Kisah Sahriyah: Gadis Madura yang Melawan Stigma Lewat Brewok dan Kekuatan Self Love
Minggu, 03 Mei 2026 06:35 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah kepungan standar kecantikan yang sering kali kaku di media sosial, muncul sosok inspiratif bernama Sahriyah. Gadis berusia 23 tahun asal Madura ini mendadak menjadi perbincangan hangat, bukan karena kemewahan, melainkan keberaniannya tampil apa adanya dengan kondisi fisik yang unik: wajah yang ditumbuhi brewok. Alih-alih bersembunyi dari pandangan publik, Sahriyah memilih jalur self love sebagai senjata utama melawan badai komentar negatif.
Melawan Gelombang Perundungan dengan Ketangguhan
Lahir dan tumbuh di Pamekasan, Sahriyah menyadari bahwa dirinya berbeda secara fisiologis. Namun, dunia digital sering kali menjadi tempat yang sangat kejam bagi mereka yang tidak masuk dalam standar umum. Ia kerap kali menjadi sasaran empuk cyber bullying dan ujaran kebencian. Komentar-komentar yang mampir di akunnya tidak jarang menyayat hati; mulai dari disumpahi hal buruk hingga diremehkan bahwa tidak akan ada laki-laki yang bersedia mendekatinya.
Namun, kedewasaan Sahriyah melampaui usianya. Bukannya terpuruk dalam kesedihan atau menarik diri dari pergaulan, ia justru menanggapi segala cemoohan tersebut dengan kepala tegak. “Aku sudah berdamai dengan keadaanku dan aku bahagia dengan diriku saat ini, jadi aku tidak memasukkannya ke hati. Justru aku sering tertawa membaca komentar-komentar di video-videoku,” ungkapnya dengan nada penuh ketenangan saat berbagi kisah hidupnya.
Konten sebagai Terapi dan Ruang Penerimaan
Keputusannya untuk menjadi konten kreator ternyata bukan didasari oleh ambisi mengejar popularitas semata. Bagi Sahriyah, setiap unggahan yang ia buat adalah bentuk terapi personal untuk mengikis rasa rendah diri yang sempat menghantuinya di masa lalu. Ia ingin dunia mengenal sosok aslinya tanpa ada topeng yang perlu dipakai. Dengan berani mengekspos kondisinya ke publik, ia merasa tidak lagi memiliki beban rahasia yang harus disembunyikan dari orang-orang di sekitarnya.
Langkah berani ini ia ambil setelah memahami kondisi medis yang dialaminya, yang memicu pertumbuhan rambut wajah secara tidak biasa bagi seorang perempuan. Sahriyah percaya bahwa dengan membiasakan diri dilihat oleh banyak orang, ia secara otomatis melatih mentalnya untuk menjadi lebih kuat dan tidak lagi merasa asing di tengah masyarakat.
Menemukan Ketenangan di Tanah Kelahiran
Kini, kecemasan yang dulu sering muncul saat berinteraksi dengan tetangga atau teman-teman di Pamekasan telah sirna. Kejujuran Sahriyah di dunia maya justru membawa dampak positif yang nyata pada kehidupan sosialnya. Orang-orang di lingkungannya kini lebih menghargai kejujuran dan ketulusannya. Ia merasa jauh lebih nyaman karena siapa pun yang mendekatinya saat ini sudah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Perjalanan Sahriyah adalah pengingat penting bagi kita semua tentang arti penerimaan diri yang sesungguhnya di era digital. Di saat banyak orang berlomba-lomba memoles citra agar terlihat sempurna, Sahriyah memilih untuk menjadi otentik. “Aku merasa lebih tenang dan nyaman sekarang dengan diri sendiri, aku juga jadi lebih mencintai diriku sendiri,” pungkasnya menutup narasi perjuangannya.