Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Gejala Kanker Serviks Stadium Lanjut: Kenali Tanda Bahaya Sebelum Terlambat

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 04 Jul 2026 20:34 WIB
Waspada Gejala Kanker Serviks Stadium Lanjut: Kenali Tanda Bahaya Sebelum Terlambat

Kabarmalam.com — Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan reproduksi, sebuah kenyataan pahit masih menghantui kaum hawa di Indonesia. Data menunjukkan bahwa setiap tahunnya, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdeteksi. Namun, yang lebih memprihatinkan adalah sekitar 70 persen dari kasus tersebut baru diketahui ketika sudah memasuki stadium lanjut. Keterlambatan diagnosa ini menjadi faktor utama tingginya angka mortalitas yang sebenarnya bisa ditekan melalui deteksi dini.

Kanker serviks, atau keganasan pada leher rahim, sering kali dijuluki sebagai silent killer. Penyakit ini berkembang secara perlahan dan sering kali tanpa gejala pada tahap awal. Keganasan ini bermula dari sel-sel di permukaan serviks yang tumbuh tak terkendali, kemudian menyebar ke rahim, jaringan sekitarnya, hingga organ panggul lainnya.

Sinyal Bahaya Tubuh pada Stadium Lanjut

Spesialis obstetri dan ginekologi, Prof. Dr. dr. Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp Onk, menjelaskan bahwa ketika kanker sudah mencapai stadium lanjut atau stadium 4, tubuh akan mengirimkan sinyal-sinyal yang sangat nyata namun mengerikan. Salah satu indikator yang paling sering diabaikan adalah perubahan pada keputihan.

Baca Juga  Kisah Gede Bagus: Dari Korban Perundungan Hingga Mendapat Pesan Haru 'Jangan Menyerah' dari Presiden Prabowo

“Keputihan yang normal biasanya bening. Namun, jika warnanya sudah berubah menjadi putih pekat, kuning, apalagi disertai bau yang menyengat, itu adalah alarm. Kondisi yang paling parah adalah jika keputihan sudah berbau busuk dan bercampur darah (berwarna merah). Itu adalah tanda kuat adanya keganasan,” ujar Prof. Yudi dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta Pusat.

Selain masalah keputihan, perdarahan yang terjadi usai berhubungan intim adalah gejala klasik yang patut diwaspadai. Prof. Yudi menambahkan, jika rasa nyeri muncul saat melakukan aktivitas seksual, besar kemungkinan sel kanker telah menyebar hingga ke luar area mulut rahim. Pada titik yang lebih kronis, pasien bisa mengalami komplikasi yang menurunkan kualitas hidup secara drastis, seperti keluarnya feses melalui vagina atau kebocoran saluran kemih.

“Jika kanker sudah menembus dinding antara rahim dan saluran pencernaan atau saluran kemih, pasien bisa mengalami kondisi di mana urine keluar terus-menerus (mengompol). Ini menandakan penyakit sudah berada pada stadium 4A atau 4B,” tambahnya dengan nada peringatan.

Akar Masalah: Virus HPV dan Faktor Risiko

Penyebab utama dari penyakit mematikan ini adalah Human Papillomavirus (HPV), yang umumnya ditularkan melalui kontak seksual. Dari sekian banyak jenis, HPV tipe 16 dan 18 adalah aktor utama di balik mayoritas kasus kanker serviks di seluruh dunia. Jika infeksi virus ini menetap dan tidak ditangani, sel-sel abnormal pada leher rahim akan bertransformasi menjadi kanker dalam hitungan tahun.

Baca Juga  Kisah Lydia Southam: Perjuangan Melawan Kanker Ovarium Stadium 4 Setelah 10 Kali Diabaikan Medis

Selain paparan virus, terdapat beberapa faktor risiko yang mempercepat perkembangan penyakit ini, di antaranya:

  • Kebiasaan Merokok: Zat kimia dalam rokok dapat melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV di area serviks.
  • Pola Perilaku Seksual: Memiliki banyak pasangan seksual atau memulai aktivitas seksual di usia dini meningkatkan risiko paparan virus secara signifikan.
  • Infeksi Menular Seksual (IMS): Riwayat penyakit seperti klamidia, gonore, atau HIV membuat sistem pertahanan serviks lebih rentan.
  • Sistem Imun yang Lemah: Kondisi kesehatan yang menurunkan kekebalan tubuh membuat virus HPV lebih mudah menetap dan merusak sel.
  • Paparan Obat DES: Riwayat penggunaan obat diethylstilbestrol oleh ibu saat hamil di masa lalu juga dikaitkan dengan risiko jenis kanker serviks tertentu pada keturunannya.
Baca Juga  Kemenangan Atas Kanker Serviks: Vaksin HPV Terbukti Hapus Risiko Kematian di Usia Muda

Deteksi Dini: Langkah Nyata Melawan Kanker

Meski terdengar menakutkan, Prof. Yudi menegaskan bahwa kanker serviks adalah jenis kanker yang paling mungkin untuk dicegah dan disembuhkan jika ditemukan sejak dini. “Kanker serviks tidak perlu ditakuti, tetapi harus diwaspadai. Kita memiliki teknologi dan metode untuk memberantasnya sebelum terlambat,” tegasnya.

Beberapa langkah deteksi dini yang direkomendasikan secara medis meliputi:

  1. Pap Smear: Mengambil sampel sel leher rahim untuk melihat adanya perubahan sel yang abnormal.
  2. Tes HPV DNA: Prosedur untuk mendeteksi keberadaan materi genetik virus HPV tipe risiko tinggi.
  3. Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat): Metode sederhana dengan mengoleskan asam asetat pada serviks untuk melihat adanya perubahan warna yang mencurigakan.
  4. Biopsi: Jika ditemukan indikasi kuat, pengambilan sampel jaringan dilakukan untuk memastikan diagnosa di laboratorium.

Menjaga kesehatan reproduksi bukan hanya soal kebersihan, melainkan tentang keberanian untuk melakukan skrining rutin. Jangan tunggu sampai gejala muncul, karena saat itu terjadi, perjuangan Anda mungkin sudah jauh lebih berat.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid