Ikuti Kami
kabarmalam.com

Petaka ‘Whip Pink’ YouTuber AM: Terkulai Lumpuh dan Bahaya Nyata Gas Tawa yang Mengintai Saraf

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 30 Mei 2026 16:34 WIB
Petaka 'Whip Pink' YouTuber AM: Terkulai Lumpuh dan Bahaya Nyata Gas Tawa yang Mengintai Saraf

Kabarmalam.com — Sebuah tren berbahaya yang kerap dianggap remeh kini memakan korban dari kalangan figur publik. Seorang YouTuber populer berinisial AM dilaporkan mengalami kelumpuhan temporer yang sangat mengkhawatirkan setelah terjerumus dalam penyalahgunaan gas nitrous oxide (N2O) atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘whip pink’. Insiden ini menjadi pengingat keras akan risiko fatal di balik zat yang sering kali disalahartikan sebagai sarana hiburan belaka.

Kronologi YouTuber AM Hingga Terjatuh dari Tangga

Kisah tragis ini terungkap setelah pihak Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri melakukan pemeriksaan intensif terhadap AM. Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengonfirmasi bahwa sang YouTuber telah mengonsumsi produk gas merek ‘whip pink’ secara berkala dalam kurun waktu Januari hingga Maret 2026. Dampaknya tidak main-main, AM terpaksa dilarikan ke sebuah rumah sakit di kawasan Tangerang untuk menjalani perawatan serius.

Baca Juga  Transformasi Tubuh dalam 4 Minggu: Panduan Jalan Kaki Efektif Agar Celana Cepat Melonggar

“AM menjelaskan bahwa penggunaan produk tersebut diduga kuat telah merusak kesehatannya. Saat dilarikan ke rumah sakit, ia mengaku kehilangan kontrol total terhadap anggota tubuhnya, terutama bagian kaki. Kondisi lumpuh temporer ini bahkan membuatnya terjatuh dari tangga rumahnya,” ungkap Brigjen Eko dalam keterangan resminya.

Zat Legal yang Berubah Menjadi Racun

Fenomena ‘whip pink’ sebenarnya bukanlah barang baru di dunia kuliner. Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof Zullies Ikawati, menjelaskan bahwa secara fungsional, alat ini legal karena ditujukan sebagai bahan pengembang whipped cream agar teksturnya menjadi lembut dan estetik. Begitu pula dalam dunia medis, dinitrogen oksida digunakan sebagai anestesi ringan dalam persalinan atau prosedur kedokteran gigi.

Namun, Prof Zullies menekankan perbedaan besar antara penggunaan medis dan penyalahgunaan. “Dalam tindakan medis, dosisnya sangat terkontrol, dicampur dengan oksigen, dan diawasi ketat oleh tenaga kesehatan. Masalah besar muncul ketika gas ini dihirup secara langsung dan sengaja untuk mendapatkan efek psikotropika tanpa pengawasan,” tegasnya saat memberikan penjelasan mendalam kepada Kabarmalam.com.

Baca Juga  Siloam Cardiac Summit 2026: Mengintegrasikan Teknologi dan Empati Demi Menekan Angka Kematian Penyakit Jantung

Bagaimana Gas Tawa Merusak Sistem Saraf?

Mengapa gas ini begitu digemari sekaligus mematikan? Saat dinitrogen oksida masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, zat ini langsung menyerang otak dan sistem saraf pusat. Gas ini memicu pelepasan dopamin secara mendadak, menciptakan sensasi euforia singkat, rasa melayang, hingga tawa yang tidak terkendali. Inilah yang membuat banyak orang terjebak dalam siklus pemakaian berulang karena efeknya yang cepat hilang.

Namun, di balik kesenangan singkat itu, dinitrogen oksida bekerja menggantikan posisi oksigen di paru-paru. Dampaknya, tubuh mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen akut. Jika digunakan dalam jangka panjang, risikonya jauh lebih mengerikan.

Ancaman Kerusakan Saraf Permanen

Menurut Prof Zullies, penggunaan ‘whip pink’ secara berulang akan mengganggu metabolisme vitamin B12 dalam tubuh. Vitamin ini sangat krusial untuk menjaga kesehatan selubung saraf. Ketika fungsi vitamin B12 terganggu, pengguna akan mulai merasakan gejala kesemutan, mati rasa, hingga gangguan berjalan yang kronis.

Baca Juga  Waspada 'Silent Killer'! Hipertensi pada Anak Muda Picu Risiko Komplikasi Jantung dan Ginjal Lebih Dini

“Ini adalah zat psikoaktif yang berbahaya. Meskipun tidak dikategorikan sebagai narkotika secara hukum perdagangan karena fungsinya di dapur, dampaknya terhadap kesehatan bisa sangat berat dan tidak selalu bisa dipulihkan,” pungkas Prof Zullies memberikan peringatan bagi mereka yang hanya sekadar ingin mengikuti tren tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan saraf manusia.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid