Waspada ‘Silent Killer’, Kenali Gejala Penyakit Ginjal Kronis yang Sering Dikira Lelah Biasa
Kamis, 18 Jun 2026 09:33 WIB
Kabarmalam.com — Penyakit Ginjal Kronis (PGK) atau yang secara medis dikenal sebagai Chronic Kidney Disease (CKD) bukanlah lawan yang mudah dideteksi. Sebaliknya, kondisi ini kerap dijuluki sebagai “silent disease” karena sifatnya yang merayap secara perlahan tanpa menimbulkan rasa sakit yang berarti pada tahap awal. Ironisnya, banyak orang baru menyadari ada yang salah ketika fungsi organ vital tersebut sudah berada di titik kritis.
Konsultan Ahli Nefrologi dan Dokter Transplantasi Ginjal dari Sunway Medical Centre (SMC) Malaysia, Dr. Rosnawati Yahya, mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Ia menjelaskan bahwa tiga stadium awal dari penyakit ginjal kronis biasanya berjalan sepenuhnya tanpa gejala yang nyata. “Jika Anda menunggu sampai muncul gejala, itu artinya Anda sudah terlambat,” tegasnya dalam sebuah wawancara.
Sering Terkecoh, Gejala Awal Mirip Efek Stres
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gejala penyakit ginjal adalah kemiripannya dengan keluhan kesehatan ringan lainnya. Banyak pasien, terutama wanita, sering menganggap remeh tanda-tanda yang muncul karena dirasa hanya sekadar efek kelelahan bekerja, anemia, atau tekanan stres sehari-hari.
Beberapa tanda klinis yang seharusnya menjadi alarm bagi kesehatan tubuh Anda antara lain:
- Rasa lelah dan lesu yang bersifat kronis meskipun sudah beristirahat cukup.
- Peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama saat malam hari (nokturia).
- Munculnya pembengkakan atau retensi cairan pada area kaki, pergelangan kaki, hingga wajah.
“Wanita sering kali salah mengartikan gejala ini sebagai bagian dari proses penuaan, perubahan hormon, atau stres biasa, padahal itu adalah sinyal dari ginjal,” tambah Dr. Rosnawati. Lebih jauh lagi, hasil laboratorium pun bisa mengecoh. Kadar kreatinin yang terlihat ‘normal’ pada wanita bertubuh mungil belum tentu menunjukkan ginjal yang sehat, karena massa otot yang rendah bisa menutupi penurunan fungsi ginjal yang sebenarnya.
Diabetes dan Hipertensi: Sang Pemicu Utama
Berdasarkan catatan medis yang dihimpun, diabetes dan hipertensi masih menjadi faktor risiko utama yang merusak fungsi ginjal secara masif. Data menunjukkan bahwa diabetes berkontribusi pada 56 persen kasus gagal ginjal, sementara hipertensi menyusul di angka 30 persen.
Selain kedua penyakit tersebut, kelompok yang memiliki riwayat penyakit autoimun seperti Lupus (SLE) juga berada dalam zona risiko tinggi. Begitu pula bagi wanita yang pernah mengalami komplikasi saat masa kehamilan—seperti preeklampsia atau diabetes gestasional—serta mereka yang mengidap Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS).
Deteksi Dini Sebagai Kunci Penyelamatan
Untuk menghindari kerusakan yang permanen, langkah preventif melalui pemeriksaan rutin sangatlah krusial. Dr. Rosnawati menyarankan tiga tes sederhana yang bisa menyelamatkan nyawa: tes fungsi ginjal melalui darah, pemantauan tekanan darah secara berkala, dan tes urine.
“Adanya kandungan protein dalam urine adalah salah satu indikator awal kerusakan ginjal. Deteksi sedini mungkin mengubah segalanya karena pilihan pengobatan menjadi lebih luas. Fokus utama kita adalah pelestarian fungsi yang masih ada,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa jika penurunan fungsi ginjal bisa ditekan dari 10 persen menjadi hanya 2 persen per tahun, maka banyak pasien yang bisa terhindar dari prosedur dialisis atau cuci darah seumur hidup.
Oleh karena itu, menjaga gaya hidup sehat dan tidak mengabaikan keluhan kecil pada tubuh adalah investasi terbaik untuk masa depan ginjal Anda.