HUT ke-68 Lombok Barat: Pesona Baju Adat Sasak Mendes Yandri dan Visi ‘Superteam’ Bangun Desa
Jumat, 17 Apr 2026 14:34 WIB
Kabarmalam.com — Suasana khidmat bercampur semarak menyelimuti Bencingah Agung, Kantor Bupati Lombok Barat, pada Jumat (17/4). Di tengah riuhnya perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Kabupaten Lombok Barat, sosok Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menjadi pusat perhatian. Bukan tanpa alasan, Yandri tampil memukau dengan mengenakan busana adat Sasak yang sarat akan makna filosofis.
Menteri Yandri tampak gagah dalam balutan pegon—jas biru tua berlengan panjang—yang dipadukan dengan wastra kain songket menawan yang melilit hingga mata kaki. Penampilannya semakin sempurna dengan sapuk (ikat kepala), wiron, serta keris yang terselip sebagai simbol keberanian dan jati diri ksatria Sasak. Kehadiran beliau didampingi oleh Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan guna memenuhi undangan khusus dari Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini.
Filosofi ‘Patju Begawean’ dan Semangat Kolaborasi
Peringatan hari jadi kali ini mengusung tema besar ‘Patju Begawean’. Frasa ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan untuk bekerja keras, berkolaborasi, dan mempererat kebersamaan dalam membangun daerah. Semangat inilah yang diharapkan mampu memacu etos kerja seluruh lapisan masyarakat menuju Lombok Barat yang lebih maju dan berkeadilan.
Dalam kesempatan tersebut, Yandri menekankan bahwa keberhasilan pembangunan desa serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektoral untuk mencapai target nasional.
“Kita ini adalah superteam, bukan Superman. Semuanya butuh kerja sama, butuh kolaborasi dari semua pihak. Tantangan di desa tidak akan bisa tuntas jika hanya dikerjakan oleh Menteri Desa sendirian,” ujar Yandri dengan nada optimis.
Apresiasi untuk Desa Berprestasi
Kemeriahan HUT ke-68 ini juga dirangkai dengan berbagai agenda strategis, mulai dari pameran potensi lokal hingga peluncuran Program Sejahtera dari Desa. Sebagai bentuk dukungan nyata, dilakukan penyerahan DIPA secara simbolis kepada beberapa desa pelopor, di antaranya Desa Sesela, Desa Sedau, Desa Karang Bongkot, Desa Gapuk, dan Desa Buwun Mas.
Tak hanya fokus pada aspek ekonomi, pemerintah juga memberikan apresiasi tinggi bagi desa yang sukses di bidang sosial dan kesehatan. Berikut adalah beberapa desa yang mendapatkan penghargaan khusus:
- Desa Lembah Sari: Penghargaan Desa Bebas Putus Sekolah.
- Desa Labuapi: Penghargaan Desa Bebas Stunting.
- Desa Gegelang: Penghargaan Desa Bebas Tuberkulosis.
Sinergi Pusat dan Daerah untuk Ekonomi Desa
Langkah nyata ini merupakan bentuk kepedulian bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Harapannya, prestasi-prestasi ini dapat menjadi pemantik bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas hidup warganya.
Kehadiran sejumlah pejabat tinggi negara, seperti Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, semakin memperkuat pesan bahwa intervensi pemerintah terhadap kesejahteraan masyarakat dilakukan secara menyeluruh. Selain mengikuti upacara, para pejabat tersebut juga menyempatkan diri meninjau pameran potensi desa yang disambut antusias oleh warga. Kegiatan ini dinilai efektif dalam menggerakkan roda ekonomi lokal serta memperkenalkan produk unggulan desa ke panggung yang lebih luas.