Kisah Gede Bagus: Dari Korban Perundungan Hingga Mendapat Pesan Haru ‘Jangan Menyerah’ dari Presiden Prabowo
Senin, 08 Jun 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah padatnya agenda kenegaraan, sebuah momen emosional pecah saat Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan seorang remaja tangguh bernama Gede Bagus Abimanyu. Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali ini, dengan suara yang bergetar namun mantap, membagikan sepenggal kisah getir masa lalunya yang pernah menjadi korban perundungan atau bullying saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Luka Masa Lalu yang Menjadi Bahan Bakar Perubahan
Gede Bagus bercerita bahwa sifatnya yang pendiam dan tidak terlalu suka bergaul di masa kecil sering kali disalahpahami dan menjadi sasaran ejekan rekan sejawatnya. Rasa sakit hati akibat cemoohan tersebut sempat membuatnya terpuruk dan kehilangan semangat untuk menuntut ilmu. Ia bahkan mengaku hampir putus asa dan sempat enggan melangkahkan kaki ke sekolah selama beberapa hari demi menghindari tekanan mental yang ia hadapi.
Namun, titik balik kehidupan Gede Bagus datang berkat dukungan luar biasa dari sang ibunda yang tak lelah memompa semangatnya. Keberaniannya kembali tumbuh saat ia memasuki bangku SRMP. Di lingkungan baru tersebut, ia tidak hanya belajar mata pelajaran umum, tetapi juga ditempa dengan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemandirian. Kini, Gede Bagus telah bermetamorfosis menjadi sosok yang berbeda—ia dipercaya mengemban amanah sebagai Duta Anti-Bullying di sekolahnya.
“Saya harap dengan gelar ini, saya dapat mencegah bullying di sekolah ini dan menjaga teman-teman saya agar tidak merasakan apa yang saya rasakan sebelumnya,” ungkap Gede Bagus dengan nada penuh harapan, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Pesan Bijak Presiden: Semakin Dihina, Semakin Sopan
Mendengar testimoni jujur dari sang siswa, Presiden Prabowo Subianto memberikan respons yang sangat humanis dan berkelas. Tanpa segan, orang nomor satu di Indonesia itu justru membagikan sisi kerentanannya sendiri untuk membesarkan hati Gede Bagus. Prabowo mengungkapkan bahwa hingga saat ini pun, ia tidak lepas dari serangan verbal dan ejekan pihak lain dalam dinamika politik tanah air.
“Gede Bagus, kamu dulu diejek, tidak apa-apa. Jangankan kamu, saya pun sering diejek, bahkan sampai sekarang sebagai Presiden pun tetap diejek. Tapi itu bukan masalah. Yang paling utama adalah hatimu harus tetap teguh,” tegas Prabowo di hadapan para siswa dengan sorot mata yang menguatkan.
Filosofi Ketangguhan dalam Menghadapi Kritik
Bagi Presiden, ejekan bukanlah alasan untuk tumbang, melainkan momentum untuk membuktikan kualitas diri yang sebenarnya. Ia menekankan pentingnya menjaga sopan santun di tengah serangan kebencian. Menurutnya, membalas hinaan dengan kebaikan adalah bentuk kemenangan yang hakiki dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalau kita diejek, balaslah dengan sopan santun. Semakin dihina, kamu harus semakin teguh, semakin berani, dan semakin sopan. Jangan pernah kecil hati,” tambahnya. Beliau meyakini bahwa anak-anak yang memiliki mental baja seperti Gede Bagus, yang mampu mengubah kesulitan menjadi semangat pantang menyerah, akan meraih kesuksesan besar di masa depan.
Prabowo menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa banyak tokoh besar di dunia lahir dari kondisi ekonomi yang sulit, namun mereka berhasil karena tidak pernah membiarkan keputusasaan menguasai jiwa mereka. Kisah Gede Bagus di Tabanan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan karakter adalah kunci utama untuk mencetak generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan mulia secara budi pekerti.