Bukan Sekadar Pesta, 69% Gen Z Anggap Pernikahan Modern Hanya ‘Produksi’ Panggung
Sabtu, 20 Jun 2026 09:04 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah riuhnya gemerlap lampu pelaminan dan dekorasi mewah yang sering kita lihat di media sosial, sebuah fenomena menarik tengah terjadi di kalangan generasi muda. Bagi mayoritas Generasi Z, pesta pernikahan modern saat ini tampaknya tak lagi dipandang sebagai momen sakral yang intim, melainkan lebih menyerupai sebuah produksi panggung atau pertunjukan besar yang penuh dengan tekanan sosial.
Sebuah survei terbaru yang melibatkan 2.000 responden Gen Z berusia di atas 22 tahun mengungkapkan fakta mengejutkan. Sekitar 69% dari mereka merasa bahwa perayaan pernikahan zaman sekarang terasa kurang personal dan terlalu berfokus pada penampilan luar. Riset yang dilakukan oleh Talker Research untuk perusahaan fintech Affirm ini mempertegas bahwa Gen Z mulai mempertanyakan esensi di balik biaya selangit dan ekspektasi publik yang sering kali menyertai sebuah hari bahagia.
Satu Kata untuk Pernikahan Modern: ‘Mahal’
Menariknya, ketika para responden diminta untuk mendeskripsikan budaya pernikahan saat ini hanya dengan satu kata, jawaban yang paling mendominasi adalah ‘mahal’. Sebanyak 20% responden sepakat bahwa aspek finansial menjadi label utama bagi tren pernikahan masa kini. Hal ini menunjukkan bahwa beban ekonomi menjadi pertimbangan yang sangat serius bagi generasi yang lahir di era digital ini.
Claire Battista, seorang pakar tren Gen Z di Affirm, menjelaskan bahwa pergeseran paradigma ini merupakan bentuk kesadaran diri. “Budaya pernikahan telah berevolusi menjadi sebuah pertunjukan besar. Kini, Gen Z mulai berhenti sejenak dan bertanya: bagian mana yang benar-benar penting bagi kami, dan mana yang hanya kami lakukan karena merasa terpaksa oleh keadaan?” ujarnya seperti dikutip dari laporan New York Post.
Memilih Intimitas di Atas Kemewahan
Meskipun skeptis terhadap pesta besar, bukan berarti Gen Z menolak konsep pernikahan itu sendiri. Sebaliknya, mereka hanya ingin meredefinisi cara merayakannya. Sekitar 92% responden menyatakan kesiapan mereka untuk memangkas tradisi tertentu demi mengurangi tingkat stres dan biaya. Bahkan, 45% di antaranya sangat vokal dalam menolak pakem-pakem lama yang dianggap tidak relevan.
Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi preferensi gaya hidup Gen Z dalam merencanakan hari spesial mereka:
- Pesta Intim: 40% responden lebih menginginkan pernikahan sederhana yang dihadiri orang terdekat, jauh melampaui mereka yang masih memimpikan pesta tradisional besar (hanya 19%).
- Sentuhan Personal: 31% lebih menghargai detail unik yang mencerminkan kepribadian pasangan.
- Konsep DIY: 30% responden menyukai konsep hemat biaya atau melakukan dekorasi sendiri (Do It Yourself).
- Daftar Tamu Ringkas: 29% lebih memilih untuk membatasi jumlah undangan demi kenyamanan.
Prioritas Finansial untuk Masa Depan
Salah satu alasan terkuat di balik perubahan sikap ini adalah pandangan jangka panjang mengenai manajemen keuangan. Sekitar 75% Gen Z mengaku merasa tertekan oleh biaya tak terduga yang sebenarnya tidak ingin mereka keluarkan. Jika dana pernikahan yang besar tersebut bisa dialihkan, hampir separuh responden (46%) lebih memilih untuk menabung atau berinvestasi.
Selain investasi, sebanyak 38% responden berpendapat bahwa uang puluhan hingga ratusan juta rupiah akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk uang muka rumah atau membeli kendaraan pribadi. Hal ini membuktikan bahwa bagi Gen Z, membangun masa depan yang stabil jauh lebih krusial daripada sekadar pesta satu malam yang penuh dengan ‘settingan’ demi memuaskan ekspektasi orang lain.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan kedewasaan berpikir generasi muda dalam menentukan prioritas hidup. Pernikahan tetap menjadi momen penting, namun kejujuran emosional dan stabilitas finansial kini menempati kasta tertinggi di atas kemewahan artifisial.