Babak Baru Konflik Lebanon: Hizbullah Beri Jawaban Menohok Atas Tuduhan Netanyahu Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata
Minggu, 26 Apr 2026 22:35 WIB
Kabarmalam.com — Suasana damai yang rapuh di tanah Lebanon kini berada di ujung tanduk setelah gelombang saling tuduh antara pihak-pihak yang bertikai kembali mencuat ke permukaan. Hizbullah secara tegas menangkis pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menuding kelompok tersebut telah merusak kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Dalam sebuah pernyataan resmi melalui kanal Telegram, Hizbullah justru membalikkan keadaan dengan menyebut bahwa pihak militer Israel adalah aktor utama di balik rentetan pelanggaran yang terjadi sejak hari pertama deklarasi gencatan senjata sementara diumumkan. Kelompok ini menegaskan bahwa setiap tindakan militer yang mereka ambil merupakan respons defensif yang sah terhadap agresi lawan.
Saling Tuding di Balik Retaknya Gencatan Senjata
Sebelumnya, dalam rapat kabinet mingguan yang berlangsung tegang, Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan tajam. Ia mengklaim bahwa tindakan Hizbullah di lapangan secara praktis telah “menghancurkan” esensi dari gencatan senjata tersebut. Tuduhan ini muncul di tengah upaya internasional untuk mendinginkan suhu peperangan di kawasan tersebut.
Namun, Hizbullah menilai narasi yang dibangun oleh Tel Aviv adalah sebuah upaya pengalihan isu. Menurut mereka, Israel terus melakukan provokasi melalui kehadiran teritorial dan serangan berkelanjutan di wilayah Lebanon selatan. Hizbullah memperingatkan adanya bahaya besar jika otoritas Lebanon dilibatkan dalam perjanjian bilateral yang dianggap hanya menguntungkan posisi Washington dan Netanyahu, tanpa memberikan ruang suara bagi kedaulatan Lebanon itu sendiri.
Gencatan Senjata yang Terancam Gagal
Hizbullah menekankan bahwa perpanjangan waktu gencatan senjata yang disepakati selama tiga minggu sejak Kamis lalu, seharusnya menjadi momentum bagi penghentian total kekerasan. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan hal yang berbeda.
- Hizbullah menyoroti penghancuran rumah-rumah warga sipil di Lebanon selatan yang masih terus terjadi.
- Pengeboman dan agresi udara diklaim masih menjadi menu harian yang dihadapi penduduk perbatasan.
- Hizbullah menegaskan bahwa perlawanan mereka terhadap posisi militer Israel di wilayah pendudukan adalah hak yang tidak bisa diganggu gugat selama agresi belum berhenti.
“Alih-alih menghormati kesepakatan, musuh justru meningkatkan intensitas serangannya. Ini adalah bentuk pengabaian nyata terhadap hukum dan konvensi internasional,” tulis pernyataan tersebut seperti dikutip dari laporan Al Jazeera.
Rapuhnya Stabilitas di Perbatasan
Situasi ini kian kompleks mengingat gencatan senjata ini berada dalam pengawasan ketat dunia internasional. Dengan adanya klaim saling langgar ini, banyak pihak khawatir bahwa konflik akan kembali pecah dalam skala yang lebih besar jika tidak ada mekanisme pengawasan yang lebih kuat di lapangan. Bagi Hizbullah, tuntutan mereka jelas: gencatan senjata harus dilakukan dalam arti yang sebenarnya—tanpa ada lagi rumah yang hancur dan tanpa ada lagi peluru yang melintasi perbatasan secara sepihak.
Hingga saat ini, ketegangan di perbatasan utara Palestina yang diduduki dan wilayah Lebanon selatan tetap tinggi, meninggalkan ribuan warga sipil dalam ketidakpastian di tengah diplomasi yang kian buntu.