Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengenal Rhabdomyolysis: Ancaman Tersembunyi ‘Ginjal Kolaps’ di Balik Ambisi Lari Marathon

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 22 Jun 2026 06:34 WIB
Mengenal Rhabdomyolysis: Ancaman Tersembunyi 'Ginjal Kolaps' di Balik Ambisi Lari Marathon

Kabarmalam.com — Tren olahraga lari kini tengah berada di puncaknya. Dari sekadar fun run sejauh 5 kilometer hingga tantangan ekstrem ultra-marathon lintas alam, ribuan orang berbondong-bondong memadati lintasan demi kesehatan dan gengsi garis finish. Namun, di balik euforia medali dan peningkatan stamina, tersimpan risiko medis yang mematikan jika tubuh dipaksa melampaui batasnya tanpa persiapan matang: Rhabdomyolysis.

Apa Itu Rhabdomyolysis dan Mengapa Berbahaya?

Secara sederhana, Rhabdomyolysis adalah kondisi serius yang terjadi ketika jaringan otot rangka mengalami kerusakan hebat atau kematian sel secara mendadak. Kerusakan ini menyebabkan isi sel otot, termasuk protein yang disebut mioglobin dan berbagai elektrolit, bocor ke dalam aliran darah.

Kandungan mioglobin yang berlebihan ini bagaikan racun bagi sistem penyaringan tubuh. Ketika zat tersebut mencapai ginjal dalam jumlah besar, ia dapat menyumbat dan merusak saluran ginjal, yang pada akhirnya memicu gagal ginjal akut. Fenomena ini sering dikaitkan dengan olahraga marathon atau aktivitas fisik intensitas tinggi lainnya yang dilakukan secara berlebihan.

Baca Juga  Efisiensi Anggaran, Badan Gizi Nasional Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Libur di Hari Merah

Sinyal Bahaya yang Sering Diabaikan

Banyak pelari yang terjebak dalam ambisi mencapai garis akhir sehingga mengabaikan sinyal darurat dari tubuh. Gejala Rhabdomyolysis biasanya muncul dalam rentang waktu satu hingga tiga hari setelah otot mengalami cedera atau kelelahan ekstrem.

Gejala yang patut diwaspadai meliputi:

  • Nyeri otot yang luar biasa hebat.
  • Kelelahan akut yang tidak kunjung hilang.
  • Mual dan penurunan kesadaran.
  • Dehidrasi berat yang diikuti dengan penurunan frekuensi buang air kecil.

Salah satu indikator paling nyata adalah perubahan warna urine. Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan bahwa urine penderita biasanya akan berubah menjadi gelap, menyerupai warna teh atau cola, akibat tingginya kadar mioglobin yang terbuang.

Baca Juga  Pelajaran Berharga dari Bekasi: Mengapa Rajin Minum Air Putih Tak Menjamin Ginjal Aman?

Bukan Hanya untuk Pelari Pemula

Ada anggapan keliru bahwa kondisi ini hanya mengintai mereka yang baru mulai berolahraga. Faktanya, baik pemula maupun atlet elit memiliki risiko yang sama jika mengabaikan prinsip dasar pemanasan olahraga dan kesiapan fisik.

“Penyebab utamanya adalah kurangnya persiapan yang gradual atau bertahap. Terkadang seseorang merasa sudah biasa, lalu langsung memacu intensitas secara mendadak,” jelas dr. Tunggul. Ia juga menekankan bahwa aktivitas fisik masif lainnya, seperti olahraga Hyrox, juga membawa risiko cedera otot serupa karena penggunaan otot yang sangat masif dalam waktu singkat.

Harapan Pulih Melalui Penanganan Cepat

Kabar baiknya, Rhabdomyolysis yang memicu Acute Kidney Injury (AKI) atau cedera ginjal mendadak masih bersifat reversible atau dapat disembuhkan jika ditangani dengan sigap. Kecepatan tindakan medis menjadi kunci utama agar fungsi ginjal tidak rusak secara permanen.

Baca Juga  Transformasi Layanan Kesehatan Modern, Brawijaya Hospital Hadirkan 4 Center of Excellence Berteknologi Mutakhir

“Jika masih berada pada AKI derajat satu atau dua, kemungkinan besar bisa sembuh tanpa perlu prosedur dialisis atau cuci darah. Namun, jika sudah mencapai derajat tiga, tindakan dialisis menjadi wajib dilakukan,” ungkap dr. Tunggul. Oleh karena itu, mendengarkan sinyal tubuh dan tidak memaksakan diri saat kelelahan melanda adalah langkah preventif terbaik demi menjaga kesehatan ginjal dalam jangka panjang.

Kesimpulannya, lari adalah investasi kesehatan yang luar biasa, namun bijaklah dalam menakar kemampuan diri. Jangan biarkan ambisi di lintasan lari berakhir di ruang perawatan intensif.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid