Waspada! 9 Perlintasan Kereta Tanpa Palang Pintu Hantui Bogor, Parung Panjang Jadi Titik Terbanyak
Selasa, 28 Apr 2026 17:35 WIB
Kabarmalam.com — Isu keselamatan transportasi di jalur perlintasan sebidang kini tengah menjadi sorotan tajam di wilayah Kabupaten Bogor. Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor melaporkan adanya sembilan titik perlintasan kereta api yang hingga kini masih belum dilengkapi dengan palang pintu pengaman. Fenomena ini tentu menjadi alarm bagi para pengendara yang kerap melintasi jalur-jalur sibuk tersebut.
Kasi Jaringan Transportasi Dishub Kabupaten Bogor, Herdi Sukriadi, mengungkapkan bahwa mayoritas perlintasan yang tidak berpalang ini berada di bawah wewenang jalan kabupaten. Dari total 13 perlintasan yang masuk dalam kategori jalan kabupaten, sembilan di antaranya masih dibiarkan terbuka tanpa pembatas fisik.
Pemetaan Titik Rawan: Parung Panjang dan Cigombong Jadi Fokus
Berdasarkan pendataan tim lapangan, wilayah Parung Panjang dan Cigombong tercatat sebagai kawasan dengan jumlah perlintasan tanpa palang terbanyak. Herdi menjelaskan bahwa jalur-jalur ini tersebar di empat trase utama yang melintasi Bumi Tegar Beriman.
“Kita memiliki empat trase utama, mulai dari Parung Panjang-Rangkas Bitung, Bogor-Jakarta, Bogor-Sukabumi, hingga trase Nambo-Citayem. Memang paling banyak ditemukan di wilayah Parung Panjang dan juga Cigombong,” ujar Herdi dalam keterangannya kepada awak media.
Ia juga menegaskan perbedaan wewenang pengelolaan. Jika perlintasan kereta berada di jalan nasional, maka datanya berada di bawah kendali Balai Teknik Perkeretaapian (BTP). Sementara untuk jalan provinsi, koordinasi dilakukan langsung dengan Dishub Jawa Barat di Bandung. Namun, untuk perlintasan di jalur kabupaten, Dishub Bogor terus berupaya melakukan pembenahan secara bertahap demi keamanan publik.
Potensi Bahaya di Jam Sibuk
Kerawanan di perlintasan tanpa palang ini semakin meningkat seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat. Beberapa titik yang diidentifikasi memiliki volume lalu lintas tinggi adalah Desa Kabasiran dan jalur utama di Parung Panjang, terutama pada pagi hari. Selain itu, kawasan Bojonggede juga menjadi perhatian karena merupakan akses utama menuju stasiun.
“Kepadatan biasanya terjadi saat jam sibuk pagi dan sore hari. Di titik-titik tersebut, kesadaran pengendara sangat diuji karena ketiadaan palang pintu otomatis yang mengatur lalu lintas saat kereta lewat,” tambahnya.
Langkah Relokasi dan Peningkatan Fasilitas Keselamatan
Menyikapi risiko kecelakaan yang mengintai, Dishub Bogor telah mengusulkan langkah strategis berupa relokasi titik perlintasan. Ada tiga lokasi utama yang sedang diajukan untuk digeser atau ditingkatkan status keselamatannya, yakni di Tenjo, Cigombong, dan Batutulis.
Pembangunan infrastruktur pendukung seperti Flyover Tenjo diharapkan mampu menjadi solusi permanen untuk meminimalisir interaksi langsung antara kendaraan dan kereta api. “Saat ini kami sedang dalam proses memohon relokasi ke kementerian, terutama untuk titik-titik yang sudah memiliki fasilitas baru seperti flyover. Kami juga berencana menggeser perlintasan dari Maseng ke Cigombong serta di Batutulis, namun semuanya masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat,” tutup Herdi.
Bagi masyarakat yang sering melintasi jalur kereta di wilayah Bogor, diharapkan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kecepatan saat mendekati rel, dan mematuhi rambu-rambu yang ada guna menghindari insiden yang tidak diinginkan.