan bahwa niat untuk bertemu sudah bulat, meski ia tetap menyisipkan nada hati-hati mengenai realisasinya nanti. “Sampai hari ini niat kita kan akan hadir, tapi siapa yang tahu hari esok? Kita berdoa bersama supaya tidak ada halangan,” ungkap Minola dalam sesi wawancara virtual beberapa waktu lalu.
Bagi kubu Ruben, dokumen bernama Akta 39 adalah kunci utama. Dokumen tersebut dianggap sudah mengatur secara mendalam mengenai konsekuensi perceraian, mulai dari pembagian waktu bersama anak hingga urusan finansial yang mendetail. Minola pun mempertanyakan urgensi dari diskusi yang terlalu panjang jika kesepakatan tertulis yang sudah ada belum sepenuhnya direalisasikan secara maksimal oleh pihak mantan istri.
Polemik Hak Ayah dan Transparansi Keputusan
Salah satu inti masalah yang ingin segera dituntaskan adalah hak Ruben sebagai ayah kandung untuk berkumpul bersama buah hatinya. Ruben berharap bisa mendapatkan waktu berkualitas selama dua hingga tiga hari dalam sepekan tanpa hambatan. Ia tidak ingin pertemuan 11 Juli nanti justru melebar ke isu-isu lain yang dianggap hanya sebagai pengalihan dari substansi utama.
“Kalau mengenai masalah nafkah anak atau besaran nominal, silakan bicarakan. Tapi harus jelas topiknya apa,” tegas Minola. Ia juga menyoroti pola komunikasi yang selama ini dianggap pincang. Selama ini, Ruben merasa sering ditempatkan pada posisi sebagai pembayar tagihan semata tanpa dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis untuk anak-anaknya.
- Ruben merasa tidak diajak berdiskusi mengenai pilihan pendidikan anak.
- Rencana liburan Thalia dan Thania sering kali diputuskan secara sepihak.
- Terdapat tuntutan agar Ruben menanggung seluruh biaya secara penuh tanpa adanya dialog sebelumnya.
Mengakhiri Keputusan Sepihak
Minola Sebayang mengingatkan agar momentum pertemuan nanti menjadi titik balik untuk menghentikan tradisi pengambilan keputusan sepihak dalam pengasuhan anak. Meskipun Ruben Onsu dikenal sebagai figur yang sangat bertanggung jawab, namun ia menuntut adanya rasa hormat dalam bentuk komunikasi yang transparan.
“Ruben adalah orang yang bertanggung jawab. Hanya saja, jangan sampai semuanya diputuskan sendiri oleh pihak sana. Harusnya ada diskusi, karena ini menyangkut masa depan anak-anak mereka bersama,” pungkas Minola menutup pembicaraan.