Kisah Pilu Anya Taylor-Joy: Pernah Dikucilkan dan Disebut ‘Tak Cantik’ Sebelum Menjadi Ikon Hollywood
Jumat, 19 Jun 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik sorot lampu runway dan kesuksesan besar di layar perak, Anya Taylor-Joy ternyata menyimpan memori masa kecil yang cukup menyesakkan. Aktris yang kini menjadi muse bagi berbagai rumah mode mewah dunia ini baru saja berbagi kisah tentang bagaimana dirinya pernah merasa menjadi orang asing yang tidak diinginkan karena penampilan fisiknya yang dianggap berbeda.
Nama Anya Taylor-Joy mungkin sudah identik dengan karakter-karakter kuat dan visual yang unik. Namun, dalam sebuah wawancara mendalam bersama The Hollywood Reporter, bintang berusia 30 tahun ini mengenang kembali masa-masa sulit saat ia baru saja pindah dari Buenos Aires, Argentina, ke London, Inggris, pada usia enam tahun. Transisi tersebut bukanlah perkara mudah bagi seorang anak kecil yang harus beradaptasi dengan budaya yang sangat berbeda di lingkungan barunya.
Gegar Budaya dan Penolakan dari Teman Sebaya
Anya mengisahkan bahwa rasa keterasingannya bermula saat ia menempuh pendidikan di Queen’s Gate School, sebuah institusi swasta bergengsi di kawasan South Kensington. Sebagai anak yang tumbuh besar di Amerika Selatan, Anya membawa kebiasaan hangat seperti mencium pipi teman-temannya sebagai bentuk sapaan akrab. Sayangnya, tindakan spontan yang tulus ini justru menjadi pemicu perundungan.
Alih-alih disambut baik, ia justru dijauhi oleh rekan-rekan sekelasnya karena dianggap aneh. Kejadian tersebut menjadi titik awal ia menerima berbagai komentar negatif mengenai bentuk wajah dan penampilannya secara keseluruhan. “Saya merasa sangat terasing,” ungkap pemeran utama The Queen’s Gambit tersebut. Teman-temannya bahkan tak segan melontarkan kalimat menyakitkan yang menyebut bahwa ia tidak memiliki paras yang menarik.
Bangkit dari Perundungan Menuju Puncak Karier
Meski sempat mengalami fase perundungan yang mengguncang kepercayaan dirinya, Anya berhasil membuktikan bahwa opini orang lain bukanlah penentu takdirnya. Perbedaan fisik yang dulunya dihina justru menjadi aset berharga yang membuatnya menonjol di industri hiburan global. Keunikan wajahnya kini justru dipuja oleh para sutradara ternama dan merek kecantikan kelas dunia.
Karier Anya terus melesat bak meteor. Setelah sukses memukau penonton lewat film horor psikologis The Witch dan aksi intens di Split, ia kian memantapkan posisinya melalui peran-peran ikonik dalam film blockbuster seperti Dune: Part Two serta Furiosa: A Mad Max Saga. Kesuksesannya menjadi bukti nyata bahwa standar kecantikan konvensional bukanlah satu-satunya jalan menuju puncak prestasi.
Bagi para penggemarnya, perjalanan hidup Anya adalah sebuah narasi tentang ketangguhan. Dalam waktu dekat, ia dijadwalkan akan kembali menyapa pemirsa melalui proyek serial terbaru di Apple TV+ yang bertajuk Lucky. Sebuah tajuk yang seolah merangkum betapa beruntungnya dunia perfilman modern memiliki talenta unik dengan karakter sekuat Anya Taylor-Joy.