Menyingkap Bahaya di Balik Gurihnya Ikan Asin: Kaitannya dengan Risiko Kanker Nasofaring
Jumat, 05 Jun 2026 10:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik cita rasanya yang gurih dan menggugah selera, ikan asin yang menjadi primadona di meja makan masyarakat Indonesia ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejumlah riset kesehatan terbaru kembali menyoroti kaitan erat antara konsumsi ikan yang diawetkan dengan garam ini terhadap meningkatnya risiko kanker nasofaring, sebuah penyakit yang menyerang bagian atas tenggorokan tepat di belakang hidung.
Kanker nasofaring bukanlah penyakit yang asing di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selain itu, prevalensi penyakit ini juga cukup tinggi di China Selatan, Afrika Utara, hingga kawasan Arktik. Berdasarkan data dari Indonesia Cancer Care Community (ICCC), meskipun penyebab pastinya masih terus didalami, pola makan menjadi salah satu faktor risiko yang paling signifikan dalam memicu pertumbuhan sel kanker di area tersebut.
Mengapa Ikan Asin Menjadi Pemicu Utama?
Bukan tanpa alasan ikan asin sering dikaitkan dengan kanker nasofaring. Proses pengawetan tradisional yang melibatkan penggunaan garam dalam jumlah besar diduga kuat menjadi pemicu utama. ICCC mencatat bahwa studi klinis secara konsisten menunjukkan bahwa individu yang sering mengonsumsi ikan asin memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang atau tidak menyentuhnya sama sekali.
Yang cukup mengejutkan, risiko ini bersifat akumulatif. Semakin sering dan semakin lama seseorang memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan ini, semakin besar pula ancaman yang mengintai. Temuan menarik lainnya mengungkapkan bahwa pola makan di masa kecil memegang peranan krusial. Anak-anak yang sering mengonsumsi ikan asin sebelum usia 10 tahun ditemukan memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap kanker ini saat mereka beranjak dewasa dibandingkan dengan mereka yang baru memulai kebiasaan tersebut di usia matang.
Ancaman Senyawa Karsinogenik N-Nitroso
Secara ilmiah, ICCC menjelaskan bahwa proses kimiawi selama pengawetan ikan memicu terbentuknya senyawa N-nitroso di dalam tubuh. Senyawa ini lahir dari reaksi antara kandungan amina pada protein ikan dengan nitrat atau nitrit yang terdapat dalam garam selama proses fermentasi atau pengeringan. Senyawa N-nitroso telah lama dikategorikan sebagai zat karsinogenik atau zat yang berpotensi kuat memicu kanker pada jaringan tubuh manusia.
Selain ikan asin, risiko serupa juga membayangi berbagai jenis makanan fermentasi dan makanan yang diawetkan dengan garam lainnya. Hal ini menjadi catatan penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur pola makan sehat sehari-hari demi menjaga kualitas hidup jangka panjang.
Interaksi dengan Virus Epstein-Barr
Tak hanya faktor kimiawi, para peneliti juga menduga adanya keterkaitan antara konsumsi ikan asin dengan aktivasi Virus Epstein-Barr (EBV). Virus ini sebenarnya sangat umum ditemukan pada manusia dewasa, namun dalam kondisi tertentu, paparan faktor lingkungan dan diet yang buruk dapat memicu virus ini berkembang menjadi keganasan nasofaring.
Para ahli meyakini bahwa kanker nasofaring adalah hasil dari kombinasi kompleks antara paparan virus, lingkungan, kebiasaan makan, hingga faktor genetika seseorang. Oleh karena itu, deteksi dini terhadap gejala kanker menjadi sangat krusial untuk meningkatkan peluang kesembuhan.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Mengingat posisinya yang tersembunyi di belakang hidung, gejala kanker nasofaring sering kali terabaikan karena mirip dengan gangguan kesehatan ringan. ICCC mengimbau masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan medis jika mengalami gejala berikut secara terus-menerus:
- Munculnya benjolan tidak sakit di area leher.
- Hidung tersumbat yang menetap tanpa sebab yang jelas.
- Mimisan yang terjadi berulang kali.
- Sensasi telinga berdenging (tinitus) atau gangguan pendengaran.
- Nyeri pada telinga atau sakit kepala kronis.
- Kesulitan bernapas atau perubahan suara (kesulitan berbicara).
Di Indonesia, angka kejadian kanker nasofaring mencapai sekitar 6,2 kasus per 100.000 penduduk, menjadikannya salah satu jenis kanker kepala dan leher yang paling sering ditemukan. Kesadaran akan kesehatan masyarakat dan deteksi dini tetap menjadi kunci utama dalam menekan angka fatalitas penyakit ini.