Kisah Haru Rolivia Virginia: Pejuang Gen Z Melawan Gagal Ginjal Stadium 5 Akibat Lupus
Sabtu, 20 Jun 2026 18:04 WIB
Kabarmalam.com — Di balik hiruk-pikuk Jakarta Pusat, terselip sebuah kisah ketangguhan seorang perempuan muda bernama Rolivia Virginia. Di usianya yang kini menginjak 27 tahun, ia harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang tidak mudah: berjuang melawan kondisi gagal ginjal stadium 5. Melalui media sosial, Rolivia membagikan perjalanan panjangnya yang tak hanya menyentuh hati, tetapi juga menjadi pengingat bagi banyak orang tentang betapa seriusnya dampak autoimun lupus jika tidak ditangani dengan tepat.
Perjalanan medis Rolivia dimulai jauh sebelum vonis gagal ginjal itu jatuh. Pada tahun 2017, saat masih aktif sebagai mahasiswa, ia didiagnosis menderita lupus. Penyakit seribu wajah ini perlahan mulai menyerang berbagai organ tubuhnya, mulai dari kulit hingga saraf otak. Namun, titik balik paling berat terjadi pada tahun 2020, tepat di usianya yang ke-21, saat dokter menyatakan bahwa fungsi ginjalnya telah mencapai stadium akhir.
Gejala Ekstrem dan Perjuangan di Ruang HCU
Diagnosis gagal ginjal stadium 5 tersebut tidak datang tiba-tiba. Rolivia sempat merasakan berbagai sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuhnya. Salah satu gejala yang paling mengkhawatirkan adalah pembengkakan masif di seluruh tubuh. Fenomena ini terjadi akibat penumpukan cairan yang tidak mampu lagi disaring oleh ginjalnya yang sudah rusak.
Ia mengisahkan bahwa sebelum memulai prosedur cuci darah, berat badannya sempat melonjak hingga 30 kilogram hanya karena timbunan cairan. Kondisi ini membawanya pada penderitaan fisik yang luar biasa, mulai dari rasa mual, gatal-gatal kronis, hingga sesak napas yang mengancam nyawa. “Aku bahkan sempat mengalami kejang dan harus masuk ruang HCU (High Care Unit),” kenangnya saat menceritakan masa-masa kritis tersebut.
Transformasi Gaya Hidup Demi Kelangsungan Hidup
Sejak saat itu, rutinitas cuci darah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Rolivia. Namun, alih-alih terpuruk, ia memilih untuk beradaptasi dan memperketat pola hidupnya. Ia menyadari bahwa kedisiplinan dalam menjaga asupan adalah kunci utama untuk mempertahankan kualitas hidupnya.
Kini, Rolivia sangat selektif dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Ia harus membatasi asupan cairan secara ketat dan menghindari makanan yang mengandung kalium tinggi. Buah-buahan yang dulu mungkin biasa ia konsumsi, seperti pisang, kelapa, dan belimbing, kini menjadi pantangan besar baginya. “Aku tetap mengonsumsi buah, tapi porsinya sangat sedikit dan benar-benar menghindari yang tinggi kalium karena itu cukup berisiko bagi kondisiku,” jelasnya.
Kisah Rolivia menjadi cermin bagi generasi muda lainnya untuk tidak meremehkan gejala kesehatan sekecil apa pun. Dengan mengadopsi gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan rutin, risiko penyakit degeneratif di usia muda diharapkan dapat ditekan. Semangat Rolivia dalam menyebarkan edukasi melalui pengalamannya kini menjadi inspirasi bagi banyak orang yang juga tengah berjuang dengan kondisi medis serupa.