Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengenal ‘Green Whistle’: Rahasia di Balik Ketenangan Ismael Kone Saat Alami Cedera Patah Kaki

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 22 Jun 2026 11:34 WIB
Mengenal 'Green Whistle': Rahasia di Balik Ketenangan Ismael Kone Saat Alami Cedera Patah Kaki

Kabarmalam.com — Insiden dramatis yang menimpa gelandang andalan tim nasional Kanada, Ismael Kone, di tengah lapangan hijau baru-baru ini menyisakan tanda tanya besar bagi publik. Momen mengharukan sekaligus janggal terekam kamera saat Kone harus ditandu keluar akibat cedera patah kaki yang cukup parah. Namun, perhatian netizen justru teralihkan oleh sebuah benda mungil berbentuk tabung hijau yang terus ia hisap di tengah rasa sakit yang luar biasa.

Banyak yang bertanya-tanya, apakah benda misterius yang menyerupai peluit itu? Kabarmalam.com merangkum berbagai fakta menarik di balik alat medis yang kini tengah viral tersebut. Berdasarkan informasi resmi, benda itu dikenal di dunia medis dengan sebutan ‘Green Whistle’ atau peluit hijau.

Apa Itu Green Whistle?

Benda yang dihisap oleh Kone sebenarnya adalah Penthrox, sebuah alat inhaler yang berisi zat metoksifluran. Ini merupakan jenis obat pereda nyeri non-opioid yang bekerja sangat cepat. Uniknya, alat ini dirancang untuk digunakan secara mandiri oleh pasien (self-administered) untuk meredakan nyeri akut dalam jangka pendek sebelum penanganan medis lebih lanjut diberikan.

Baca Juga  Alarm Bahaya: Mengapa Gen-Z di Malaysia Mulai Alami Gejala Kerusakan Jantung?

Dr. Paul Winston, seorang pakar kedokteran fisik dan rehabilitasi ternama dari British Columbia, menjelaskan keunggulan utama dari alat ini. Menurutnya, Penthrox memberikan kontrol penuh kepada pasien atas rasa sakit yang mereka alami.

“Keuntungan utama Penthrox adalah faktor keamanannya; Anda tidak akan mengonsumsinya secara berlebihan. Jika pasien merasa sudah cukup tenang, mereka bisa berhenti menghirupnya. Namun jika nyeri kembali menyerang, mereka punya waktu hingga tim medis menyiapkan prosedur yang lebih kuat,” jelas dr. Winston kepada media lokal Kanada, TSN.

Sensasi ‘Gas Tertawa’ di Tengah Cedera

Menariknya, efek yang ditimbulkan oleh Green Whistle ini seringkali membuat pasien tampak tenang atau bahkan euforia di tengah kondisi medis yang mencekam. Dr. Winston menyebutkan bahwa efeknya serupa dengan ‘gas tertawa’ yang sering digunakan dalam prosedur kesehatan gigi.

Baca Juga  Transformasi PCOS Menjadi PMOS: Membedah Makna di Balik Perubahan Nama dan Dampaknya bagi Kesehatan Wanita

“Hanya butuh sekitar enam hingga dua belas tarikan napas dalam-dalam untuk merasakan efeknya. Sensasinya bisa bertahan hingga satu jam. Ini bertindak sebagai kombinasi antara anestesi dan analgesik. Pasien tidak akan kehilangan kesadaran, namun perhatian mereka teralihkan sepenuhnya dari sumber rasa sakit,” tambahnya.

Sejarah dan Keamanan Penthrox

Meski baru populer di Amerika Utara belakangan ini, Penthrox sebenarnya bukan barang baru. Alat ini telah menjadi standar medis di Australia dan Selandia Baru sejak era 1970-an. Kanada sendiri baru menyetujui penggunaannya secara luas pada tahun 2022 lalu. Hingga kini, tercatat lebih dari 5,5 juta dosis telah digunakan di seluruh dunia dengan laporan efek samping serius yang sangat minim.

Secara medis, penggunaan alat ini dibatasi untuk orang dewasa dalam rentang usia 18 hingga 65 tahun. Hal ini dilakukan guna memastikan efektivitas dan keamanan dosis bagi cedera olahraga maupun kondisi darurat lainnya.

Baca Juga  Kisah Inspiratif Charis Nicholas: Perjuangan Panjang Melawan Saraf Kejepit Akibat Cedera Basket yang Nyaris Melumpuhkan

Waspadai Efek Samping

Walaupun tergolong aman, penggunaan Green Whistle bukan tanpa risiko. Beberapa pengguna melaporkan adanya efek samping ringan setelah menghirup zat tersebut, di antaranya:

  • Pusing dan sakit kepala ringan.
  • Rasa kantuk yang mendalam.
  • Mual atau gangguan pencernaan sesaat.
  • Perubahan suasana hati secara tiba-tiba.
  • Gangguan koordinasi atau ingatan jangka pendek.

Meskipun sangat jarang terjadi, penggunaan dosis tinggi dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi hati atau ginjal. Oleh karena itu, penggunaan alat ini tetap harus di bawah pengawasan ketat tenaga medis profesional di lingkungan klinis atau lapangan pertandingan.

Kisah Ismael Kone dan peluit hijaunya kini menjadi edukasi baru bagi banyak orang bahwa kemajuan teknologi medis mampu memberikan kenyamanan, bahkan di saat-saat paling menyakitkan bagi seorang atlet profesional.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid