Waspada Jebakan Love Bombing! Inilah Deretan Red Flag dalam Hubungan Menurut Pakar Kejiwaan
Minggu, 05 Jul 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Membangun bahtera asmara idealnya menjadi pelabuhan yang tenang, tempat di mana rasa aman dan dukungan tulus saling bertaut. Namun, dalam realitas yang sering kali kompleks, tidak sedikit individu yang justru terjebak dalam labirin emosional yang merugikan tanpa mereka sadari sepenuhnya. Memahami batasan antara perhatian yang sehat dan perilaku manipulatif menjadi krusial agar kita tidak tersesat dalam dinamika yang beracun.
Menurut dr. Erickson Arthur S, SpKJ, seorang spesialis kedokteran jiwa, fondasi utama dalam sebuah relasi adalah kesetaraan. Dalam sebuah obrolan mendalam, ia menekankan bahwa hubungan yang ideal harus dibangun di atas pijakan yang sama atau equal. Tidak boleh ada satu pihak yang merasa jauh lebih superior, sementara pihak lainnya merasa inferior atau berada di posisi bawah. Komunikasi yang mengalir dua arah menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan ini.
Sinyal Bahaya di Fase Awal: Kecepatan yang Tak Wajar
Banyak dari kita mungkin merasa tersanjung ketika seseorang menunjukkan perhatian yang luar biasa di awal perkenalan. Namun, dr. Erick mengingatkan agar kita tetap waspada terhadap fenomena yang dikenal dengan istilah love bombing. Sering kali, hubungan yang melaju terlalu cepat justru menyimpan potensi bahaya.
“Hubungan itu terkadang terasa begitu instan; kata-kata manis yang membanjiri, hingga ajakan untuk berkomitmen yang terkesan terburu-buru. Semua seolah terjadi dalam sekejap mata. Hal-hal seperti ini justru harus kita evaluasi dengan saksama,” jelas dr. Erick. Ia menambahkan bahwa sebuah ikatan yang tulus membutuhkan proses alami. Jika segalanya terasa dipaksakan untuk melaju cepat, besar kemungkinan ada maksud terselubung atau pola perilaku yang tidak sehat di baliknya.
Dominasi dan Hilangnya Jati Diri
Memasuki fase hubungan yang lebih dalam, red flag sering kali bermanifestasi dalam bentuk kontrol yang berlebihan. Salah satu tanda yang paling nyata adalah ketika pasangan mulai membatasi ruang gerak atau memaksakan kehendak pribadinya. Perilaku posesif seperti memantau aktivitas media sosial setiap saat atau menuntut laporan keberadaan setiap detik adalah alarm keras yang tidak boleh diabaikan.
Selain kontrol eksternal, dampak psikologis internal juga perlu dicermati. Pernahkah Anda merasa bahwa diri Anda yang dulu ceria kini perlahan memudar sejak menjalani hubungan tersebut? Dr. Erick menuturkan bahwa perasaan terkekang hingga hilangnya jati diri merupakan indikator kuat bahwa ada yang salah dalam hubungan tersebut.
Menjadikan Red Flag Sebagai Bahan Evaluasi
Meskipun tanda-tanda bahaya tersebut muncul, bukan berarti sebuah hubungan harus segera diakhiri saat itu juga tanpa pertimbangan. Dr. Erick menegaskan bahwa keberadaan red flag sebaiknya dianggap sebagai “alarm” atau bahan evaluasi yang serius bagi kedua belah pihak.
Kesadaran akan adanya pola psikologi hubungan yang tidak sehat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menentukan langkah selanjutnya. Apakah hubungan tersebut masih bisa diperbaiki melalui komunikasi dan batasan yang tegas, ataukah memang sudah saatnya untuk melangkah pergi demi menjaga kesehatan mental pribadi. Mengetahui tanda-tanda ini sejak dini adalah bentuk perlindungan diri agar kita tidak terperosok lebih dalam ke dalam hubungan yang manipulatif.