Mengenal Kanker Limfoma Hodgkin di Usia Muda: Belajar dari Kisah Perjuangan Jeje Adriel
Minggu, 26 Apr 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Kanker sering kali dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang kelompok usia lanjut. Namun, kisah pilu sekaligus inspiratif yang datang dari seorang pemuda asal Jakarta Utara, Jeje Adriel, membuka mata kita bahwa ancaman kesehatan serius ini bisa mengintai siapa saja, bahkan mereka yang masih berada di masa produktif. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Jeje harus menerima kenyataan pahit didiagnosis mengidap kanker limfoma hodgkin stadium dua.
Awal Mula yang Menipu: Benjolan Kecil di Balik Gaya Hidup Sehat
Perjalanan Jeje dimulai dari sebuah temuan sederhana: benjolan kecil di sisi kiri lehernya. Pada awalnya, ia tidak menaruh curiga berlebih. Jeje bahkan sempat mencoba melakukan intervensi mandiri melalui pola hidup sehat dan praktik intermittent fasting. Menariknya, benjolan tersebut sempat mengecil, memberikan rasa aman semu yang membuatnya menunda pemeriksaan medis lebih lanjut.
“Awalnya coba intermittent fasting dan gaya hidup sehat. Sempat mengecil, tapi lama-kelamaan dia tetap membesar pelan-pelan,” ungkap Jeje. Absennya gejala klasik seperti demam tinggi atau keringat dingin di malam hari membuat gejala kanker ini sulit dideteksi secara dini. Hingga akhirnya pada 17 April lalu, pemeriksaan medis mengonfirmasi bahwa ia mengidap kanker kelenjar getah bening.
Memahami Limfoma Hodgkin: Ketika Sistem Pertahanan Berkhianat
Secara medis, limfoma hodgkin adalah jenis kanker yang menyerang sistem limfatik—jaringan kompleks yang mencakup kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, hingga amandel. Sistem ini sejatinya berfungsi sebagai benteng pertahanan tubuh melawan infeksi. Namun, dalam kasus limfoma, sel darah putih yang disebut limfosit B mengalami mutasi genetik pada DNA-nya.
Perubahan instruksi genetik ini menyebabkan sel-sel tersebut membelah diri secara tak terkendali dan menolak untuk mati, sementara sel sehat justru gugur. Penumpukan sel abnormal inilah yang kemudian membentuk massa atau benjolan pada kelenjar getah bening. Dalam kasus Jeje, kanker telah mencapai stadium dua, yang berarti sel kanker sudah menyebar di dua atau lebih area kelenjar getah bening pada sisi diafragma yang sama.
Faktor Risiko dan Sinyal Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Meski penyebab pastinya masih menjadi misteri medis, para ahli mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini. Memahami faktor risiko kanker sangat penting untuk deteksi dini:
- Rentang Usia: Penyakit ini memiliki pola unik, paling sering ditemukan pada individu dewasa muda (usia 20-30 tahun) dan lansia di atas 65 tahun.
- Riwayat Genetik: Adanya anggota keluarga inti (orang tua atau saudara kandung) yang memiliki riwayat limfoma dapat meningkatkan kerentanan.
- Paparan Virus: Infeksi virus tertentu seperti Epstein-Barr (EBV) atau HIV berkaitan erat dengan munculnya kondisi ini.
- Gangguan Sistem Imun: Pengidap penyakit autoimun seperti lupus atau mereka yang menjalani transplantasi organ memiliki risiko lebih tinggi.
Gejala yang Sering Terabaikan
Selain munculnya benjolan yang tidak nyeri di area leher, ketiak, atau selangkangan, masyarakat diminta untuk waspada jika merasakan kelelahan kronis yang tidak kunjung hilang, kulit gatal tanpa sebab, hingga penurunan berat badan secara drastis tanpa direncanakan. Pola hidup sehat memang penting, namun tidak boleh menggantikan konsultasi medis jika ditemukan anomali pada tubuh.
Kini, Jeje Adriel bersiap memasuki babak baru dalam hidupnya: perjuangan melalui kemoterapi. Kisahnya menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa mendengarkan sinyal-sinyal kecil dari tubuh adalah langkah pertama untuk menyelamatkan nyawa.