Pikiran Kalut dan Ingin Marah? Psikolog Sarankan Teknik Relaksasi Otot untuk Redam Emosi Meledak
Minggu, 05 Jul 2026 14:04 WIB
Kabarmalam.com — Beban pikiran yang menumpuk seringkali menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Saat tekanan hidup terasa menyesakkan, tidak jarang seseorang merasa ingin marah tanpa alasan yang jelas atau bersikap agresif. Namun, alih-alih meluapkan emosi secara negatif, ada metode ilmiah yang jauh lebih konstruktif untuk menetralisir ketegangan tersebut.
Psikolog klinis Sriana Sihombing, S.Psi, M.M, M.Psi, atau yang akrab disapa Anna, mengungkapkan bahwa akumulasi stres dan anxiety yang tidak terkelola dengan baik dapat memicu perilaku impulsif. Sebagai solusinya, ia menyarankan teknik Progressive Muscle Relaxation (PMR). Metode ini dirancang khusus untuk merilis ketegangan fisik yang secara langsung berdampak pada ketenangan jiwa.
Mengenal Teknik PMR untuk Stabilitas Emosi
Dalam sebuah sesi edukasi, Anna menjelaskan bahwa PMR dilakukan dengan cara memfokuskan pelepasan ‘tension’ atau ketegangan pada kelompok otot tertentu. Gerakannya sederhana namun memiliki dampak besar bagi mereka yang sedang mengalami kondisi psikologis tidak stabil.
“Teknik ini bertujuan untuk merilis tension. Caranya bisa dengan mengepalkan tangan sekuat tenaga lalu melepaskannya, atau mengangkat bahu setinggi mungkin kemudian menjatuhkannya secara tiba-tiba. Ketegangan biasanya terkumpul di bagian-bagian tubuh tersebut, seperti wajah, lengan, hingga perut,” jelasnya saat ditemui di kawasan Cinere, Depok.
Olahraga sebagai Katarsis Mental
Di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang serba tidak menentu, menjaga kesehatan mental menjadi tantangan tersendiri. Anna menekankan bahwa memendam stres hanya akan membuat beban pikiran semakin menumpuk dan berisiko meledak pada titik tertentu.
Selain teknik relaksasi otot secara spesifik, aktivitas fisik atau olahraga juga memegang peranan krusial. Mengikuti tren olahraga yang sedang populer bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk pelampiasan emosi yang sehat. Dengan bergerak, hormon stres dalam tubuh dapat dinetralkan sehingga perasaan menjadi lebih tenang.
“Apakah dirilis lewat olahraga itu bagus? Tentu sangat bagus. Jika kita sadar sedang stres namun hanya memilih untuk berdiam diri atau tidur, justru hal itu bisa memperparah kondisi stres kita,” tambah Anna. Dengan mengombinasikan gerakan fisik dan manajemen pikiran, seseorang bisa mendapatkan tubuh yang bugar sekaligus mental yang lebih tangguh dalam menghadapi tekanan sehari-hari.