Ikuti Kami
kabarmalam.com

Melawan Lelah dengan Rehat: Uniknya Kontes Tidur Siang Massal di Jantung Kota Seoul

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 04 Mei 2026 12:34 WIB
Melawan Lelah dengan Rehat: Uniknya Kontes Tidur Siang Massal di Jantung Kota Seoul

Kabarmalam.com — Di tengah kepungan gedung pencakar langit dan ritme hidup yang seolah tak pernah melambat, ratusan warga Seoul, Korea Selatan, memilih sebuah cara yang tidak biasa untuk ‘memberontak’. Pada Sabtu siang yang cerah di awal Mei, hamparan rumput di tepian Sungai Han tidak dipenuhi oleh hiruk-pikuk aktivitas olahraga, melainkan oleh deretan orang yang sedang terlelap dalam kompetisi tidur siang massal.

Acara yang diinisiasi oleh pemerintah kota ini bukan sekadar ajang seru-seruan. Ini adalah sebuah pernyataan terhadap realita pahit budaya kerja ekstrem di Korea Selatan yang sering kali menomorduakan waktu istirahat. Di bawah hangatnya sinar matahari musim semi, para peserta mulai memejamkan mata tepat pukul 15.00 waktu setempat, berusaha meraih ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota.

Syarat Unik: Lelah, Kenyang, dan Berpenampilan Beda

Panitia menetapkan syarat yang cukup menarik bagi mereka yang ingin berpartisipasi. Peserta diwajibkan datang dalam kondisi yang benar-benar lelah, perut sudah terisi kenyang, dan mengenakan kostum yang mencerminkan kepribadian atau profesi mereka. Keunikan kostum ini menambah warna tersendiri dalam kontes yang sudah memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya tersebut.

Baca Juga  Kisah Haru Vicky Shu Lawan Body Shaming: Sempat Menepi dari TV demi Kesehatan Mental

Salah satu peserta, Park Jun-seok, seorang mahasiswa berusia 20 tahun, tampak mencolok dengan jubah kebesaran ala raja dari Dinasti Joseon. Ia mengaku bahwa tuntutan akademis dan pekerjaan paruh waktu membuatnya hanya bisa tidur selama tiga hingga empat jam setiap malam. “Saya datang untuk memamerkan kemampuan tidur siang saya, sekaligus menunjukkan bagaimana cara seorang raja beristirahat di tengah tekanan,” ungkapnya dengan nada sedikit bercanda namun menyiratkan kelelahan yang nyata.

Pelarian dari Insomnia dan Tekanan Hidup

Tak hanya Park, ada pula Yoo Mi-yeon yang mengenakan kostum koala yang menggemaskan. Baginya, kontes ini adalah sebuah harapan untuk mengatasi masalah insomnia yang dideritanya. Ia memilih kostum koala karena hewan tersebut dikenal sebagai sang ahli tidur yang nyenyak. Mi-yeon berharap ‘keajaiban’ koala bisa membantunya terlelap tanpa gangguan di tempat terbuka tersebut.

Korea Selatan memang tengah berjuang melawan krisis kurang tidur kronis. Berdasarkan data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), negara ini memiliki jam kerja terpanjang dengan tingkat kualitas tidur yang cukup rendah di bandingkan negara maju lainnya. Hal inilah yang membuat isu kesehatan mental dan kebutuhan akan istirahat menjadi topik yang semakin krusial untuk dibahas.

Baca Juga  Rahasia Umur Panjang Ternyata Bukan Rahasia: Kekuatan Optimisme dalam Menunda Penuaan

Memantau Detak Jantung Demi Menentukan Sang Juara

Untuk menjaga objektivitas, panitia tidak hanya melihat siapa yang paling lama menutup mata. Petugas kesehatan khusus dikerahkan untuk memantau detak jantung para peserta secara berkala menggunakan sensor. Tujuannya adalah memastikan bahwa peserta benar-benar mencapai kondisi tidur yang tenang, dalam, dan stabil, bukan sekadar pura-pura memejamkan mata.

Tahun ini, gelar juara pertama berhasil diraih oleh seorang pria lansia berusia 80-an yang menunjukkan ketenangan luar biasa. Sementara itu, juara kedua jatuh kepada Hwang Du-seong, seorang pekerja kantoran berusia 37 tahun yang mengaku benar-benar terkuras energinya akibat jadwal kerja shift malam yang padat serta intensitas mengemudi yang tinggi.

Baca Juga  Jabodetabek Membara: BMKG Ungkap Pemicu Suhu Ekstrem dan Ancaman Heat Stress

“Begitu melihat pengumuman kontes ini, tekad saya hanya satu: mengisi ulang energi sepenuhnya di bawah semilir angin sungai. Saya sangat bahagia bisa mendapatkan juara kedua di tengah rasa lelah yang luar biasa ini,” tutur Hwang.

Istirahat: Barang Mewah dalam Budaya Kompetitif

Kontes tidur siang ini secara tidak langsung mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat luas. Di tengah gaya hidup yang menuntut produktivitas tanpa henti, waktu istirahat yang cukup seolah-olah telah menjadi ‘barang mewah’. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Korea Selatan, namun juga menjadi pengingat bagi kota-kota besar lainnya di dunia tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara karir dan kesehatan fisik maupun mental.

Acara ini diakhiri dengan suasana haru dan lega dari para peserta yang akhirnya bisa bangun dengan perasaan lebih segar. Meski hanya berlangsung singkat, momen ‘kabur’ sejenak dari rutinitas gila kerja ini memberikan harapan bahwa di masa depan, tidur siang tidak lagi dianggap sebagai tanda kemalasan, melainkan sebuah kebutuhan dasar manusia yang patut dihormati.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid