Singapura Tabuh Genderang Perang Melawan Natrium demi Tekan Lonjakan Hipertensi
Senin, 22 Jun 2026 14:03 WIB
Kabarmalam.com — Setelah sukses menjinakkan tren konsumsi gula masyarakat melalui kampanye ‘siu dai’ (kurang manis), Singapura kini mengalihkan radarnya ke musuh tersembunyi dalam piring makan: garam. Pemerintah Negeri Singa tersebut secara resmi memulai langkah agresif untuk merombak pola makan nasional yang dinilai sudah masuk dalam zona merah akibat tingginya konsumsi natrium.
Transformasi Budaya Makan: Meminta ‘Sedikit Garam’ Menjadi Normal
Dewan Promosi Kesehatan Singapura (HPB) tengah menyusun strategi besar yang dijadwalkan meluncur pada kuartal keempat tahun 2026. Misi utamanya bukan sekadar imbauan, melainkan upaya mendalam untuk mengubah psikologi konsumen. HPB ingin agar setiap orang secara naluriah meminta pengurangan garam dan saus saat memesan makanan, layaknya mereka meminta minuman rendah gula saat ini.
Tay Choon Hong, Kepala Eksekutif HPB, menegaskan pentingnya normalisasi kebiasaan ini di masyarakat. Menurutnya, jika permintaan akan makanan rendah natrium menjadi masif, maka standar tersebut bisa ditetapkan sebagai aturan baku bagi seluruh pelaku industri kuliner di masa depan. Upaya ini diharapkan dapat membantu masyarakat terhindar dari risiko tekanan darah tinggi yang kian mengancam.
Replikasi Kesuksesan Nutri-Grade
Langkah berani ini tidak muncul begitu saja. Singapura berkaca pada kesuksesan skema pelabelan Nutri-Grade yang diterapkan pada September 2023. Melalui label A hingga D, konsumen dipaksa secara visual untuk melihat kandungan gula dan lemak jenuh dalam minuman kemasan. Hasilnya luar biasa; penjualan minuman sehat (Grade A dan B) melonjak dari 37 persen di tahun 2017 menjadi 73 persen di tahun 2024.
Kini, strategi yang sama akan diterapkan pada produk-produk tinggi natrium. Mulai pertengahan tahun 2027, label Nutri-Grade akan menghiasi kemasan garam, berbagai jenis saus, bumbu instan, mi instan, hingga minyak goreng. Ini adalah bagian dari komitmen gaya hidup sehat yang membuat Singapura sempat dianugerahi penghargaan Healthy City Recognition oleh WHO.
Alarm Bahaya: Lonjakan Kasus Hipertensi
Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan medis yang kuat. Data terbaru tahun 2025 menunjukkan realitas yang mencemaskan: lebih dari sepertiga penduduk Singapura kini menderita hipertensi. Kondisi ini sering kali menjadi pintu masuk bagi komplikasi fatal seperti stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal yang mengharuskan pasien menjalani prosedur cuci darah.
Hasil Survei Gizi Nasional 2022 mengungkap fakta bahwa 9 dari 10 warga Singapura mengonsumsi rata-rata 3.620 mg natrium per hari. Angka ini hampir dua kali lipat dari batas aman 2.000 mg (setara satu sendok teh) yang direkomendasikan secara global. Melalui intervensi ketat ini, pemerintah menargetkan pengurangan asupan garam nasional sebesar 15 persen pada tahun 2026 demi meminimalisir risiko penyakit ginjal kronis.
Tantangan Industri dan Investasi Kesehatan
Meski terlihat menjanjikan, memangkas garam jauh lebih rumit dibandingkan mengurangi gula. Industri kuliner, terutama produsen kecap, menyuarakan kekhawatiran mereka. Pasalnya, garam memegang peran struktural dalam proses fermentasi. Pengurangan yang terlalu drastis dikhawatirkan dapat merusak profil rasa dan kualitas produk secara keseluruhan.
Selain masalah teknis, faktor harga juga menjadi sorotan. Garam rendah natrium dibanderol sekitar S$5 (Rp59.000) per kg, jauh lebih mahal dibanding garam biasa yang hanya S$2 (Rp23.000). Namun, Tay Choon Hong memiliki argumen kuat mengenai hal ini.
“Rata-rata satu rumah tangga hanya menghabiskan 1 kg garam dalam setahun. Menambah pengeluaran sebesar S$3 (sekitar Rp53.000) untuk jaminan kesehatan jantung selama setahun penuh adalah investasi yang sangat murah dibandingkan biaya perawatan rumah sakit,” pungkasnya. Dengan dukungan supermarket besar yang akan menyediakan rak khusus ‘pilihan sehat’, Singapura optimistis dapat memenangkan perang melawan natrium ini.