Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menyongsong Masa Depan Medis: BPOM RI Akselerasi Ekosistem Terapi Sel Punca di Indonesia

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 05 Jul 2026 15:04 WIB
Menyongsong Masa Depan Medis: BPOM RI Akselerasi Ekosistem Terapi Sel Punca di Indonesia

Kabarmalam.com — Lanskap dunia kedokteran global tengah mengalami pergeseran paradigma yang fundamental. Jika selama berpuluh-puluh tahun pengobatan modern didominasi oleh intervensi berbahan kimia, kini arah kompas inovasi mulai tertuju pada keajaiban biologis melalui terapi regeneratif. Indonesia pun tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam revolusi medis ini.

Dalam forum bergengsi Asian Pacific Regenerative Medicine Congress (APREMIC) 2026, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, menegaskan ambisi besar Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam pengembangan terapi stem cell atau sel punca, terapi gen, hingga rekayasa jaringan. Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan upaya konkret untuk menyembuhkan penyakit langsung dari akar molekulernya.

Melampaui Batas Laboratorium

Bagi Prof. Taruna, keberhasilan sebuah inovasi medis tidak boleh berhenti di atas kertas publikasi ilmiah atau sekadar menjadi pajangan di laboratorium. Nilai kemanusiaan yang sesungguhnya muncul ketika hasil riset tersebut bertransformasi menjadi terapi nyata yang aman, efektif, dan dapat diakses secara luas oleh masyarakat.

Baca Juga  Tragedi dr Icha: PDSKJI Desak Perlindungan Mental Tenaga Medis dari Intimidasi

“Menghadirkan teknologi sel punca ke meja perawatan pasien adalah perjalanan maraton, bukan sprint. Dibutuhkan sinergi harmonis antara para peneliti, raksasa industri farmasi, regulator, hingga komitmen pemerintah agar hilirisasi riset ini benar-benar menyentuh aspek klinis,” ujar Taruna dalam paparannya yang inspiratif.

Fenomena global menunjukkan pertumbuhan yang eksponensial dalam terapi biologis. Saat ini, ribuan kandidat terapi berbasis gen dan RNA tengah digarap secara intensif di berbagai belahan dunia. Munculnya era pelayanan kesehatan yang lebih presisi ini menjadi momentum emas bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan bioteknologi nasional.

Standar Ketat Demi Keselamatan Pasien

Meskipun penuh potensi, pengembangan terapi sel punca menyimpan kompleksitas tinggi. Berbeda dengan obat tablet biasa, sel hidup memiliki variasi biologis yang dinamis. Oleh karena itu, BPOM menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar internasional sebelum produk mencapai tangan pasien.

Baca Juga  Bukan Sekadar Lauk Murah, Riset Buktikan Tempe Adalah 'Superfood' Pelindung Otak dari Alzheimer

Setiap inovasi wajib melewati rintangan berlapis, mulai dari penelitian dasar, pengujian praklinis, hingga uji klinis yang ketat. Tak hanya itu, proses produksi harus memenuhi kriteria Good Manufacturing Practice (GMP) untuk menjamin kualitas yang konsisten. Keamanan produk, kemurnian sel, hingga penentuan dosis yang tepat menjadi parameter yang tidak bisa ditawar.

Sebagai bentuk dukungan, BPOM terus memperkuat payung hukum melalui regulasi Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP). Langkah strategis ini bertujuan agar sistem pengawasan di Indonesia selaras dengan standar global, sehingga produk lokal mampu bersaing di pasar internasional tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

Kolaborasi ABG: Kunci Kedaulatan Bioteknologi

Transformasi ini mustahil dilakukan sendirian. Prof. Taruna mendorong penguatan model kolaborasi Academia-Business-Government (ABG). Dalam ekosistem ini, perguruan tinggi bertugas sebagai kawah candradimuka riset, industri sebagai motor produksi dan komersialisasi, sementara pemerintah berperan sebagai fasilitator dan penjaga gawang kualitas melalui regulasi.

Baca Juga  Lawan Obesitas Dini, BPOM Gencarkan Budaya Pangan Aman di Lingkungan Sekolah

Kabar baiknya, Indonesia mulai menunjukkan taringnya. Saat ini, sejumlah fasilitas pengolahan sel punca di tanah air telah mengantongi sertifikasi GMP. Puluhan laboratorium pun terus berada di bawah bimbingan intensif BPOM RI untuk memastikan setiap langkah pengembangan sesuai dengan koridor ilmiah yang diakui dunia.

Pada akhirnya, masa depan pengobatan regeneratif di Indonesia bergantung pada kepercayaan masyarakat. Kepercayaan tersebut hanya bisa dibangun di atas fondasi bukti klinis yang kuat dan pengawasan yang berkelanjutan. Dengan semangat kolaborasi, Indonesia siap memasuki babak baru di mana teknologi medis tidak hanya memberikan harapan, tetapi juga solusi nyata untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid