Inspirasi Nirin Samsudin: Dari Modal Nol Hingga Menjadi Penggerak Ekonomi Ayam Petelur di Bekasi
Senin, 22 Jun 2026 22:34 WIB
Kabarmalam.com — Garis tangan seseorang memang tidak ada yang tahu, namun bagi Nirin Samsudin (47), keberanian mengambil langkah pertama adalah kunci segalanya. Pria paruh baya asal Kampung Cisaat, Desa Kertarahayu, Setu, Kabupaten Bekasi ini membuktikan bahwa keterbatasan modal bukanlah penghalang untuk membangun sebuah imperium kecil yang bermanfaat bagi orang banyak. Dari sekadar buruh panggul pakan, kini ia bertransformasi menjadi sosok sentral dalam ekosistem bisnis ayam petelur di wilayahnya.
Awal Mula Sebuah Mimpi
Perjalanan Nirin dimulai sekitar enam tahun lalu. Kala itu, ia menghabiskan hari-harinya bekerja mengangkut karung-karung pakan ternak. Di sela-sela peluhnya, Nirin tak sekadar bekerja secara fisik; ia mengamati, belajar, dan mencerna peluang. Ia melihat bagaimana telur selalu dicari oleh masyarakat dan potensi keuntungannya yang stabil. Namun, satu masalah besar menghalanginya: ia sama sekali tidak memiliki modal.
Pada tahun 2020, bermodalkan kepercayaan dan tekad baja, Nirin memberanikan diri meminjam modal awal sebesar Rp60 juta dari kerabat untuk membangun kandang pertamanya. Dengan 700 ekor ayam, ia mulai merajut asa. Kedisiplinannya membuahkan hasil; hanya dalam waktu dua tahun, utang modal awal tersebut berhasil ia lunasi sepenuhnya.
Sinergi dengan KUR BRI: Melejitkan Skala Usaha
Tak ingin berpuas diri, Nirin membidik skala yang lebih besar. Langkah ekspansi ini membawanya bersinergi dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Melalui kucuran dana sebesar Rp100 juta, Nirin merenovasi kandang dan menambah populasi ayamnya menjadi 1.000 ekor. Kepercayaan yang ia bangun dengan pihak bank membuatnya terus mendapatkan dukungan pembiayaan berkala untuk memastikan operasional peternakannya tetap prima.
Kini, setiap pagi, kandang Nirin riuh dengan suara ribuan ayam yang menghasilkan setidaknya 55 hingga 57 kilogram telur per hari. Menariknya, Nirin hampir tidak pernah dipusingkan dengan urusan pemasaran. “Telurnya tidak pernah menumpuk, selalu laku,” ungkapnya dengan nada syukur. Pelanggannya mulai dari tetangga sekitar, warung sembako di desa, hingga pembeli dari luar wilayah yang datang langsung ke rumahnya.
Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan Warga
Kesuksesan Nirin tidak dinikmati sendiri. Ia kini menjadi pemasok pakan utama bagi peternak-peternak baru di desanya. Melalui model pemberdayaan UMKM yang ia jalankan secara organik, kini telah tumbuh tujuh lokasi peternakan serupa di Kampung Cisaat dengan total populasi mencapai 8.000 ekor ayam. Nirin bertindak sebagai mentor sekaligus penyedia kebutuhan operasional bagi mereka.
Secara finansial, dari penjualan telur saja, Nirin mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp14 juta per bulan. Angka ini bertambah sekitar Rp12 juta dari bisnis penjualan pakan. Tak hanya itu, ia juga memberdayakan warga setempat untuk membantu membersihkan kotoran ayam yang kemudian diolah menjadi pupuk organik bagi para petani padi di desanya. “Kotoran ayam ini laris manis di kalangan petani karena kualitasnya bagus untuk tanaman,” tambah Nirin.
Menjaga Kepercayaan di Atas Keuntungan
Filosofi bisnis Nirin cukup unik. Di saat harga pakan melambung, ia seringkali memilih untuk memangkas margin keuntungannya sendiri demi menjaga harga tetap stabil bagi para peternak binaannya. Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan peluang usaha desa jauh lebih penting daripada sekadar mengejar profit sesaat.
Kepala BRI Unit Setu Bekasi, Setia Adi, memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi Nirin. Menurutnya, Nirin adalah contoh nyata bagaimana nasabah KUR bisa ‘naik kelas’ dan memberikan dampak domino bagi lingkungan sekitarnya. BRI berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan melalui para mantri agar pelaku usaha kecil seperti Nirin terus berkembang dan berkelanjutan.
Kisah Nirin Samsudin adalah pengingat bahwa dedikasi yang dipadukan dengan dukungan finansial yang tepat dari lembaga perbankan dapat menciptakan perubahan ekonomi yang signifikan, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi satu komunitas desa.