Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengintai di Balik Hidangan, Ahli Gizi Ingatkan Bahaya Ikan Sapu-sapu yang Tak Hilang Meski Dimasak Higienis

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 05 Mei 2026 19:34 WIB
Mengintai di Balik Hidangan, Ahli Gizi Ingatkan Bahaya Ikan Sapu-sapu yang Tak Hilang Meski Dimasak Higienis

Kabarmalam.com — Anggapan bahwa mengolah bahan makanan secara higienis dapat menjamin keamanan konsumsi nampaknya tidak berlaku bagi ikan sapu-sapu. Ikan yang sering ditemukan di perairan tercemar ini menyimpan risiko kesehatan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kuman atau bakteri yang bisa mati saat proses pemanasan.

Nutrisionis kenamaan, Rita Ramayulis, memberikan peringatan keras terkait konsumsi ikan jenis ini. Menurutnya, proses pembersihan maupun cara memasak yang paling canggih sekalipun tidak serta-merta membuat ikan sapu-sapu aman untuk dikonsumsi, terutama jika habitat asalnya sudah terpapar limbah berbahaya yang mengandung zat toksik.

Ancaman Molekul Logam Berat yang Membandel

Rita menjelaskan bahwa masalah utama pada ikan sapu-sapu adalah kandungan logam berat yang terserap ke dalam jaringan dagingnya. Zat kimia ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan bakteri atau parasit. Molekul kimia tersebut, terutama jika sudah terakumulasi dalam dosis tinggi, cenderung berbentuk molekul besar yang tidak mudah larut dalam air atau hancur hanya karena suhu panas saat memasak.

Baca Juga  6,9 Ton Ikan Sapu-sapu Jakarta Dimusnahkan: Menguak Ancaman Kanker dan Logam Berat di Balik Dagingnya

“Ya, tidak menolong. Karena sebenarnya cemaran-cemaran kimia itu tidak semuanya larut di air. Kalau yang dosisnya sudah banyak, dia berbentuknya molekul besar,” ungkap Rita dalam sebuah diskusi kesehatan. Hal ini mematahkan mitos yang berkembang di masyarakat bahwa perebusan atau penggorengan suhu tinggi bisa ‘mensterilkan’ racun kimia dari tubuh ikan.

Keterbatasan Detoksifikasi Alami Tubuh

Banyak orang percaya bahwa tubuh manusia memiliki sistem detoksifikasi alami yang mumpuni melalui urine dan keringat. Namun, Rita menekankan bahwa kemampuan tubuh kita memiliki batasan yang jelas. Untuk racun yang bersifat logam berat, sistem pembuangan alami manusia seringkali tidak berdaya menghadapi struktur molekulnya yang masif.

Dalam dunia medis, penanganan racun logam berat membutuhkan prosedur yang sangat spesifik yang dikenal sebagai terapi kelasi. Terapi ini melibatkan pemberian agen pengkelat, baik melalui infus maupun obat-obatan khusus, untuk mengikat logam berat tersebut. Tujuannya adalah mengubah molekul racun menjadi ukuran yang lebih kecil dan larut dalam air sehingga bisa dikeluarkan dari tubuh.

Baca Juga  Menilik Bedah Bariatrik: Bukan Sekadar Jalan Pintas, Ini Kriteria Medis untuk Pasien Obesitas

“Sebenarnya kita buang air kecil setiap hari dan berkeringat setiap saat sebagai media pengeluaran zat-zat toksik juga. Tapi zat toksik yang mana dulu? Kalau sudah berbentuk logam berat, agak sulit dikeluarkan lewat keringat,” tambah Rita menjelaskan tantangan dalam menjaga kesehatan tubuh dari paparan zat berbahaya.

Waspada Terhadap Keamanan Pangan

Risiko ini menjadi semakin nyata mengingat daging ikan sapu-sapu terkadang disalahgunakan oleh oknum nakal untuk campuran produk olahan karena harganya yang sangat murah. Oleh karena itu, kesadaran akan keamanan pangan harus menjadi prioritas utama bagi setiap konsumen.

Rita menyarankan agar masyarakat lebih selektif dalam memilih sumber protein dan tidak tergiur dengan harga murah tanpa mengetahui asal-usul bahan bakunya. Mengonsumsi ikan yang berasal dari perairan bersih tetap menjadi pilihan terbaik untuk menghindari risiko jangka panjang yang diakibatkan oleh akumulasi logam berat dalam tubuh.

Baca Juga  Mengenal Sisi Lain Ikan Sapu-sapu: Kaya Nutrisi Namun Menyimpan Ancaman Tersembunyi
Tentang Penulis
Wahid
Wahid