Kisah Haru Tiffany Score: Perjuangan Hak Asuh Bayi Berbeda Ras Akibat Kelalaian Klinik IVF
Sabtu, 20 Jun 2026 10:34 WIB
Kabarmalam.com — Sebuah drama kehidupan yang menguras air mata sekaligus memicu perdebatan publik akhirnya menemui titik terang. Pasangan asal Amerika Serikat, Tiffany Score dan Steven Mills, yang sempat menjadi sorotan dunia karena melahirkan bayi dengan ras berbeda akibat kesalahan prosedur bayi tabung (IVF), kini telah mendapatkan kepastian hukum yang mereka dambakan atas status buah hati mereka.
Kisah ini bermula dari harapan besar yang pupus oleh kelalaian medis yang fatal. Tiffany dan Steven, pasangan berkulit putih, memutuskan untuk menjalani program kehamilan di Fertility Clinic of Orlando pada April 2025. Penantian panjang mereka seolah terjawab saat bayi cantik bernama Shea lahir ke dunia pada 11 Desember di tahun yang sama. Namun, di balik kebahagiaan persalinan itu, muncul tanda tanya besar saat mereka melihat karakteristik fisik Shea yang sangat berbeda dari kedua orang tuanya.
Ketidakpastian tersebut mendorong mereka melakukan serangkaian pemeriksaan medis dan tes DNA. Hasilnya bak petir di siang bolong: Shea sama sekali tidak memiliki hubungan genetik dengan Tiffany maupun Steven. Gadis kecil itu justru memiliki garis keturunan Asia Selatan sepenuhnya. Terungkapnya fakta bahwa embrio mereka tertukar di laboratorium klinik menjadi awal dari perjuangan panjang demi mempertahankan hak asuh anak yang telah mereka sayangi sejak dalam kandungan.
Keputusan Pengadilan dan Ikatan Batin yang Melampaui Genetika
Setelah berbulan-bulan terombang-ambing dalam ketidakpastian hukum dan emosional, pengadilan akhirnya memberikan putusan final yang melegakan. Tiffany Score dan Steven Mills secara resmi ditetapkan sebagai orang tua sah dan pemegang hak asuh permanen atas Shea. Yang lebih mengharukan, orang tua biologis Shea yang identitasnya terungkap pada April 2026, telah mencapai kesepakatan damai dan menyetujui agar bayi tersebut tetap dibesarkan oleh pasangan Score dan Mills.
Dalam pernyataan yang menyentuh hati, Tiffany menegaskan bahwa cinta mereka kepada Shea tidak pernah luntur sedikit pun meski fakta biologis berkata lain. “Satu hal yang tetap sama sejak hari pertama putri kami lahir: kami akan selalu mencintainya dan menjadi orang tuanya selamanya,” ungkapnya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa peran sebagai orang tua tidak hanya ditentukan oleh DNA, melainkan oleh kasih sayang dan dedikasi yang tulus.
Menuntut Keadilan atas Malpraktik Klinik Fertilitas
Meski persoalan hak asuh telah selesai, pasangan ini tidak membiarkan pihak yang bertanggung jawab lepas tangan begitu saja. Mereka kini tengah melayangkan gugatan hukum terhadap IVF Life Inc. serta pimpinannya, Dr. Milton McNichol, atas dugaan kelalaian medis yang sangat fatal. Gugatan ini tidak hanya menuntut ganti rugi, tetapi juga menuntut transparansi mengenai keberadaan embrio biologis Tiffany dan Steven yang hingga kini nasibnya masih menjadi misteri di dalam klinik fertilitas tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi dunia medis internasional mengenai pentingnya standar keamanan dan akurasi dalam prosedur reproduksi berbantu, agar tragedi serupa yang menghancurkan tatanan biologis sebuah keluarga tidak terulang kembali di masa depan.