Waspada Gangguan Mental Jemaah Haji, Kemenkes Soroti Fenomena Demensia pada Lansia di Tanah Suci
Jumat, 24 Apr 2026 08:34 WIB
Kabarmalam.com — Menjalankan ibadah di Tanah Suci merupakan dambaan setiap Muslim, namun di balik kekhusyukan ritual tersebut, terdapat tantangan besar yang jarang tersorot: kesehatan mental para jemaah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai kondisi psikologis para tamu Allah, terutama mengingat kompleksitas pelaksanaan haji yang kian dinamis.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah ujian emosional yang luar biasa. Dengan total lebih dari 1,8 juta jemaah dari penjuru dunia, termasuk 221 ribu jiwa dari Indonesia, tekanan di lapangan tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari jumlah tersebut, tercatat sekitar 11 ribu jemaah merupakan kelompok lanjut usia (lansia) yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan jiwa.
Statistik Mengkhawatirkan: Tidur Terganggu hingga Risiko Demensia
Data yang dihimpun Kemenkes menunjukkan potret yang cukup mencolok. Sekitar 10 hingga 15 persen jemaah haji diketahui membutuhkan perhatian medis khusus terkait gangguan kesehatan jiwa. Lebih jauh lagi, sebanyak 30-40 persen jemaah mengalami gangguan tidur yang signifikan. Hal ini dipicu oleh perubahan ritme sirkadian akibat jadwal ibadah yang sangat padat dan lingkungan yang terus terjaga.
Kondisi paling memprihatinkan ditemukan pada kelompok lansia. Berdasarkan laporan Balai Pengobatan Haji Indonesia, lansia menjadi kelompok yang paling rapuh secara mental. Mengejutkannya, sekitar 80 persen dari jemaah yang mendapatkan perawatan gangguan jiwa menunjukkan gejala demensia. Penurunan fungsi kognitif ini sering kali diperparah oleh kebingungan akan lokasi yang asing dan kerumunan yang masif.
Faktor Pemicu: Cuaca Ekstrem dan Tekanan Digitalisasi
Imran Pambudi menjelaskan bahwa faktor eksternal memegang peranan penting dalam memicu stres jemaah. Cuaca panas di Makkah yang rata-rata menyentuh angka 35-38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah menjadi tantangan fisik yang memicu dehidrasi dan kelelahan kronis. Kondisi fisik yang drop ini secara otomatis berdampak pada stabilitas emosional.
Tak hanya faktor alam, regulasi yang kian ketat dari Pemerintah Arab Saudi juga turut memberikan beban psikologis. Penggunaan aplikasi digital seperti Nusuk untuk akses ibadah hingga ketatnya aturan visa membuat sebagian jemaah, khususnya yang gagap teknologi, merasa cemas dan tertekan. Ada ketakutan mendalam akan sanksi atau kegagalan memenuhi rukun haji akibat kendala teknis tersebut.
Pentingnya Pendekatan Holistik
Menyikapi fenomena ini, Kemenkes menekankan pentingnya strategi penanganan yang menyeluruh atau holistik. Persiapan mental kini diposisikan setara dengan persiapan fisik. Kesehatan jiwa harus dijaga sejak dari tanah air melalui konseling pra-keberangkatan dan pelatihan manajemen stres.
- Manajemen Waktu: Jemaah diimbau untuk mengatur jadwal istirahat yang cukup di sela-sela kepadatan tawaf dan sa’i.
- Nutrisi dan Hidrasi: Menjaga asupan cairan sangat krusial untuk mencegah kelelahan emosional yang dipicu oleh dehidrasi.
- Tim Khusus: Kemenkes telah menyiagakan tim kesehatan jiwa yang siap merespons cepat setiap gejala gangguan psikologis di lapangan.
“Persiapan mental dan penataan ekspektasi sangat penting agar jemaah dapat menjalani setiap dinamika ibadah dengan tenang, tanpa terbebani oleh harapan yang terlalu tinggi yang justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan jiwa mereka,” pungkas Imran. Dengan langkah preventif ini, diharapkan jemaah haji Indonesia dapat pulang ke tanah air tidak hanya dengan predikat mabrur, tetapi juga dalam kondisi kesehatan yang prima secara lahir dan batin.