Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kisah Haru Rolivia Virginia, Gen Z asal Jakarta Pusat yang Berjuang Lawan Gagal Ginjal Stadium Akhir

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 20 Jun 2026 14:34 WIB
Kisah Haru Rolivia Virginia, Gen Z asal Jakarta Pusat yang Berjuang Lawan Gagal Ginjal Stadium Akhir

Kabarmalam.com — Di tengah hiruk-pikuk metropolitan Jakarta Pusat, terselip sebuah kisah inspiratif sekaligus memilukan dari seorang perempuan muda bernama Rolivia Virginia. Di usianya yang baru menginjak 27 tahun, Rolivia harus menjalani realitas hidup yang tak biasa bagi rekan seusianya: bertarung melawan gagal ginjal kronis stadium 5 yang mengharuskannya rutin menjalani prosedur cuci darah.

Melalui akun media sosialnya, Rolivia membagikan perjalanan hidupnya bukan untuk mencari simpati, melainkan sebagai pengingat dan edukasi bagi generasi muda lainnya. Perjuangannya dimulai pada tahun 2020, saat ia baru berusia 21 tahun. Diagnosis medis saat itu bagaikan petir di siang bolong, menyatakan bahwa fungsi ginjalnya telah mencapai titik kritis stadium akhir.

Akar Masalah: Serangan Senyap Autoimun Lupus

Penyakit yang merenggut fungsi organ vital Rolivia ternyata berakar dari kondisi autoimun lupus yang telah ia idap sejak tahun 2017. “Jadi lupus aku itu terakhir menyerang ginjal sampai benar-benar turun fungsi. Aku lupusnya sekitar 2017 pas awal-awal aku kuliah,” kenang pemilik akun Instagram @thecinnamonroli tersebut saat berbincang dengan tim media.

Baca Juga  Sering Dianggap Kelelahan Biasa, Ternyata Perubahan di Pergelangan Kaki Ini Tanda Ginjal Rusak

Lupus, yang sering dijuluki sebagai ‘penyakit seribu wajah’, tidak hanya menyerang ginjalnya. Sebelum mencapai organ penyaring darah tersebut, penyakit ini telah lebih dulu menggerogoti saraf otak, paru-paru, hingga kesehatan kulitnya. Puncaknya terjadi ketika ginjalnya tak lagi mampu bekerja, memaksa Rolivia untuk masuk ke ruang operasi malam itu juga demi memasang akses cuci darah.

Transformasi Fisik dan Mental yang Menguras Energi

Dampak dari kegagalan fungsi ginjal tersebut sangat nyata terlihat secara fisik. Akibat penumpukan cairan yang tidak bisa dibuang oleh tubuh, berat badan Rolivia sempat melonjak drastis hingga 30 kilogram dalam waktu singkat. Secara mental, ia pun tak menampik adanya masa-masa sulit di mana ia merasa sangat terpuruk.

Baca Juga  Malaysia Darurat Gagal Ginjal: 28 Warga Terdiagnosis Setiap Hari, Beban Biaya Tembus Rp 11 Triliun

“Sampai sekarang juga masih kayak suka bertanya ‘kenapa gue?’, tapi ya sudah berusaha menerima saja sih,” tuturnya jujur. Namun, perlahan tapi pasti, Rolivia mulai berdamai dengan keadaan. Ia menyadari bahwa memelihara kesehatan mental dan menjaga perasaan tetap bahagia adalah kunci utama agar kondisi fisiknya tetap stabil di tengah rutinitas medis yang berat.

Bangkit dan Mensyukuri Setiap Detik Kehidupan

Kini, kondisi Rolivia sudah jauh lebih baik dibandingkan masa-masa awal diagnosis. Jika dulu ia hanya bisa menghabiskan waktu di kursi roda atau bolak-balik masuk rumah sakit dalam kondisi kritis, sekarang ia sudah mampu kembali beraktivitas secara normal meski ketergantungan pada mesin cuci darah tetap ada.

Baca Juga  Bahaya Tersembunyi di Balik Tren WFC: Awas Saraf Kejepit Mengintai Gen Z yang Hobi Nugas di Kafe

Ia berpesan kepada sesama pejuang kesehatan bahwa kunci untuk bertahan adalah rasa syukur. Walaupun tidak setiap hari ia merasa bahagia, namun dengan menerima keadaan, ia merasa hidupnya menjadi lebih bermakna. Kisah Rolivia menjadi pengingat penting mengenai urgensi menjaga kesehatan remaja dan meningkatkan kesadaran akan bahaya komplikasi penyakit autoimun yang bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid