Ikuti Kami
kabarmalam.com

Saraf Kejepit Tak Pandang Bulu: Belajar dari Kasus Viktor Axelsen dan Risiko bagi ‘Weekend Warrior’

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 18 Apr 2026 08:35 WIB
Saraf Kejepit Tak Pandang Bulu: Belajar dari Kasus Viktor Axelsen dan Risiko bagi 'Weekend Warrior'

Kabarmalam.com — Keputusan mengejutkan bintang bulutangkis dunia, Viktor Axelsen, untuk mengakhiri karier profesionalnya akibat cedera menjadi pengingat keras bagi kita semua. Fenomena saraf kejepit atau dalam istilah medis disebut Hernia Nukleus Pulposus (HNP), terbukti tidak memandang status sosial maupun tingkat kebugaran seseorang. Namun, yang menarik untuk dibedah adalah bagaimana pemicu kondisi ini bisa sangat berbeda antara seorang atlet elite dengan masyarakat awam.

Beban Ekstrem dan Trauma Mikro pada Atlet Profesional

Menurut dr. Faisal M, SpBS, seorang pakar bedah saraf dari RS Lamina Jakarta Selatan, risiko yang dihadapi atlet profesional seperti Viktor Axelsen berakar pada training load atau beban latihan yang berada di level ekstrem. Tubuh mereka dipacu untuk bekerja melampaui batas normal secara konsisten, yang pada akhirnya membuat bantalan tulang belakang mengalami keausan dini.

Baca Juga  Transformasi Tubuh dalam 4 Minggu: Panduan Jalan Kaki Efektif Agar Celana Cepat Melonggar

“Bantalan tulang belakang bisa aus karena menghadapi beban aktivitas fisik yang sangat berat secara terus-menerus,” jelas dr. Faisal. Ia menambahkan bahwa ancaman nyata bukan hanya datang dari cedera besar, melainkan akumulasi dari benturan-benturan kecil (trauma mikro) yang terjadi saat sesi latihan maupun pertandingan resmi. Dalam jangka panjang, rentetan kejadian kecil ini dapat memicu kerusakan permanen pada struktur tulang belakang.

Ancaman Tersembunyi bagi ‘Weekend Warrior’

Lantas, bagaimana dengan mereka yang hanya berolahraga sesekali di akhir pekan atau yang sering dijuluki sebagai weekend warrior? Meski intensitasnya tidak setinggi atlet, kelompok ini justru memiliki kerentanan tersendiri. Masalah utamanya bukan pada beban latihan yang berlebih, melainkan pada otot-otot yang kurang terlatih dan tidak siap menerima beban mendadak.

Baca Juga  Belajar dari Kasus Viktor Axelsen, Waspadai Ancaman Saraf Kejepit Saat Berolahraga

Dr. Faisal memaparkan bahwa cedera punggung pada olahragawan rekreasional biasanya dipicu oleh kesalahan posisi tubuh atau penggunaan otot yang dipaksakan secara instan. “Kalau tiba-tiba ada cedera, itu biasanya karena salah posisi atau durasi olahraga yang terlalu lama tanpa persiapan otot yang matang. Hal inilah yang menyebabkan cedera pada tulang belakang,” ungkapnya.

Pentingnya Mengenali Batas Kemampuan Fisik

Kunci utama dalam menghindari risiko HNP adalah kesadaran untuk mengenali kapasitas diri sendiri. Meniru pola latihan atlet tanpa didampingi kesiapan fisik yang memadai hanya akan memperburuk kondisi tulang belakang. Dr. Faisal menekankan beberapa poin penting yang sering diabaikan oleh para pehobi olahraga:

  • Pemanasan adalah Kewajiban: Jangan pernah melewatkan sesi pemanasan untuk menyiapkan elastisitas otot.
  • Tahu Batas: Berhenti atau kurangi intensitas jika tubuh mulai mengirimkan sinyal nyeri yang tidak wajar.
  • Konsistensi Lebih Baik: Olahraga ringan yang dilakukan secara rutin jauh lebih aman dibandingkan olahraga berat yang hanya dilakukan sekali seminggu.
Baca Juga  Rahasia Kesehatan Benjamin Netanyahu Terungkap: Perjuangan Diam-diam PM Israel Melawan Kanker Prostat

Kisah Axelsen menjadi pelajaran berharga bahwa kesehatan adalah aset yang paling mahal. Rajin berolahraga memang sangat dianjurkan, namun melakukannya dengan cara yang salah justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan jangka panjang Anda.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid