Ikuti Kami
kabarmalam.com

Fenomena Weekend Warrior: Mengapa Olahraga ‘Balas Dendam’ Justru Mengundang Saraf Kejepit?

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 17 Apr 2026 07:34 WIB
Fenomena Weekend Warrior: Mengapa Olahraga 'Balas Dendam' Justru Mengundang Saraf Kejepit?

Kabarmalam.com — Keputusan mengejutkan maestro bulu tangkis asal Denmark, Viktor Axelsen, untuk gantung raket di usia 32 tahun menjadi alarm keras bagi dunia olahraga. Di balik fisiknya yang prima, cedera punggung dan ancaman saraf kejepit menjadi lawan yang tak bisa ia taklukkan. Namun, jika atlet profesional dengan pengawasan medis ketat saja bisa tumbang, bagaimana nasib para ‘weekend warrior’ yang hanya berolahraga sekali dalam seminggu?

Istilah ‘weekend warrior’ merujuk pada individu yang memiliki mobilitas rendah di hari kerja, namun mencoba melakukan olahraga berat secara intens di akhir pekan sebagai bentuk ‘balas dendam’ atas kurangnya aktivitas fisik. Alih-alih mendapatkan tubuh yang bugar, pola seperti ini justru menaruh beban raksasa pada struktur tulang belakang yang tidak siap.

Baca Juga  Nunung Berjuang Melawan Nyeri Hebat, Dihantui Kecemasan Diagnosis Saraf Kejepit

Risiko Nyata di Balik Olahraga Jarang-Jarang

Menurut dr. Faisal M, SpBS, spesialis bedah saraf dari RS Lamina Jakarta Selatan, mereka yang jarang berolahraga justru memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap masalah tulang belakang. Masalah utamanya terletak pada kesiapan otot. Saat seseorang rutin bergerak, otot-otot di sekitar punggung akan terlatih dan menguat, sehingga berfungsi sebagai penyangga alami bagi tulang belakang.

“Orang yang jarang olahraga, lalu sekalinya melakukannya langsung diporsir, akan jauh lebih rentan terkena masalah pada tulang belakangnya,” ujar dr. Faisal. Tanpa dukungan otot yang kuat, setiap tekanan saat melompat atau berlari akan langsung menghantam bantalan tulang belakang, yang dalam jangka panjang bisa memicu cedera punggung serius.

Belajar dari Kasus Atlet Profesional

Mungkin muncul pertanyaan: mengapa atlet sekelas Viktor Axelsen tetap terkena saraf kejepit padahal ototnya sangat terlatih? Dr. Faisal menjelaskan bahwa konteksnya berbeda. Atlet profesional menghadapi training load atau beban latihan yang ekstrem demi mengejar prestasi. Benturan kecil yang terjadi berulang kali dalam durasi tahunan akhirnya menyebabkan keausan pada bantalan tulang belakang.

Baca Juga  Heboh Insiden Bayi Nyaris Tertukar di NICU RSHS Bandung, Manajemen Sampaikan Permohonan Maaf

Bagi kita masyarakat umum, kuncinya adalah mengenali kapasitas tubuh. Memaksa fisik bekerja melampaui batas tanpa persiapan yang matang adalah resep instan menuju ruang perawatan. Sangat disarankan untuk menjaga konsistensi daripada intensitas yang meledak-ledak namun hanya dilakukan sesekali.

Waspadai Gejala Awal Sebelum Terlambat

Masalah pada tulang belakang biasanya tidak muncul secara mendadak, melainkan bersifat kronis dan akumulatif. Kabarmalam.com merangkum beberapa gejala yang harus Anda waspadai agar tidak berujung pada kelumpuhan atau operasi:

  • Nyeri Pinggang: Rasa sakit yang tajam atau pegal yang tidak kunjung hilang di area pinggang.
  • Nyeri Menjalar: Rasa nyeri yang seolah ‘mengalir’ dari pinggang menuju bokong, paha, hingga betis.
  • Sensasi Kesemutan: Adanya rasa baal atau kesemutan di area telapak kaki yang sering berulang.
  • Kelemahan Otot: Kaki terasa berat atau sulit digerakkan saat melakukan aktivitas ringan.
Baca Juga  Saraf Kejepit Tak Pandang Bulu: Belajar dari Kasus Viktor Axelsen dan Risiko bagi 'Weekend Warrior'

Jika Anda sering merasakan keluhan tersebut setelah melakukan aktivitas fisik, jangan tunda untuk segera berkonsultasi dengan ahli medis. Ingat, olahraga seharusnya menyehatkan, bukan justru menyengsarakan di masa tua. Konsistensi kecil setiap hari jauh lebih berharga daripada latihan berat yang hanya dilakukan sekali seminggu.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid